Irjen Pol. Muhammad Iqbal berfoto bersama dalam kesempatan mengunjungi kompetisi siber di panersn Indo Security 2019 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, beberapa eaktu lalu. (Independensi.com/Tyo Pribadi)

Kompetisi Siber Berikan Wadah untuk Hacker 

JAKARTA (IndependensI.com) -Perkembangan teknologi informasi yang pesat saat ini, memunculkan orang-orang yang memiliki kemampuan maksimal untuk menguasai dan memanfaatkannya. Dunia cyber (siber) melahirkan individu-individu yang piawai dalam memanfaatkannya, baik secara positif maupun negatif. Dalam upaya meminimalisir kegiatan negatif pemanfaatan siber oleh para peretas  (hacker), maka digelarlah kompetisi-kompetisi siber, salah satunya adalah Cyber Competition bersamaan dengan berlangsungnya pameran Indo Security di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Kamis (18/7/2019).
Peretas atau hacker ini adalah orang yang mempelajari, menganalisis, memodifikasi, serta menerobos masuk ke dalam sistem komputer dan jaringan komputer, baik untuk keuntungan pribadi atau dimotivasi oleh tantangan. Kompetisi siber di pameran Indo Security adalah kerjasama antara Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FTII) yang difasilitasi PT Napindo Media Ashtama selaku promotor pameran. Kompetisi ini merupakan ajang lomba keamanan siber yang secara khusus fokus pada aspek operasional pengelolaan dan perlindungan layanan dan infrastruktur sistem informasi.
“Kompetisi ini menjadi wadah positif bagi para peminat dunia siber di Tanah Air. Sebab, anak-anak muda ini sangat pintar dan punya potensi dalam hal security sistem. Jadi bila tidak diarahkan, bisa menjadi tidak terkendali. Mereka ini rata-rata melakukan kegiatan meretas hanya untuk eksistensi,” ujar Bisyron Wahyudi selaku panpel. Dia menambahkan, pihak terkait dalam hal ini kepolisian dan institusi memerlukan orang-orang terbaik di bidang ini. Melalui kompetisi siber yang ada, dipastikan bisa menemukan banyak individu yang paham dan memiliki kemampuan terbaik di bidang ini.
Lebih jauh Bisyron menambahkan, profil dari peserta kebanyakan memiliki kelemahan dalam memperbaiki sistem server tetapi menyerang sistem. “Mereka lebih jago menyerang sistem ketimbang memperbaiki. Metode hacking terbaru sekalipun sudah dikuasai,” kata peneliti dari lembaga swadaya masyarakat Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure/Coordination Center (Id-SRTII) ini. Bisyron juga menambahkan, apabila mereka berbekal kemampuan hacking saja tentunya tidak berguna untuk bekerja  sebagai seorang security system di perusahaan.
Juara dari kompetisi ini adalah tim Yang Nama Timnya Nggak Bisa Dibaca dari kota Solo, Jawa Tengah. Kemudian peringkat kedua ditempati tim Rev.id_ctf dan peringkat ketiga diisi tim Here We Go Again. Juara dari kompetisi ini mendapat kemudahan masuk ke babak final kompetisi bergengsi Cyber Jawara bulan September 2019. Cyber Jawara adalah kompetisi keamanan siber nasional dengan metode online dan offline. Di ajang ini akan menampilkan permainan Computer Network Defence, Penetration Test, Capture The Flag dan Forensic Analysis.
Arahan Positif
Sementara itu Managing Director PT Napindo Media Ashtama, Arya Seta Wiradipoera mengatakan, pameran Indo Security ini membuka kesempatan bagi para pemangku kepentingan untuk membangun hubungan dengan para profesional industri Teknologi Informasi. Sedangkan mengomentari Cyber Competition, Arya mengatakan, kompetisi menghasilkan para juara yang memiliki kemampuan meretas sistem pengamanan terbaik. Hanya saja harus disalurkan kepada sesuatu yang bersifat positif.
Melalui kompetisi ini bisa menjadi wadah bagi para profesional di bidang siber untuk saling berinteraksi dan membahas berbagai tantangan keamanan dan operasional Teknologi Informasi dan Siber di Tanah Air. “Diharapkan, kompetisi ini menjadi wadah bagi individu yang punya keahlian dalam bidang siber. Dan terlebih dari itu, Polri bisa memberikan kesempatan bagi mereka untuk turut menjaga keamanan dan kesatuan NKRI melalui dunia siber,” imbuh Arya.