![]()
BEKASI (Independensi.com)- Guna mengurangi banjir melanda Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dengan terjadinya cuaca ekstrim, dan dikhawatirkan akan menimbulkan banjir parah, Pemerintah Daerah setempat berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Tujuannya untuk melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).
Sesuai informasi awal, potensi hujan dengan durasi lebat, akan terjadi hingga akhir Januari 2026. Ditambah lagi luapan air Sungai Citarum yang berasal dari Bandung dan hilirnya di Kecamatan Muaragembong Bekasi, bahkan semakin memperparah terjadinya banjir di kawasan ini
Apalagi saat ini, dua tanggul Sungai Citarum susah jebol, di Kecamatan Pebayuran dan Muaragembong, sangat mengkhawatirkan banjir semakin parah.
Maka, modifikasi cuaca menjadi salah satu cara mengurangi banjir, dan melihat selama potensi hujan ekstrem masih tinggi.
Penjelasan itu disampaikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi, Muchlis saat rapat evaluasi bencana.
Modifikasi cuaca dilakukan guna meringankan beban wilayah yang terdampak banjir sebagaimana terjadi sepekan terakhir.
Ia menyebut, pihaknya telah berkomunikasi langsung dengan Deputi I BNPB, memastikan pelaksanaan modifikasi cuaca tersebut.
Banjir Kiriman
Data BPBD, banjir hari Minggu lalu terjadi di 17 kecamatan dari 23 kecamatan se Kabupaten Bekasi. Kondisi saat ini banjir masih melanda 12 kecamatan, kendari debit air sudah mulai turun. Namun hujan hampir setiap hari turun, dan genangan air kembali meninggi.
Yang dikhawatirkan, adanya banjir kiriman dan lokal yang mengancam wilayah hilir seperti Kecamatan Muaragembong, utamanya dari Sungai Citarum yang meluap, dengan adanya beberapa titik tanggul Citarum yang kritis, dan berpotensi jebol.
Selain di Muaragembong, tanggul kritis juga ditemukan di Kecamatan Cabangbungin. Pihaknya juga meminta pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) secepatnya menangani beberapa tanggul Sungai Citarum yang kritis dan terancam jebol.
Kini, Pemkab Bekasi melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memfokuskan penanganan darurat pada sejumlah titik tanggul kritis di sepanjang Sungai Citarum, menyusul jebolnya tanggu sungai terbesar di Jawa Barat tersebut
Penguatan Tanggul
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, mengatakan penanganan awal telah dilakukan menggunakan karung pasir dan bronjong untuk menahan luapan air. Namun, penguatan tanggul secara permanen menjadi kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
“Kewenangan kabupaten sifatnya sementara. Kami sudah berkomunikasi dengan BBWS untuk penguatan permanen. Jangan sampai tanggul ini terus-menerus jebol karena dampaknya sangat luas bagi masyarakat,” ujar Asep Surya Atmaja.
Pemkab Bekasi juga berencana melakukan survei menyeluruh terhadap kondisi tanggul, terutama di wilayah yang mengalami pendangkalan dan belum memiliki dinding penahan, seperti kawasan Tanjung Sari, Kecamatan Cikarang Utara. Di wilayah tersebut, banjir kerap terjadi meski hujan turun dalam durasi singkat. (jonder sihotang)

