Hamim Ilyas

Islam Bukan Agama Kekerasan

Loading

SOLO (IndependensI.com) – Islam rahmatan lil alamin itu merupakan pandangan fundamental tentang agama Islam yang berarti agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta. Dengan pandangan ini, seharusnya paham kekerasan seperti radikalisme dan terorisme itu tidak perlu ada.

“Nggak perlu ada. Karena semuanya berlomba-lomba untuk mewujudkan kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan. Kalau kita baca, penjabaran Islam rahmatan lil alamin dalam Alquran itu sangat jelas sekali dimana ketika negara itu yang diidealkan adalah baladan aminan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur al Balad al amin. Baladan aminan artinya negara yang aman dan damai,” ujar Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Dr H Hamim Ilyas, MAg di Solo, Selasa (3/2/2019).

Ia menjelaskan, ketika Alquran mengidealkan negara dengan baladan aminan, sebetulnya ada pelajaran, umat Islam yaitu ketika mengidealkan negara yang dapat diwujudkan bukan negara utopia (khayalan). Lalu ungkapan yang kedua, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur yaitu ungkapan sejarah, yang didalamnya ada idea of progress, ada gagasan tentang kemajuan, sehingga ada kemajuan dalam negara yang thayyibah tadi.

Menurut Hamim, negara thayyibah itu tidak hanya sekedar negara yang adil dan makmur. “Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, baldatun thayyibatun ini merujuk ke negeri Saba, negara tidak ada lalat dan tidak ada nyamuk.  Sehingga baldatun thayyibatun itu negara yang tidak ada lalat dan tidak ada nyamuknya. Itu berarti negara yang berwawasan lingkungan hidup. Yang ini ketika ungkapannya itu sejarah, maka berarti harus ada kemajuan dalam mewujudkan keadilan, kemakmuran dan wawasan lingkungan hidup tadi itu,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, bahwa kebutuhan manusia itu adalah hidup baik, yang di dalam Alquran disebut dengan hayah thayyibah. Yang mana hayah thayyibah itu dalam  Surat An-Nahl Ayat 97 hanya bisa diperoleh dengan iman dan amal saleh.

Kemudian dalam lima ayat yang lain, iman dan amal saleh ini perolehannya adalah lahum ajruhum ‘inda rabbihim, wa lā khaufun ‘alaihim wa lā hum yaḥzanụn. Lahum ajruhum ‘inda rabbihim itu artinya sejahtera yang sejahtera-sejahteranya.  Kemudian wa lā khaufun ‘alaihim itu damai yang sedamai-damainya, dan  wa lā hum yaḥzanụn yaitu bahagia yang sebahagia-bahagianya.

“Sehingga Islam rahmatan lil alamin ini adalah Islam yang diwahyukan Allah, kemudian didakwahkan oleh Nabi Muhammad SAW untuk mewujudkan hidup baik dengan tiga indikator tadi itu.  sejahtera yang sejahtera-sejahteranya, damai yang sedamai-damainya, dan bahagia yang sebahagia-bahagianya bagi Al Alamin, bagi semua makhluk Tuhan. Jadi tidak hanya bagi manusia saja, juga tidak umat Islam saja, apalagi buat segolongan saja, tapi seluruh alam semesta,” tutur Hamim.

Intinya, jelas pengajar Magister Studi Islam (MSI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Islam rahmatan lil alamin ini sangat relevan dengan Pancasila yang berisi nilai-nilai dasar yang ada dalam Islam.

“Dalam Islam itu ada ketuhanan, ada kemanusiaan, ada persatuan, musyawarah juga ada, keadilan apa lagi,” tukas Hamim.

Bahkan, lanjutnya, untuk yang keadilan, sebenarnya Alquran membicarakannya amat sangat luar biasa. Dalam Al-Maidah ayat 8, Alquran menyatakan ‘Lā yajrimannakum syana`ānu qaumin ‘alā allā ta’dilụ,’ artinya, kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Itu berarti di situ diajarkan, kesadaran moral, bahwa orang Islam itu harus memiliki kesadaran moral yang otonom.” Jelasnya.

Kesadaran moral yang otonom itu berarti berorientasi kepada nilai-nilai universal, kebenaran, keadilan, kemanusiaan, ketuhanan. Dengan kesadaran moral itu, tentu harus bisa menegakkan keadilan untuk seluruh warga negara Indonesia dalam semua bidang kehidupan,” pungkas Hamim.