Diperlukan Konektivitas Transportasi Terintegrasi untuk Mempercepat Pemilihan Ekonomi

Loading

JAKARTA (Independensi.com) – Indonesia saat ini membutuhkan konektivitas transportasi yang terintegrasi baik darat, laut dan udara,.

Hal ini perlu dilakukan bukan saja untuk mempercepatan pemulihan ekonomi, pasca Pandami Covid-19, tapi juga dalam rangka melancarkan mobilitas dan distribusi logistik, serta mengurangi kesenjangan ekonomi khususnya di wilayah Terdepan, Terpencil, Terluar dan Perbatasan (3TP).

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Denon Prawiraatmadja dalam Webinar dengan tema “Merajut Konektifitas Transportasi Intermoda dan Peningkatan Daya Saing Industri” di Jakarta, Kamis (15/9)

Acara ini merupakan rangkaian dari kegiatan INACA Festival 2022 dalam rangka menyambut HUT INACA ke 52.

Menurutnya konektivitas transportasi sangat dibutuhkan guna menjamin kelancaran lalu lintas orang maupun barang antarwilayah.

“Jika ini bisa dilakukan secara maksimal, diharapkan industri transportasi domestik akan semakin bergairah dan juga mampu mendongkrak perekonomian khususnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) di seluruh pelosok Indonesia.

Sekaligus untuk mendukung sektor pariwisata khususnya menggarap potensi wisnus (wisatawan nusantara/domestik) yang jumlahnya sangat signifikan yaitu sekitar 500 juta orang (secara nilai sekitar Rp. 500 milyar per tahun),” kata Denon.

Ia juga menambahkan bahwa untuk lebih memperkuat konektivitas, untuk sektor penerbangan masih perlu dikembangkan penerbangan perintis/feeder antar daerah, pengoperasian sea plane dan pengembangan general aviation.

Denon yang juga Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perhubungan, menambahkan, diperlukan juga pengembangan angkutan laut melalui pelayaran rakyat (Pelra) untuk mengisi kebutuhan angkutan laut non peti kemas, armada keperintisan, dan armada perdagangan tradisional yang menjangkau daerah-daerah terpencil.

“Sedangkan angkutan darat dengan pengembangan layanan angkutan darat perintis guna meningkatkan mobilitas dan aktivitas masyarakat di wilayah 3TP, serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Melalui peningkatan konektivitas antarmoda diatas, pemulihan ekonomi Indonesia segera dapat tercipta,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia, M. Arsjad Rasjid mengatakan bahwa karakteristik geografi Indonesia menjadi tantangan untuk menjangkau daerah terpecil dan pelosok untuk optimalisasi ekonomi di Tanah Air.

Tidak dipungkiri bahwa hal ini membuat biaya logistik Indonesia cukup tinggi, yaitu 23% dari pada PDB. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan Singapura 8% dan Malaysia 13% dari pada PDB negaranya.

“Menghadapi tantangi ini kami mendorong agar sistim transportasi di Indonesia terintergrasi, baik di Pelabuhan, Bandara, Stasiun Kereta Api dan juga Teriminal Bus. Intergarasi internoda ini menjadi kunci dari daya saing industri,” katanya.

Selain itu, Arsjad juga mengungkapkan ada tiga hal yang membuat konektivitas intermoda menjadi sangat krusial, pertama adalah efesiensi waktu. Dimana waktu sangat diutama bagi wistawan agar sampai di tempat tujuan, selain itu kecepatan diperlukan untuk rantai pasok pengiriman logistik.

Yang kedua adalah biaya, jika biasa transportasi rendah maka biaya logistik akan dapat bisa di tekan sehingga Indonesia bisa bersaing dengan negara lain.

Dan yang terakhir adalah aksesbilitas, dengan lancarnya pengirim melalui rute dan jalur yang telah dibuat maka rantai pasok logistik akan semakin mudah.

“Jika tiga hal tersebut bisa kita atasi maka kami yakin maka kegiatan ekspor dan impor di Tanah Air menjadi mudah sehingga dapat membantu usaha UMKM di Tanah Air bisa bersaing di pasar global,” katanya.

Plt. Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Nur Isnin Istiarto dalam sambutan mengatakan bahwa industri penerbangan sebagai moda transportasi yang sangat penting untuk menghubungkan satu daerah dengan daerah lain di negara kepulauan seperti Indonesia.

Terlebih lagi operator penerbangan saat ini mememukan momentum pemulihan bisnisnya pasca Covid-19. Dimana pada Juni 2022 lalu lintas penerbangan domestik maupun internasional sudah mencapai rata-rata 70% jika dibandingkan masa saat pedemi Covid-19 lalu.

“Berdasarkan data dari IATA, lalu lintas domestik mencapai kenaikan sebanyak 81% dan lalu lintas penerbangan internasional mencapai 65%.

Data kenaikan tersebut merupakan peluang bagi maskapai untuk memajukan industri penerbangan kembali.

Dengan syarat meningkatkan pelayanan dan bisa menangkap peluang pasar yang ada,” katanya.

Untuk meraih peluangan tersebut, kata Isnin, seluruh operator di Indonesia harus menyiapkan sejumlah strategi sebagai langkah antisipasi dalam masa transisi setelah pademi, yakni dengan meningkatkan kolaborasi dan elaborasi bersama para stakeholder dan pemangku kebijakan melalui pengembangan bisnis.

Melalui strategi tersebut diharapkan sektor industri penerbangan dapat melakukan rencana strategis guna memilihkan bisnis dan lalu lintas penerbangan, salah satu dengan mengoptimalkan slot penerbangan dan mengaktifkan kembali rute-rute domestik yang sempat di tutup. (hpr)