![]()
JAKARTA (Independensi.com) – Pendiri LSI, Denny JA, menyatakan Indonesia tengah menyaksikan kemunculan cikal bakal kelas sosial baru sebagai dampak revolusi digital, yakni Digitally Vulnerable Class (DVC) atau pekerja digital yang rentan.
Gagasan tersebut disampaikan Denny JA dalam esainya berjudul “Datangnya Kapitalisme Algoritma dan Cikal Bakal Lahirnya Kelas Baru: Pekerja Digital yang Rentan (DVC)” yang dipublikasikan melalui Facebook Denny JA’s World.
Menurut Denny JA, dunia saat ini memasuki fase baru perkembangan kapitalisme yang berbeda dari kapitalisme industri pada abad ke-19 maupun kapitalisme finansial pada abad ke-20. Ia menyebut fase tersebut sebagai kapitalisme algoritma, yakni sistem ekonomi yang bertumpu pada data dan algoritma.
“Jika kapitalisme industri bertumpu pada mesin dan kapitalisme finansial bertumpu pada modal, maka kapitalisme algoritma bertumpu pada data dan algoritma,” ujar Denny JA saat memberikan secara tertulis pada Minggu (14/6).
Ia menjelaskan bahwa dalam sistem ekonomi digital saat ini, algoritma tidak lagi sekadar menjadi alat bantu produksi, tetapi telah berperan menentukan akses seseorang terhadap pekerjaan, penghasilan, reputasi, hingga peluang ekonomi.
Fenomena tersebut terlihat pada jutaan pekerja platform digital, mulai dari pengemudi ojek daring, kurir, freelancer, kreator konten, hingga penjual online yang menggantungkan aktivitas ekonominya pada sistem platform digital.
Menurut berbagai estimasi, jumlah pekerja platform digital di Indonesia telah mencapai sekitar empat juta orang, sementara pekerja yang terlibat dalam ekonomi digital secara lebih luas telah berkembang menjadi puluhan juta orang.
Denny JA menilai perubahan tersebut melahirkan bentuk kerentanan baru yang belum pernah dikenal dalam sejarah perkembangan kelas
sosial sebelumnya.
“Seorang pengemudi ojek online kehilangan penghasilannya hanya karena satu notifikasi aplikasi. Ia tidak dipecat manusia. Ia dihentikan oleh algoritma,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa DVC memiliki karakteristik yang berbeda dengan proletariat yang diperkenalkan Karl Marx maupun precariat yang dikemukakan Guy Standing.
Jika proletariat bergantung pada pemilik pabrik dan precariat bergantung pada pasar kerja yang tidak stabil, maka DVC bergantung pada algoritma dan platform digital.
“Jika pasar menentukan nasib precariat, maka algoritma menentukan nasib DVC,” ujar Denny JA.
Ia mengidentifikasi tiga karakter utama DVC. Pertama, kerentanan algoritmik, di mana pendapatan, reputasi, dan keberlangsungan pekerjaan dapat berubah akibat keputusan sistem digital yang tidak transparan.
Kedua, identitas kolektif digital. Meski bekerja di lokasi yang berbeda dan tidak saling mengenal secara langsung, para pekerja digital terhubung melalui aplikasi, media sosial, dan komunitas daring yang membentuk solidaritas baru.
Ketiga, kerawanan harapan. Banyak pekerja digital menggantungkan masa depan pada kemungkinan viralnya sebuah konten, meningkatnya rating layanan, atau perubahan algoritma yang dianggap dapat memperbaiki kondisi ekonomi mereka.
Denny JA menilai DVC memang belum dapat disebut sebagai kelas sosial yang sepenuhnya mapan. Namun, berbagai indikator menunjukkan kelompok ini merupakan kandidat terkuat sebagai kelas sosial baru yang lahir di era digital.
“Abad ke-19 melahirkan proletariat. Abad ke-20 melahirkan precariat. Abad ke-21 mungkin akan dikenang sebagai abad yang melahirkan manusia yang hidup di bawah bayang-bayang algoritma,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai negara dan perusahaan platform digital perlu mulai mengakui keberadaan kelompok pekerja digital yang rentan tersebut serta merancang sistem perlindungan sosial yang sesuai dengan risiko ekonomi digital.
Sebagai perbandingan, Uni Eropa telah menerapkan kebijakan Platform Work Directive untuk memperkuat perlindungan hak-hak pekerja digital. Indonesia, menurut Denny JA, perlu mempertimbangkan regulasi serupa agar fleksibilitas ekonomi platform tidak mengorbankan kesejahteraan jutaan pekerja digital.
Ia menutup esainya dengan mengingatkan bahwa tantangan terbesar abad ke-21 tidak lagi semata-mata berkaitan dengan relasi antara buruh dan pemilik modal, melainkan hubungan antara manusia dan sistem teknologi yang diciptakannya sendiri.
“Pertarungan terbesar abad ke-21 bukan lagi hanya antara buruh dan pemilik modal, tetapi antara manusia dan sistem teknologi yang diciptakannya sendiri,” kata Denny JA.

