Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto

INSA Bantah Dituduh Penyeban Tingginya Biaya Logistik

JAKARTA (Independensi.com) Perusahaan pelayaran yang tergabung dalam Indonesian National Shipowners Association (INSA) menolak dituding sebagai penyebab tingginya biaya logistik. Karena biaya logistik yang diterima perusahaan pelayaran hanya 19% dari total biaya pengiriman.

Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto di kantornya Kamis (10/10) menjelaskan, penghitungan biaya logistik adalah dari gudang pengirim hingga gudang penerima. Dalam proses pendistribusian ada biaya-biaya lain seperti pajak, bea cuka, biaya di pelabuhan dan transportasi darat atau udara.

Sebagai contoh gudang- gudang pemilik barang biasanya tersebar di banyak tempat. Untuk diantar ke daerah-daerah antar pulau maka untuk sampai pelabuhan menggunakan angkutan darat dalam bentuk kontainer.

Begitu sampai di pelabuhan baru barang dalam kontainer itu dikirim menggunakan kapal laut milik anggota INSA. Tapi sampai di pelabuhan tujuan kembali diangkut dengan menggunakan angkutan darat.

“Kami sudah menghitung, biaya angkutan laut dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain hanya 19%. Sisanya untuk angkutan darat dan biaya-biaya lainnya. Semakin jauh ke daratan semakin kecil biaya persentase angkutan lautnya,” kata Carmelita.

jadi, lanjut Carmelita tidak benar adanya tudingan jika mahalnya biaya logistik disebabkan oleh tingginya biaya angkutan laut. Karena biaya angkutan lait tidak lebih dari 20%.

Dalam kesemlatan tersebut Carmelita juga menyebutkan salah satu penyebab industri pelayaran nasional sulit bersaing dengan perusahaan pelayaran asing adalah akibat bubga pinjaman dalam negeri yang tidak kompetitif.

Perusahaan pelayaran asing mendapat pinjaman dengan bunga kredit antara 5-6% dengan jangka waktu pinjaman 10 sampai 12 tahun. Tapi bank-bank di Indonesia bunga pinjamanannya diatas 10 tahun dengan jangka waktu pengembalian hanya 5 sampai 7 tahun.

Repotnya lagi yang dijadikan jaminan bukan hanya kapal yang di beli tapi juga aset perusahaan lainnya seperti tanah dan bangunan. (hpr)