Kain tenun khas Papua. (Dokumentasi)

Tenun Teman Perjalanan

JAKARTA (IndependensI.com) – Tenun Teman Perjalanan, itulah judul pameran yang mengundang tanda tanya saat para pengunjung menyaksikan puluhan helai kain tenun yang dipajang di Semesta’s Gallery & Lounge, yang beralamat di Jalan Taman Sari I/77 Kavling 6, Karang Tengah Raya Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Yang menarik dari pameran tersebut, selain terdapat tenun yang berasal dari seluruh Indonesia, juga terdapat tenun yang berasal dari beberapa negara, seperti Bhutan, Myanmar, Vietnam, Tibet, Maroko, dan Peru.

Kain tenun khas Peru

Motif dan corak kain tenun yang dipamerkan sangat beragam dan menggambarkan lokalitas budaya dari masing-masing negara. Jika tenun lokal lebih didominasi warna coklat tua maka tenun dari negara-negara seperti tersebut di atas benar-benar full color.

Sehingga, siapa pun yang menyaksikan pameran tersebut akan betah duduk atau berdiri berlama-lama memandang helai demi helai kain tenun yang dipamerkan.

Ria Pasaman mengenakan busana yang terbuat dari kain tenun Indonesia.

Uniknya, puluhan helai kain tenun yang dipamerkan tersebut hampir sebagian besar adalah koleksi pribadi Ria Pasaman, yang telah dikumpulkannya sejak beberapa puluh tahun. Bahkan, wanita energik kelahiran Palembang 10 Maret 1964, itu, mengoleksi kain songket khas Palembang yang diwariskan oleh almarhum ibunya.

“Kain (songket) ini umurnya sama dengan umur saya,” katanya sambil menunjukkan kain peninggalan ibundanya tersebut kepada IndependensI.com.

Kain tenun khas Sumba

Ria menegaskan bahwa dia bukanlah pakar dalam masalah pertenunan. “Saya hanyalah seorang pecinta seni khususnya tenun,” tukasnya seraya menambahkan bahwa dari yang awalnya hanya sekadar mencintai akhirnya dia menjadi seorang yang sangat apresiatif terhadap hasil karya para penenun kain tradisional.

Oleh karena itu, sebagai traveller yang  sering melakukan destinasi pariwisata – baik di dalam maupun di luar negeri – di setiap daerah, kota, negara dan distrik yang dikunjunginya dia selalu membeli kain tenun hasil kerajinan masyarakat setempat.

Bahkan dalam setiap kesempatan terutama saat berkunjung  ke daerah tujuan wisata di luar negeri, Ria sering tampil mengenakan busana yang semuanya terbuat dari kain tenun hand made para penenun di Tanah Air.

Karena  itulah maka pameran yang  berlangsung selama sepekan (22-28 Februari 2018) bertajuk “Tenun Teman Perjalanan”.

Melalui produk hand made yang dikenakannya saat dia berkunjung ke daerah tujuan wisata di luar negeri, “terjadilah dialog budaya yang tak ternilai harganya,” tukas Ria.

“Mereka sungguh sangat menghargai kain tenun buatan tangan-tangan terampil di Indonesia yang saya kenakan, sebaliknya saya pun sangat apresiatif dengan hasil karya para penenun di negara yang saya kunjungi,” tambahnya.

Sebagai pecinta seni khususnya tenun, beberapa helai kain songket khas Palembang miliknya sejak awal Februari lalu dipinjam oleh seorang  warga negara Amerika Serikat yang membuka jasa kuliner di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta. Beberapa helai koleksi kain songket bermotif bunga milik Ria menjadi bagian dari sepuluh kolektor kain songket yang koleksinya dipinjam oleh pemilik restoran tersebut.

Ketika disinggung tentang bagaimana Ria merawat kain tenun koleksinya, perempuan yang telah dikaruniai tiga orang anak tersebut mengungkapkan bahwa perawatan yang dilakukannya.

“Biasa biasa saja. Yang penting sebulan atau paling lama dua bulan sekali kain-kain tersebut harus dikeluarkan dari lemari kemudian kita jemur untuk menghilangkan debu yang melekat di sela-sela seratnya. Tidak berat kok dan biayanya juga tidak mahal. Tapi, memang, kita harus telaten membolak-balik agar sengatan matahari merata dari ujung ke ujung,” kata Ria.

Menjawab pertanyaan, bagaimana kalau ada pengunjung yang ingin membeli kain tenun koleksinya, dengan tegas Ria mengatakan bahwa koleksi kain tenun yang dipamerkan tidak untuk dijual. Melalui pameran tersebut Ria justru ingin berbagi cerita kepada setiap pengunjung, bagaimana saat dia mendapatkan kain tenun khas Peru dan yang lainnya, sekaligus bagaimana kita mengapresiasi karya bangsa sendiri dan bangsa lain yang secara turun temurun bergelut menekuni pekerjaan sebagai penenun tradisional.

Namun, untuk tidak mengecewakan para pengunjung yang berminat ingin membeli, selama pameran berlangsung digelar pula bazaar kain tenun khas NTT.

“Tapi, kalau koleksi pribadi saya… Not For Sale!” ujar Ria sambil tersenyum lebar mengakhiri obrolannya dengan IndependensI.com. (Toto Prawoto)