Yoyik Lembayung (kiri) dan Lukman, SH (Dokumentasi)

Penyair Itu Yoyik Lembayung Namanya

JAKARTA (IndependensI.com) – Kepenyairan Yoyik Lembayung sangat terasa saat dia bersama Ags. Arya Dipayana (alm) dan Lukman SH, yang saat itu masih mengenakan seragam SMAN 6 – Jakarta Selatan, meluncurkan antologi puisi Tiga Cermin Kecil yang menjadi sisipan di Majalah Remaja Hai yang Pemred-nya dijabat oleh Arswendo Atmowiloto.

Yoyik, penyair kelahiran Jakarta 9 April 1961, yang secara jujur mengaku tidak banyak mengenyam pendidikan formal — untuk tidak menyebut bahwa dia otodidak — memang lebih banyak merasakan, mengamati situasi keseniman yang mewarnai kehidupan sehari-hari di Gelanggang Remaja Jakarta Selatan (Bulungan) pada era 1980-an.

Gelanggang Bulungan — demikian kelaziman ucap yang terjadi di kemudian hari — yang berlokasi di kawasan elite Kebayoran Baru tak ubahnya memang seperti setangkai bunga yang sedang mekar sehingga banyak “kumbang” dari berbagai daerah datang menyambanginya.

Dialog berlangsung dengan audience saat Yoyik dan Lukman bersama-sama meluncurkan karya mereka pada Desember tahun lalu di Auditorium Gelanggang Bulungan.

“Kumbang-kumbang” itu adalah anak-anak muda yang baru selesai menempuh pendidikan SLTA-nya yang ingin mengadu nasib di Jakarta, dengan berbekal talenta di bidang seni. Dan, tidak sedikit di antara mereka yang sudah dikenal sebagai penulis muda di daerahnya.

Berkat “kumbang-kumbang” itulah Gelanggang Remaja Bulungan menjadi terkenal; Apalagi setelah Ratu Elizabeth berkunjung ke Indonesia dan salah satu agendanya adalah melihat secara langsung kegiatan kaum muda di bidang olahraga dan seni budaya di Ibukota Republik Indonesia (Jakarta), nama Gelanggang Bulungan menjadi terkenal hingga ke manca negara.

Yoyik Lembayung memang bukan salah satu dari “kumbang” yang datang dari luar Jakarta. Yoyik adalah keturunan kaum urban dari Jawa Tengah, yang lahir dan besar di Jakarta.

Tapi, sebagai anak muda, dia sungguh sangat bersyukur, karena keberadaan Gelanggang Bulungan (yang dibangun pada era Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, sebagai pusat kegiatan remaja di bidang olahraga dan seni budaya) menjadi tempat ideal untuk mengembangkan talentanya di bidang seni.

Betul bahwa di Gelanggang Bulungan tidak ada guru yang secara langsung membimbingnya di bidang seni tulis-menulis — karena tempat tersebut tak ubahnya seperti “terminal” tempat di mana setiap orang bisa datang dan pergi sesuka hati; Akan tetapi justru dalam situasi dan kondisi seperti itulah banyak sekali persoalan hidup yang luput dari pengamatan.

Hal itulah yang menempa kehidupan Yoyik sehingga dia *menjadi* seperti apa adanya saat ini. “Saya lebih banyak belajar pada alam dan kehidupan jalanan.” Begitu pengakuan Yoyik Lembayung sebagaimana yang tertulis dalam biografi singkatnya yang termuat di buku kumpulan puisinya.

Dan, *kehidupan jalanan* yang dilakoninya membuat Yoyik sangat militan, tangguh dan … “tahan banting”. Paling tidak, saat orang-orang seusianya merasa termarjinalisasi dan gamang dalam memaknai kehidupan hari tua, Yoyik Lembayung — ibarat sumur — airnya seolah tak ada habis-habisnya meskipun ditimba setiap hari baik pada musim hujan maupun kemarau.

Salah satu bukti bahwa Yoyik tetap survival dalam memaknai hidup dan kehidupan tercermin dari 90 judul puisi yang termuat dalam kumpulan puisi bertajuk *Sajak Orang Biasa*. Hal tersebut tersirat dalam salah satu karyayanya yang berjudul *Sajak Orang Biasa II*
Melangkah di tepian
mengulang-ulang jalan
di kaki yang hanya berangkat atau pulang

Sepanjang hayat cuma menuntut
garis hidup yang bertajuk

Akankah muasal akan terus jadi rujukan
Saat bayang-bayang lebihi tinggi badan
“Benih akan tumbuh dan berkembang
siapa mampu menerka jalan kehidupan”

Tak hanya langkah
doapun selalu meruah

Betul,Bung,hidup harus tetap semangat dan jangan menyerah.
Selamat Hari Puisi Indonesia 26 Juli 2018. (Toto Prawoto)