Foto bersama tim pengabdian masyarakat UI dan USM di di Langkawi, Malaysia.
Foto bersama tim pengabdian masyarakat UI dan USM di di Langkawi, Malaysia.

UI–USM Kolaborasikan Program Pengabdian Masyarakat Internasional Bertajuk Ketahanan Pesisir dan Ekonomi Biru di Langkawi

Loading

JAKARTA (IndependensI.com) – Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan program pengabdian masyarakat internasional bekerja sama dengan Universiti Sains Malaysia (USM) yang bertajuk UI–USM “SustainaBlue Collaboration Project: Enhancing Coastal Ecosystem Resilience and the Blue Economy in Kubang Badak, Langkawi, Malaysia”.

Program ini merupakan Hibah Community Development UI, Skema World Class University (WCU). Program ini juga merupakan bagian dari penguatan kolaborasi internasional dari Enhancing Quality Education for International University Impacts (EQUITY). Kolaborasi UI–USM merupakan kelanjutan dari kerjasama yang sebelumnya sudah terjalin melalui Program SustainaBlue yang didukung oleh Uni Eropa.

SustainaBlue bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, kesiapan karir, dan pertukaran pengetahuan antar lembaga pendidikan tinggi di Indonesia dan Malaysia, termasuk UI dan USM.

Program pengabdian masyarakat dilaksanakan di Langkawi, Kedah, Malaysia, pada tanggal 14–19 Juni 2026. Tim UI beranggotakan 14 orang, diketuai oleh Dr. Retno Lestari, M.Si. dan Prof. Dr. rer. nat. Mufti Petala Patria, M.Sc., selaku Koordinator Sustainable Blue Economy Center (SBEC) UI. Program ini juga didukung oleh tim konsultan: Fajar Reza Budiman, Amelia Said, dan Nabil Ariq Ahmad Nurzahid. Tim juga beranggotakan sembilan mahasiswa dan peneliti: Niken Laoren, Rakha Nabillutra Falah, Cloudya Zefanya, Ahura Zia Fiwansjah, Kendra Elvina Rosano, Hedza Fadli Robbina, Ilma Ardelia, Ushulil Hidayat, dan Syaqila Putri Maharani.

Pembukaan program diadakan di Pusat Penyelidikan Langkawi (PPL) pada hari Senin, 15 Juni 2026, dimulai dengan sambutan dari Dr. Retno Lestari, M.Si. Kemudian dilanjutkan dengan pengenalan materi dari Prof. Dr. Mahadi Mohammad, Direktur Pusat Studi Kelautan dan Pesisir (CEMACS) USM, yang menyoroti pentingnya memperkuat kolaborasi dalam memajukan potensi pesisir dan kelautan.

“Target kami (melalui kolaborasi ini) adalah untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang ekonomi biru. Kami berharap dapat memperbanyak jumlah (proyek), meningkatkan kualitas, dan mempertahankan lebih banyak kolaborasi untuk tahun-tahun mendatang,” kata Prof. Dr. Mahadi Mohammad.

Sambutan pembukaan oleh Dr. Retno Lestari, M.Si. (sebelah kiri) selaku kepala Tim Pengembangan Komunitas UI dan Prof. Dr. Mahadi Mohammad (sebelah kanan) selaku Direktur Pusat Studi Kelautan dan Pesisir (CEMACS) USM.
Sambutan pembukaan oleh Dr. Retno Lestari, M.Si. (sebelah kiri) selaku kepala Tim Pengembangan Komunitas UI dan Prof. Dr. Mahadi Mohammad (sebelah kanan) selaku Direktur Pusat Studi Kelautan dan Pesisir (CEMACS) USM.

Dr. Retno Lestari, M.Si. juga menyampaikan apresiasinya atas sambutan hangat dari tim USM dan berharap program ini dapat menjadi ruang untuk saling bertukar pengetahuan dan pengalaman di antara mahasiswa, peneliti, dan masyarakat setempat. “Kami sangat senang dapat berkolaborasi dengan USM melalui program ini. Saya berharap semua peserta bisa mendapat kesempatan untuk berbagi pengetahuan, belajar satu sama lain, dan memperoleh wawasan baru tentang pemberdayaan masyarakat pesisir dan ekonomi biru,” kata Dr. Retno Lestari.

Eksplorasi UMKM Langkawi: Pelatihan Branding Produk dan Digital Marketing berbasis Artificial Intelligence (AI)

Setelah program pembukaan usai, pada hari yang sama tim melakukan observasi dan eksplorasi UMKM di Perniagaan Haji Ismail Group (PHIG), salah satu pusat ritel produk lokal paling terkenal di Langkawi. Menurut Khairudin, seorang petugas di PHIG, “Sebelum pandemi COVID-19, tempat ini ramai dikunjungi wisatawan. Namun, setelah pandemi, jumlah pengunjung menurun, dan lantai dua (gedung PHIG) kini kosong, hanya digunakan untuk proses pengemasan paket.”

