Kantor PDAM Tirta Bhagasasi Bekasi di Kecamatan Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi. (jonder)

PDAM Tirta Bhagasasi Bekasi Menjadi Rujukan Studi Banding Bidang Kerjasama Badan Usaha Swasta

BEKASI (IndependensI.com)- Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bhagasasi Bekasi, kini menjadi rujukan beberpa PDAM terkait pelaksanaan kerjasama dengan badan usaha swasta (BUS) dalam  peningkatan pelayanan air bersih.

Pada Kamis (1/10/2020), dua PDAM di Jawa Barat melakukan study banding ke PDAM Tirta Bhagasasi Bekasi. Keduanya yakni, PDAM Tirta Asasta Kota Depok, dan PDAM Tirta Rangga Kabupaten Subang. Kedua PDAM ini ingin mengetahui terkait keuntungan dan  pola kerjasama dengan pihak swata.

Bahkan,  sebelumnya, banyak PDAM seperti dari Badung Bali, Cilacap Jawa Jawa Tengah, PDAM Nias Sumatera Utara dan lainnya  yang telah belajar dari kesuksesan PDAM Tirta Bhagasasi Bekasi terkait kesuksesan kerja sama dengan pihak swasta, dalam hal pengelolaan air bersih.

“Kita ingin belajar ke PDAM Tirta Bhagasasi Bekasi terkait kerja sama dengan pihak ketiga. Bahkan di PDAM sini, sudah ada bagian khusus yang mengurusi kerja sama. Ada Direktur Usaha dan Kabag Kerjasama yang dalam tugasnya salah satu  menjadi concern ke depan, bagaimana kerja sama ini memang harus dibangun,” kata Direktur Utama PDAM Tirta Asasta Kota Depok, Muhammad Olik.

Olik menjelaskan, ke depannya banyak PDAM yang membuka kerja sama dengan pihak ketiga atau swasta dalam pengelolaan air bersih karena keterbatasan pembiayaan APBD dari pemerintah setempat.

“Terus terang, kami ingin belajar bagaimana kerja sama ini dibuat sehingga dapat menguntungkan semua pihak dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” tuturnya.

PDAM Tirta Asasta Kota Bekasi dibentuk pada 2013 lalu. Baru tujuh tahun beroperasi, kini telah memiliki pelanggan sebanyak 65.000 SL.

“Cakupan pelayanan kami masih sangat jauh dari target, baru sekitar 16 persen. Tetapi kami tetap optimistis ke depannya,” tutur Olik.

Saling Menguntungkan

Dirut PDAM Tirta Bhagasasi Bekasi Usep Rahman Salim menjelaskan, kerjasama badan usaha wasta dilakukan, sesuai Peraturan Pemerintah (PP) nomor 122 tahun 2015 tentang Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), dan Peraturan Presiden (Perpres) nomor 38 tahun 2018 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam penyediaan infrastruktur.

Usep mengatakan sejak 1994, pihaknya sudah mulai melakukan kerja sama dengan pihak ketiga  PT Graha Buana Cikarang yang mengelola air bersih di Kawasan Jababeka Kabupaten Bekasi. Kemudian dengan PT Moya Bekasi Jaya  tahun 2010 dan  dilakukan penandatanganan kerja sama pada 2012.

“Proses perjalanan kerja sama itu, memang luar biasa lamanya. Melibatkan berbagai pihak seperti Kejaksaan sebagai pengacara negara, lalu ditindaklanjuti dengan SK Direksi dan sebagainya,” ungkap Usep.

Sistem kerjasama ini pada umumnya dengan build-operate-transfer (BOT) atau bangun guna serah. Artinya, investasi dan yang membangun WTP pihak swasta, dan dalam masa kerja yang disepakati, semua sarana itu menjadi milik PDAM.

Memasuki usia ke-39 tahun PDAM Tirta Bhagasasi Bekasi  pada 29 September 2020, ujarnya, telah menjalin kerja sama dengan empat badan usaha swasta   guna memperbaiki kualitas pelayanan air bersih kepada masyarakat.  Bentuknya pada umumnya sistem  BOT.

Wabup Subang

Hal sama disampaikan Usep kepada rombongan PDAM Subang yang datang kemudian.

Dari Subang, turut serta Wakil Bupati Agus Maskur Rosadi, Ketua DPRD Narca, Sekda Aminuddin, Dirut PDAM Suryana dan Dewan Pengawas serta pejabat terkait.

Wakil Bupati Subang Agus Maskur bahkan tertegun melihat bangunan Gedung Kantor PDAM Tirta Bhagasasi Bekasi yang cukup megah berlantai empat.

“Dari kantornya saja sudah meyakinkan”, kata Agus  di hadapan rombongan.

Saat itu, tim dari Subang diterima Direktur Utama Usep Rahman Salim dan Dirtek Johny Dewanto dan para Kepala Bagian terkait. Rombongan dari Subang usai pertemuan meninjau salah satu Water Treatmen Plan Badan Usaha Swasta yang bekerjasama dengan PDAM Tirta Bhagasasi Bekasi.

Usep juga menjelaskan bahwa hingga saat ini, jumlah pelanggan PDAM Tirta Bhagasasi Bekasi sudah 270.000 sambungan langganan (SL), dan hingga akhir tahun 2020 ditargetkan 300.000 SL dan melayangi wilaya Kabupaten dan Kota Bekasi. Sementara cakupan pelayanan di Kabupaten dan Kota Bekasi sudah sekitar 40 persen.

Dijelaskan juga, bahwa kerjasama itu  perlu dilakukan untuk meningkatkan payanan dengan adanya investor swasta. Jika hanya mengandalkan penyertaan modal dari Pemerintah Daerah,  sulit meningkat karena keterbatasan anggaran pemerintah.  (adv/jonder sihotang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *