Foto : Direktur Operasi SIG, Reni Wulandari (kiri) dan Kepala Kejaksaan Negeri Gresik, Nana Riana (kedua kiri) mendampingi Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani saat mengunjungi fasilitas RDF (refuse-derived fuel) di TPST Belahanrejo, Kecamatan Kedamean, Gresik, Jawa Timur

SIG Bakal Manfaatkan Sampah TPST Ngipik dan Belahanrejo Sebagai Bahan Bakar Alternatif

Loading

GRESIK (Independensi.com) – Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik, Jawa Timur, melakukan penandatanganan Kesepakatan Bersama tentang pemanfaatan refuse-derived fuel (RDF) atau bahan bakar alternatif dari hasil olahan sampah di TPST Belahanrejo dan TPST Ngipik.

Hal itu dilakukan sebagai langkah strategis, untuk mengatasi persoalan sampah di Kabupaten Gresik. Sekaligus, mendukung peningkatan porsi penggunaan bahan bakar alternatif di pabrik SIG.

Direktur Operasi SIG, Reni Wulandari mengatakan, semangat untuk mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan mendorong SIG berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam penanganan sampah perkotaan secara berkelanjutan.

“Kerja sama ini tidak hanya membantu Pemkab Gresik menciptakan lingkungan yang bersih, tetapi juga membantu SIG mendapatkan bahan bakar alternatif ramah lingkungan sebagai upaya dekarbonisasi,” ujarnya, Minggu (3/3).

“SIG terus memperluas kolaborasi dengan pemerintah daerah, dalam penanganan sampah sebagai bentuk kontribusi dalam pelestarian lingkungan dan upaya global dalam menurunkan emisi CO2,” sambungnya.

Reni menambahkan selain RDF, SIG juga menggunakan biomassa dari sekam padi, bonggol jagung, tandon sawit, dan lain-lain sebagai bahan bakar alternatif, untuk meningkatkan substitusi energi panas (TSR) guna mencapai target penurunan intensitas emisi CO2 yang telah ditetapkan dalam SIG Sustainability Road Map 2030.

“Belum lama ini anak usaha SIG, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI) juga baru saja menjalin kerja sama dengan Pemkab Bantul, Yogyakarta dalam pemanfaatan RDF. Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama dalam rangkaian kegiatan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2024 dan peresmian operasional Intermediate Treatment Facility (ITF) Pasar Niten Bantul, Yogyakarta,” ungkapnya.

“Kabupaten Bantul dengan luas wilayah 506,8 kilometer persegi dan terdiri dari 17 kecamatan, memiliki potensi timbulan sampah mencapai 440 ton per hari. Tentu jumlah itu, akan terus bertambah seiring dengan bertambahnya populasi penduduk,” imbaunya.

Lebih lanjut, Reni menyampaikan, bahwa pengelolaan sampah secara berkelanjutan dengan prinsip ekonomi sirkular seperti RDF memiliki banyak keunggulan. Selain mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

“Salah satu upaya dalam mengatasi tumpukan sampah yang menimbulkan bau dan tentunya bisa memicu gangguan kesehatan adalah dengan pemanfaatan RDF. Langkah ini juga untuk mendukung akselerasi pencapaian target penurunan emisi karbon, yang dicanangkan pemerintah pada tahun 2060,” tukasnya.

“Volume sampah yang terus meningkat masih menjadi tantangan bagi pemerintah daerah, di tengah keterbatasan lahan tempat pembuangan dan fasilitas pengelolaan sampah. Sebagai perusahaan yang memiliki kemampuan dan pengalaman dalam pengelolaan sampah, SIG siap berkolaborasi dengan pemerintah dalam mengatasi persoalan sampah yang masih menjadi momok, khususnya bagi pemerintah daerah,” tandasnya.

Sebelum menjalin kerja sama dengan Pemkab Kabupaten Gresik dan Bantul, menurut Reni SIG melalui anak usahanya SBI sudah terlebih dahulu menjalin kerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah lainnya. Seperti Aceh, Cilacap, DKI Jakarta, Banyumas, Temanggung, Sleman, Wonosobo, dan pengelola sampah di Bali.

Di Kabupaten Cilacap, SBI tidak hanya memanfaatkan RDF hasil produksi RDF Plant Jeruklegi milik Pemkab Cilacap, tetapi juga menjadi inisiator sekaligus operator fasilitas RDF pertama di Indonesia.

Bahkan, sejak diresmikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia, Luhut Binsar Pandjaitan pada 21 Juli 2020, fasilitas RDF Cilacap kini mengolah 160 ton sampah/hari untuk menghasilkan sekitar 70 – 80 ton RDF/hari. Jumlah ini berpotensi menggantikan 50 – 60 ton batu bara/hari,” paparnya.

Sementara, Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, mengapresiasi dan bersyukur atas kesediaan SIG untuk bekerja sama dengan Pemkab Gresik dalam pengelolaan sampah.

“Sebelum TPST Belahanrejo berdiri, selama bertahun-tahun sampah dari Gresik Selatan harus dikirim ke TPST Ngipik yang berada di Kota Gresik. Padahal jaraknya relatif jauh dan tentunya hal itu sangat tidak efektif dan efisien,” katanya, Minggu (3/3).

“Apalagi waktu itu, TPST Ngipik belum dilengkapi fasilitas RDF. Sehingga kemudian Pemkab Gresik melengkapi TPST Ngipik dengan fasilitas RDF yang diresmikan pada Juni 2023 lalu,. Alhamdulillah, beberapa TPST yang ada di Gresik telah ada offtaker RDF. Sehingga sampahnya bisa dikelola sebagai bahan bakar di pabrik semen,” pungkasnya. (Mor)