Tim pengabdian masyarakat UI dan USM berfoto di pusat ritel Perniagaan Haji Ismail, Langkawi, Malaysia.
Foto bersama tim pengabdian masyarakat UI dan USM di di Langkawi, Malaysia.

Tim pengabdian masyarakat UI-USM dibagi menjadi beberapa tim untuk mengobservasi produk-produk UMKM di pusat ritel PHIG, terutama pada aspek branding dan pengemasan. Tim memeriksa beberapa elemen pengemasan penting, seperti keberadaan logo sertifikasi halal, label multibahasa, kelengkapan informasi produk, identifikasi produsen, dan detail kontak yang dapat diakses oleh konsumen.

Aspek-aspek ini dianggap penting untuk meningkatkan daya saing produk lokal di pasar yang lebih luas, khususnya di kalangan wisatawan domestik dan internasional.
Pada hari Selasa, 16 Juni 2026, tim melakukan kampanye ekonomi biru dan berbagi pengetahuan kepada UMKM di Pantai Cenang, salah satu pusat pariwisata dan ekonomi terpadat di Langkawi. Kegiatan ini bertujuan untuk menilai penggunaan pemasaran digital berbasis AI untuk branding bisnis dan untuk memahami pengetahuan UMKM tentang manajemen keuangan bisnis. Tim dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan survei, wawancara singkat, dan sesi berbagi pengetahuan.

Survei tersebut melibatkan 33 peserta UMKM yang mewakili berbagai bisnis, termasuk perusahaan makanan dan minuman, restoran, toko souvenir, operator olahraga air, dan penyedia layanan untuk turis. Secara keseluruhan, banyak usaha kecil dan menengah yang sudah terbiasa menggunakan perangkat digital untuk mendukung pencatatan keuangan dan telah mulai mengintegrasikan AI ke dalam aktivitas promosi mereka.

“Kami telah beberapa kali menggunakan AI untuk upaya pemasaran digital, seperti membantu kami membuat logo dan materi promosi untuk bisnis kami. Hasilnya lebih cepat dan memudahkan kami untuk memperkenalkan produk kepada pelanggan,” kata salah satu peserta UMKM.

Tim pengabdian masyarakat UI-USM mengadakan wawancara dan berbagi pengetahuan kepada UMKM di kawasan Pantai Cenang, Langkawi
Tim pengabdian masyarakat UI-USM mengadakan wawancara dan berbagi pengetahuan kepada UMKM di kawasan Pantai Cenang, Langkawi

Penguatan Komunitas Pesisir Melalui Konservasi Mangrove dan Budidaya Tiram Berkelanjutan

Pada hari Rabu, 17 Juni 2026, tim pengabdian masyarakat UI–USM mengadakan program penyebarluasan kepedulian lingkungan melalui konservasi mangrove dan budidaya tiram berkelanjutan. Program ini sejalan dengan tujuan utama program untuk memperkuat ketahanan masyarakat pesisir. Program dilaksanakan di Kawasan Mangrove Biogeotrail Kubang Badak, Langkawi.

Kegiatan dimulai dengan sesi materi yang dipimpin oleh Ushulil Hidayat dengan fokus pada materi konservasi lingkungan, pengelolaan sumber daya berkelanjutan, dan pentingnya ekologi terhadap masyarakat sekitar. Tim juga mewawancarai 10 anggota komunitas masyarakat untuk memahami perspektif lokal tentang konservasi di area mangrove.

Kepala Desa Kubang Badak, Mohammad Fakarudin, menyambut baik program ini, “Kami sangat senang menyambut mahasiswa dari UI dan USM. Sebagai anggota masyarakat, kami tidak selalu memiliki akses terhadap informasi-informasi (materi yang diberikan). Kehadiran perwakilan universitas disini membantu memperluas pemahaman kami dan mendukung pengembangan komunitas kami”.

Selain kegiatan konservasi mangrove, tim pengabdian masyarakat UI-USM mengunjungi tempat budidaya tiram berbasis komunitas yang didirikan oleh CEMACS pada tahun 2022. Inisiatif ini dikembangkan untuk memberdayakan masyarakat pesisir setempat dan mendukung pemulihan ekonomi pasca pandemi COVID-19 melalui praktek akuakultur yang berkelanjutan.

Perwakilan dari CEMACS menjelaskan bahwa budidaya tiram di Langkawi tidak memerlukan pakan buatan karena tiram memperoleh nutrisi secara alami melalui penyaringan makanan. Perairan yang kaya nutrisi di sekitar Langkawi menyediakan kondisi yang menguntungkan bagi pertumbuhan tiram, sehingga sistem budidaya ini ramah lingkungan dan bernilai tinggi secara ekonomi.

Budidaya tiram Langkawi juga berkontribusi pada kesehatan ekosistem sebagai filter feeder (penyaring alami). Tiram membantu meningkatkan kualitas air dengan menghilangkan partikel tersuspensi dan bahan organik dari kolom air. Jika dikelola dengan baik, budidaya tiram dapat mendukung pengembangan ekonomi masyarakat sekaligus bernilai konservasi untuk lingkungan.

