Petugas keamanan AS menyelidiki lokasi peristiwa truk maut di New York, Selasa (31/10/2017). Sebanyak delapan orang tewas dan 11 lainnya luka parah setelah diseruduk sebuah truk pikap. (AFP)

Pelaku Teror New York Diduga Jihadis

JAKARTA (IndependensI.com) – Otoritas keamanan Amerika Serikat menduga pengemudi truk maut di New York adalah jihadis.

Pelaku teror itu menabrakkan truk pikapnya ke arah pejalan kaki dan pengendara sepeda pada Selasa (31/10/2017). Serangan itu menewaskan delapan orang dan menyebabkan 11 orang luka parah.

Pawai Halloween tetap digelar sesuai rencana untuk menegaskan bahwa warga New York tidak tunduk terhadap aksi teror.

Perdana Menteri Inggris Theresa May menyatakan simpatinya untuk para korban. Dia mengatakan Inggris siap mendukung New York untuk “bersama-sama mengalahkan kejahatan terorisme”.

Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menunjukkan solidaritasnya. “Perjuangan kita untuk kebebasan menyatukan kita lebih kuat dari sebelumnya,” cuit Macron di Twitter.

Truk Seruduk Pejalan Kaki, Delapan Tewas

Otoritas keamanan AS masih terus melakukan penyelidikan untuk mencari latar belakang pelaku dan motivasinya. Sejauh ini, pelaku sepertinya melancarkan serangan sendirian dan bukan bagian dari rencana teror yang lebih luas.

Media AS menduga pelaku adalah seorang jihadis karena meneriakkan “Allahu akbar”. Kepala kepolisian New York, James O’Neill, membenarkan laporan media tersebut.

“Jika kita memerhatikan MO serangan, semuanya konsisten dengan apa yang terjadi sehingga kami bisa memastikan bahwa kejadian itu adalah aksi terorisme,” katanya.

Televisi setempat memberitakan pelaku bernama Sayfullo Saipov yang berdomisili di Tampa, Florida. Berdasarkan laman registrasi WhitePages, laki-laki berusia 29 tahun asal Uzbekistan itu bermukim di Tampa sejak Juni 2011. Pelaku juga punya alamat lain di Ohio. Saipov tercatat beberapa kali melakukan pelanggaran ringan di jalan.

Serangan ini terjadi sekitar lima bulan setelah seorang veteran angkatan laut AS menabrakkan mobilnya ke arah pejalan kaki di Times Square, Manhattan. Aksi teror pada 18 Mei 2017 itu menewaskan seorang perempuan berusia 18 tahun asal Michigan dan melukai 22 orang lainnya. Namun Wali Kota New York, Bill de Blasio, mengatakan kejadian itu bukan aksi terorisme.

Sebelumnya, gangguan keamanan paling serius di New York terjadi pada 1 Mei 2010. Saat itu, seorang imigran asal Pakistan, Faisal Shahzad, berencana meledakkan bom mobil di Times Square.

Bom yang dipasangnya gagal meledak dan pelaku ditangkap segera setelah naik pesawat tujuan Timur Tengah. Shahzad mengaku bersalah dan mengatakan aksinya adalah tindakan balas dendam atas tewasnya warga negara Pakistan karena serangan drone AS di negaranya. Dia dinyatakan bersalah dan dihukum kurungan penjara seumur hidup.