![]()
JAKARTA (Independensi.com) – Dewan Pimpinan Pusat PROJO meminta pemerintah bergerak cepat menjaga kepercayaan publik dan stabilitas ekonomi nasional menyusul nilai tukar Dolar Amerika Serikat yang menembus kisaran Rp17.500.
Ketua Bidang Ekonomi, Industri, dan Investasi DPP PROJO Bonardo T. Sianturi menilai pelemahan rupiah bukan sekadar peristiwa pasar uang, melainkan alarm ekonomi yang harus disikapi secara serius namun tetap tenang.
“Anjloknya mata uang rupiah tersebut pada ujungnya akan mengerek harga sejumlah barang kebutuhan masyarakat, bukan hanya mereka yang di perkotaan tapi juga di perdesaan,” kata Bonardo dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (20/5).
Menurut dia, meskipun ekonomi Indonesia masih menunjukkan daya tahan dengan pertumbuhan yang positif, inflasi terkendali, serta cadangan devisa yang memadai, pelemahan rupiah mencerminkan adanya kegelisahan di pasar.
Ia menyebut pelaku usaha mulai menghitung ulang langkah bisnis mereka, sementara masyarakat mulai khawatir terhadap potensi kenaikan harga barang, biaya hidup, dan dampaknya terhadap lapangan kerja dalam beberapa bulan ke depan.
PROJO menilai dalam situasi tersebut pemerintah perlu hadir dengan langkah yang lebih tegas, disiplin, dan mudah dipahami publik.
“Komunikasi publik yang jelas, tepat, sekaligus membangun optimisme wajib hukumnya untuk dilakukan,” ujar Bonardo.
Ia menjelaskan nilai tukar rupiah tidak hanya menjadi urusan Bank Indonesia atau pelaku pasar keuangan, tetapi juga mencerminkan tingkat kepercayaan terhadap ekonomi nasional.
Karena itu, lanjut dia, yang perlu dijaga bukan hanya stabilitas kurs, tetapi juga keyakinan masyarakat bahwa negara tetap mampu mengendalikan situasi ekonomi.
Sebagai organisasi yang mendukung agenda pembangunan pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, PROJO mendorong pemerintah memperkuat langkah stabilisasi ekonomi secara lebih terarah.
Langkah tersebut antara lain menjaga kepercayaan pasar, menajamkan belanja negara, memperkuat pasokan Dolar AS melalui ekspor dan devisa hasil ekspor, mengendalikan impor yang tidak mendesak, hingga mempercepat investasi produktif.
Bonardo mengingatkan pelemahan rupiah yang berlanjut dapat meningkatkan biaya impor, menekan harga energi dan pangan, serta membuat dunia usaha lebih berhati-hati.
“Ini adalah soal daya tahan ekonomi rakyat,” katanya.
PROJO juga meminta pemerintah memastikan anggaran negara digunakan untuk melindungi masyarakat kecil, menjaga harga kebutuhan pokok, mempertahankan lapangan kerja, dan memperkuat sektor-sektor produktif penghasil devisa.
Selain itu, pemerintah diminta menjaga konsistensi komunikasi ekonomi di tengah ketidakpastian global agar tidak memperbesar keresahan masyarakat dan pasar.
Dalam pernyataannya, PROJO menyampaikan tiga imbauan utama kepada pemerintah, yakni menjaga kepercayaan pasar melalui disiplin APBN dan kebijakan yang konsisten, menajamkan belanja negara untuk sektor produktif dan perlindungan rakyat kecil, serta memperkuat pasokan dolar nasional melalui peningkatan ekspor dan investasi produktif.
Bonardo menilai momentum penguatan dolar AS harus dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
“Dolar AS tembus Rp17.500 adalah peringatan. Dengan gerak cepat dan berpihak kepada rakyat, pemerintah dapat membalik keadaan untuk memperkuat kembali kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia,” ujarnya.

