Bastian, Korban Penyebaran Radikalisme dan SARA Dikalangan Anak SD di Jakarta

IndependensI.com – Seorang anak bernama Josep Sebastian Zebua dibully oleh rekan-rekan satu sekolahnya, sehingga dirinya tidak mau lagi pergi ke selokah di Dekolah Dasar Negeri Ciracas, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Bukan hanya sekedar dibully dengan kata-kata, Bastian (panggilan akrab Josep Sebastian Zebua) juga kerap mendapat perlakuan kekerasan secara fisik dari teman-temannya.

Bastian yang berkulit putih bersih itu mirip warga keturunan sehingga sering diolok-olok dengan memanggil Bastian sebagai Ahok. Ahok dimaksud adalah mantan Gubernur DKI Jakarta. Padahal, Josep Sebastian Zebua tidak ada hubungan apapun dengan Ahok. Josep Sebastian Zebua adalah warga anak bangsa yang berasal dari Pulau Nias, Sumatera Utara.

Merasa khawatir akan masa depan anaknya yang tidak mau pergi ke sekolah, maka pihak keluarga berembuk untuk memindahkan Bastian ke sekolah lain, salah satunya adalah sekolah swasta Katolik. Kebijakan itu diambil karena setelah ibunya melaporkan kepada pihak sekolah tidak ada tanggapan yang memuaskan. Meskipun harus pindah, mereka berhasap kejadian serupa tidak berulang lagi.

Perlakuan yang diterima Bastian, mungkin hanya salah satu dari sejumlah kasus yang mencuat kepermukaan. Kasus diskriminasi atau bully di lingkungan anak SD itu diyakani sebagai salah satu efek negatif kampanye Pilkada DKI di mana ada pihak tertentu yang mengajarkan kepada anak-anak tentang radikalisme, kekerasan dan isu SARA untuk memenangkan Pilkada di DKI Jakarta.

Memprihatinkan memang tetapi itulah faktanya. Untuk itu, pihak keluarga berencana mengirim surat ke Negara Republik Indonesia, Presiden RP Bapak Joko Widodo, Kepolisian Republik Indonesia, Menteri Pendidikan Nasional Indonesia, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan Media Massa Indonesia. Berikut surat dan ditulis pihak keluarga dan dipublis Bearo Zalukhu melalui media sosial yang  dikutip IndependensI.com, Senin (30/10/2017).

Namanya: Josep Sebastian Zebua
Kelas IV SD – SDN 16 CIRACAS, Pasar Rebo – Jakarta Timur

Salam sejaterah untuk kita semua.
Yth: – Negara Republik Indonesia.
– Persiden RI Bpk. Jokowi Dodo.
– Kepolisian Republik Indonesia.
– Mentri Pendidikan Indonesia.
– Gubernur DKI Bpk. Anis.
– Komisi Perlindungan anak indonesia.
– Media media Indonesia

Izin melaporkan. Radikal, Sara. sudah menyebar dikalangan anak anak sekolah dasar.

Hari ini saya dapat khabar yang sangat menyedihkan. Dari Ponakan saya Josep sebastian Zebua. Pagi saya main kerumahnya tidak tau kenapa hati saya menyuruh saya datang kesana. Setibanya saya di rumah bastian (nama panggil), masih duduk didalam rumah sambil memainkan tabletnya memberian tantenya “saya” tanyakan.

Nak? Kenapa kamu tidak masuk sekolah, diam saja lalu jawab mamanya, Bastian takut datang kesekolahnya.

Kenapa tanya saya, telapak tangan bastian di perlihatkan kepada saya, sudah bengkak, tanya saya kenapa tanganya, jawab mamanya, di tusuk sama teman temanya pakai pena.

Loh kenapa, mama bastian baru ceritakan kepada saya semua, semenjak kejadian kasus Ah*k hingga kini di sempurnakan oleh “Kata Primbumi” anaknya di sebut sebut sebagai ah*k disekolahnya, teman temanya juga mengatakan bunuh ah*k yakni josep sebastian zebua, sebagai ah*k di kelasnya.

Mamanya juga menyaksikan anak di tonjok di dalam barisan, guru diam saja di depan saat upacara berlangsung, mamanya pernah menyaksikan anaknya di masuk pasir tanah didalam bajunya lewat kerak baju bagian belakang oleh anak anak yang lain, mamanya juga menyaksiakan anak di suruh menulis teras tempat ibadah, karena mereka pada saat itu mengambar didalam tempat ibadah, sebastian tidak boleh masuk didalam karena disuruh harus menjadi agama tertuntu dulu baru boleh masuk didalam kata teman temanya, dan pada saat itu guru pun menyaksikan.

Apa lagi kalau mamanya tidak disitu..????

Hingga kini josep sebastian zebua sudah dua minggu tidak pergi sekolah karena dia takut, entah bagaimana nanti nasib pendidikan ponakan saya ini.

Kemarin sore juga kejadian salah satu orang Tua anak anak sekelas bastian, meneriakan mamanya bastian dengan sebutan mama ah*k di jalan, jawab mama bastian sambil dekat sama ibu tersebut, ada apa ibu, jawab ibu tersebut anakmu tadi berantam berdarah, lalu ada anak ibu tersebut mengatakan kepada ibunya, mama yang berantam bukan bastian, bastian aja sdh dua minggu tidak masuk sekolah. Lalu ibu tersebut pergi bgtu saja.

Saya menyuruh ibunya memberikan bukti video di rekam saja, biar bisa di proses lewat hukum, namun ini terhalang, karena ibunya tak memilik HP yang punya Camera dan anak sekolah juga tak dapat membawa hp di sekolah.

Saya menulis ini karena tak ada pembuktian, kami pihak kelurga tak bisa bertindak apa apa, Kejadian ini di Wilayah, ciracas, Pasar Rebo – Jaktim

Namun saya harap pemerintah pusat maupun daerah, dan pihak terkait, memberikan perhatiannya di sekolah sekolah Negeri khusus SD karena mengingat anak anak itu masih kecil, cepat trauma korbanya dan bagaimana pelakunya nanti bila anak anak ini sudah besar.

Josep sebastian zebua ini satu satunya anak yang beragama Kristen Katolik di kelasnya hingga dia mengalami bully, kekerasan, yang sangat keji oleh teman temanya.

Selain kepada pemerintah saya harap juga kepada gereja Katolik, yayasan sekolah Katolik untuk merundingkan permasalahan ini, saya rasa ponakan saya bukan satu satu korban bully, kekerasan di sekolah yang bermayoritas dan minoritas.

Dan semoga yayasan sekolah Katolik menerima ponakan saya sekolah, dengan keringanan,(kami lagi proses pemindahan), dan saya harap yayasan sekolah Katolik bersahabat bagi mereka yang kurang mampu.

Semoga berbagai pihak terkait memikirkan apa yang terjadi ini, supaya anak anak lain tidak menjadi putus sekolah, tidak menjadi korban bully dan kekerasan di dalam lingkup sekolahnya.

~Bearo “Boni” Zalukhu~