Panen perdana di Ponpes Modern Muhammadiah Boarding School, Kecamatan Prambanan, Sleman, Jumat (13/10/2017). (Humas DJPB)

Panen Perdana Lele Bioflok di Ponpes Sleman, Tingkatkan Ekonomi Santri

JAKARTA (Independensi.com) – Pada Jumat (13/10/2017), Sekjen KKP, Rifky E Hardijanto melakukan panen perdana budidaya lele sisitem bioflok di Ponpes Modern Muhammadiah Boarding School (MBS), Kabupaten Sleman.

Turut serta dalam kegiatan tersebut yaitu Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto; Asisten II Setda DI Yogyakarta, Sigit Sapto Raharjo; Bupati Sleman, Sri Purnomo.

Panen perdana ini merupakan bukti nyata keberhasilan program pengembangan lele bioflok, yang saat ini menjadi program unggulan nasional.

Kebehasilan ini diharapkan akan memberikan dampak positif bagi peningkatan ekonomi dan pemenuhan suplai pangan berbasis ikan khususnya di kalangan warga santri. Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal KKP Rifky E Hardijanto saat melakukan panen perdana di Ponpes Modern Muhammadiah Boarding School, Kecamatan Prambanan, Sleman, Jumat dalam keterangan persnya kepada Independensi.com, Sabtu (14/10/2017).

Menurutnya, keberhasilan budidaya lele bioflok menambah optimism bahwa inovasi teknologi ini memang menjadi solusi paling efefktif dalam mewujudkan pergerakan ekonomi dan ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim dan lingkungan global saat ini.

“Saya atas nama Pemerintah mengapresiasi setinggi-tingginya atas komitmen dan tanggunjawab warga Ponpes dalam mensukseskan program lele bioflok ini, dimana hasilnya bisa kita saksikan hari ini. Dukungan lele bioflok di Ponpes MBS ini merupakan bagian dari 168 total penerima manfaat secara nasional”, ungap Rifky.

Hasil panen memuaskan
Sebelumnya Ponpes Modern MBS mendapatkan dukungan pengembangan lele bioflok sebanyak 2 (dua) unit usaha melalui Ditjen Perikanan Budidaya. Dari 1 (satu) unit yang dipanen kali ini didapatkan hasil produksi lele konsumsi ukuran 10-12 ekor per kg sebanyak 3,6 ton dengan nilai jual diperkirakan sebesar Rp. 62,1 juta.

Direktur Jenderal Perikanan Budiadaya, Slamet Soebjakto di sela-sela panen perdana menyampaikan bahwa hasil panen tahap awal ini sangat memuaskan. Menurutnya, secara ekonomi dengan hasil panen saat ini dipastikan sangat menguntungkan dan tentunya diharapkan akan memicu kesinambungan usaha.

“Itungan kasar dengan hasil panen 7,2 ton saja untuk 2 unit, maka keuntungan bersih yang diraup dapat mencapai Rp. 35 juta rupiah per siklus untuk 2 (dua) unit budidaya. Ratio pendapatan terhadap biaya produksi minimal 1,5 artinya sudah dipastikan usaha ini sangat layak”, jelas Slamet.

Untuk itu Slamet berharap ada kesinambungan usaha dengan melakukan re-investasi sehingga kapasitas usaha akan semakin besar. Ia juga menekankan agar koperasi yang ada bisa diperkuat, karena kelembagaan ini menjadi sangat penting dalam mata rantai usaha.

Direktur Muhammadiah Boarding School, Fajar Sodiq. mengungkapkan bahwa dukungan lele bioflok ini sangat membantu warga ponpes khususnya dalam meningkatkan konsumsi ikan untuk perbaikan gizi para siswa, disamping untuk sarana belajar berusaha.

Sementara itu Asisten II Setda DI Yogyakarta, Sigit Sapto Raharjo, menyampaikan apresiasi atas dukungan program yang digulirkan KKP. Menurutnya, lele bioflok ini sangat cocok sebagai alternative usaha baru dikalangan masyarakat Yogyakarta tidak terkecuali masyarakat kota, karena cenderung membutuhkan sumberdaya air dan lahan yang terbatas.

“Sangat mengapresiasi keberhasilan lele bioflok ini, dan berharap keberhasilan ini akan juga memicu keberhasilan serupa di Ponpes lain. Saya rasa, usaha lele bioflok ini dapat menjadi sarana belajar untuk mencetak wirausaha baru di kalangan warga Ponpes, disisi lain tentunya dapat menyediakan sumber pangan untuk perbaikan gizi mereka”, ungkapnya.

Tahun 2017, Pemerintah mendorong pengembangan bioflok nasional sebanyak 203 unit usaha di 88 Kabupaten/Kota yang tersebar di 27 Provinsi. Target sasaran adalah sebanyak 168 Pondok pesantren, yayasan, lembaga pendidikan, koperasi, dan lembaga keagamaan dengan nilai anggaran sebesar Rp. 40,6 milyar.

Melalui program lele bioflok ini, Secara nasional Pemerintah menargetkan antara lain : penyediaan produksi ikan sebesar 3.897 ton per tahun nilai ekonomi mencapai Rp. 62,3 milyar per tahun; peningkatan pendapatan Rp. 7.000,- per kg; penyerapan tenaga kerja hingga 2.030 orang; pemberdayaan dan media pembelajaran bagi sekitar 157.000 santri; dan meningkatkan tingkat konsumsi ikan bagi warga pondok pesantren dari semula 9 kg per kapita/tahun menjadi sedikitnya 15 kg/kapita/tahun.

Kolaborasi pakan mandiri dengan usaha lele bioflok
KKP juga terus mendorong pengembangan pakan mandiri di sentral-sentral produksi. Slamet Soebjakto, mengatakan, pakan mandiri ini nantinya akan kita arahkan untuk mensuplai kebutuhan pakan bagi usaha lele bioflok. Ia optimis dengan dukungan pakan mandiri ini margin keuntungan yang didapat akan semakin besar.

“Paling tidak dengan penggunaan produk pakan mandiri, nantinya usaha lele bioflok akan mendapat nilai tambah semakin besar minimal Rp. 1.500 per kilogram hasil produksi. Jadi kalau dikalkulasi dari produksi ikan per unit 3,6 ton, maka ada tambahan pendapatan minimal 5,4 juta per siklus”. Jelas Slamet saat mengunjungi salah satu kelompok Gerpari di Kabupaten Sleman, usai kegiatan panen perdana di Ponpes MDS.

Salah satu kelompok gerpari yang mendapat dukungan KKP adalah kelompok Ngupoyo Mino yang berlokasi di Ds. Tegaltirto Kecamatan Berbah, Sleman. Kelompok tersebut saat ini mampu memproduksi pakan mandiri rata-rata sebanyak 200 kg per hari atau 4.000 kg per bulan, dimana produknya digunakan untuk mensuplai kebutuhan pakan bagi pembudidaya ikan di Kabupaten Sleman dan Sekitarnya.

“Geliat usaha lele bioflok saat ini dipastikan juga akan memicu meningkatnya kebutuhan pakan. Oleh karenanya kami siap bekerjasama untuk suplai kebutuhan pakan”, tegas Suharyanto, ketua Kelompok Ngupoyo Mino.