IPM Mengajak Anak Muda Peduli Perdamaian

JAKARTA (IndependensI.com) – Ikatan Pelajar Muhammadiyah mengajak anak muda peduli terhadap perdamaian, persaudaraan antarmanusia, menolak berbagai macam bentuk kekerasan, dan perang yang hingga kini masih terus terjadi.

“Kampanye perdamaian ini dilandasi semangat memperjuangkan hak asasi manusia yang terenggut akibat peperangan,” kata Ketua Advokasi PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Muhammad Irsyad di Jakarta, Minggu (28/1/2018).

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) Velandani Prakoso mengatakan kerja sama antarorganisasi dapat memperkuat perjuangan untuk menyuarakan perdamaian di kalangan anak-anak muda. “Isu perdamaian dan antikekerasan adalah isu yang sangat luas. Kolaborasi dan kerja sama dapat memperkuat daya tahan untuk berjuang secara berkelanjutan,” kata Velandani.

Oleh karena itu, PP IPM bersama 500 kader pelajar se-Jabodetabek menggelar aksi bertajuk “The Harmony and Peace Walk: Students Stand for Peace” di Bundaran Hotel Indonesia dan Jalan Jenderal Sudirman Jakarta pada Minggu (28/1/2018) pagi.

Dalam aksi tersebut PP IPM bekerja sama dengan International Peace Youth Group (IPYG), International Women’s Peace Group (IWPC), dan Heavenly Culture, World Peace (HWPL).

“Selama ini, perang yang berkecamuk di sejumlah negara telah memporak-porandakkan kehidupan masyarakat. Para pelajar tidak bisa mendapatkan hak pendidikannya karena fasilitas untuk belajar hancur,” tutur Irsyad.

Selain tidak mendapatkan hak-haknya untuk mendapatkan pendidikan, para pelajar di wilayah yang terlibat konflik peperangan harus bertaruh nyawa karena konta senjata bisa terjadi kapan saja.

“Apa pun persoalannya, perang bukan solusi. Sejarah membuktikan bahwa perang hanya menambah penderitaan manusia. Perang menyuburkan kebencian dan rasa takut yang berlarut-larut,” katanya.

Irsyad mengatakan selama ini IPM selalu memberi perhatian kepada berbagai isu yang menyangkut kepentingan pelajar seperti kasus perundungan, tawuran, pelecehan seksual di sekolah, narkoba hingga ketimpangan akses pendidikan.