Tim UI-USM juga diperkenalkan dengan proses penanganan pasca panen yang digunakan di budidaya tiram Langkawi. Dalam memastikan tiram aman dikonsumsi, fasilitas tersebut menerapkan sistem pemurnian berbasis ozon yang membantu mengurangi kontaminasi mikroba dan meningkatkan keamanan pangan sebelum tiram didistribusikan kepada konsumen. Proses pemurnian ini menunjukkan bagaimana akuakultur dapat diintegrasikan dengan teknologi lingkungan modern untuk menjaga kualitas produk sekaligus mendukung praktik produksi berkelanjutan.

Pertukaran Budaya dan Pengetahuan antar UI–USM Petakan Kolaborasi di Masa Depan

Pada malam di hari yang sama, 17 Juni 2026 dilaksanakan program “UI-USM Cultures and Knowledge Exchange”. Program dibuka dengan presentasi ilmiah oleh Prof. Dr. rer. nat. Mufti Petala Patria, M.Sc., yang berjudul “Kelimpahan Mikroplastik di Ekosistem Pesisir dan Laut.” Dalam sesi tersebut, Prof. Mufti menjelaskan bagaimana sampah plastik yang terpapar sinar matahari secara bertahap terurai menjadi partikel mikroplastik, ancaman yang kini telah meresap ke hampir setiap lapisan ekosistem laut.

Penelitian yang dilakukan di Teluk Jakarta mengungkapkan konsentrasi mikroplastik hingga 90,7 partikel per liter di perairan Marunda, sementara kerang hijau (Perna viridis) yang diambil sampelnya dari Muara Kamal ditemukan mengandung sebanyak 469 partikel mikroplastik per individu. Ikan-ikan penting secara komersial seperti kerapu dan kakap merah juga ditemukan membawa ribuan partikel di saluran pencernaan dan insangnya.

Prof. Mufti juga menyoroti bahwa mikroplastik tidak hanya menyebabkan cedera fisik pada fauna tetapi juga bertindak sebagai vektor polutan organik persisten, dengan potensi mengganggu sistem tubuh manusia dan terkait dengan risiko infertilitas dan kanker. Beliau menyerukan kepada semua peserta untuk mulai mengelola sampah plastik dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai sebagai bagian dari solusi ke depan.

Program dilanjutkan dengan presentasi oleh Rakha Nabillutra Falah, seorang mahasiswa S1 dari Departemen Biologi yang bertujuan untuk mempromosikan Departemen Biologi, FMIPA UI, Universitas Indonesia, dan Indonesia secara lebih luas melalui lensa budaya dan keberagaman. Rakha menyoroti integrasi aktivitas akademik, penelitian, dan pengabdian masyarakat UI (Tridharma Perguruan Tinggi) sebagai komitmen universitas dalam mengimplementasikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Kemudian, ia menghubungkan diskusi ini dengan kekayaan alam Indonesia yang luar biasa dan budaya yang beragam dari setiap daerahnya. Sesi presentasi tim UI diakhiri dengan pertunjukan budaya yang menampilkan lagu-lagu tradisional dari berbagai daerah di Indonesia.

Setelah program berakhir, tim UI berkesempatan mewawancarai Harshan, seorang mahasiswa S2 ilmu kelautan di USM. Harshan menggarisbawahi pentingnya Tridharma, tiga pilar pendidikan tinggi, sebagai kerangka kerja yang mampu menjembatani teori akademis dengan praktik dunia nyata.

“Sekalipun penelitian yang dilakukan di laboratorium sangat canggih, itu tidak ada artinya jika tidak benar-benar bermanfaat bagi masyarakat setempat,” tegas Harshan.

Menjelajahi Taman Geoforest Karst Kilim UNESCO di Langkawi

Pada hari Kamis, 18 Juni 2026, tim UI-USM menjelajahi Taman Geoforest Karst Kilim. Dengan luas sekitar 100 km², Taman Geoforest Karst Kilim adalah salah satu destinasi ekowisata utama Langkawi dan merupakan bagian dari jaringan Geopark Global UNESCO. Pengakuan internasional ini memastikan perlindungan kawasan tersebut sebagai situs konservasi secara global. Dalam penjelajahan tersebut, tim mengamati berbagai spesies, seperti ikan, burung, dan mamalia.

Ekosistem mangrove Langkawi didominasi oleh spesies seperti Bakau Kurap (Rhizophora mucronata) dan Bakau Minyak (Rhizophora apiculata) dan mendukung beragam satwa liar, termasuk Brahminy Kite (Haliastur indus), White-bellied Sea Eagle (Haliaeetus leucogaster), Pied Hornbill (Anthracoceros albirostris), Island Flying Fox (Pteropus vampyrus), and Long-tailed Macaque (Macaca fascicularis).

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *