Sergius Sutanto (kiri) berfoto dengan Evawani Alissa, putri mendiang Chairil Anwar, pada peluncuran buku “Ini Kali Tak Ada Yang Mencari Cinta” di toko buku Kinokuniya, Plaza Senayan, Jakarta, 9 November 2017.

Pemberontakan Batin Sang “Binatang Jalang”

JAKARTA (IndependensI.com) – Satu novel fiksi sejarah pendiri angkatan 45, sang “Binatang Jalang” Chairil Anwar, karya penulis berbakat, Sergius Sutanto, telah diluncurkan di toko buku Kinokuniya, Plaza Senayan, Jakarta pada 9 November 2017.

Peluncuran novel berjudul “Ini Kali Tak Ada Yang Mencari Cinta” diterbitkan oleh penerbit Mizan Pustaka  ini berlansung sangat meriah. Penampilan lagu sajak Chairil Anwar berjudul “Hampa” dengan iringan alunan indah akustik MJ dan The Carousell, telah membuat merinding tamu undangan yang hadir. “Indah ya, paduan musik dan sajaknya, bikin merinding,“ ujar Sofie, salah satu tamu udangan yang hadir.

Setelah penampilan apik akustik MJ dan The Carousell, dilanjutkan dengan acara Talk Show dengan pembicara tunggal penulis bukunya, Sergius Sutanto yang dipandu oleh  Hasan Asphani, yang juga seorang penyair dan penulis buku “Chairil: Sebuah Biografi”.

Mengawali pembicaraannya, Sergius Sutanto menjelaskan, meskipun banyak penulis yang mengulik bait-bait sajaknya dan kemudian menginterpretasikankannya kembali dalam bentuk buku, namun belum ada penulis yang mengangkat bagaimana kisah hidup sang “Binatang Jalang” tersebut.

Inilah yang membuat Sergi Sutanto  tertarik untuk membuat kisah hidup Chairil Anwar dari masa kecil hingga kematiannya, dalam sebuah novel fiksi. Di buku ini, pembaca tidak akan banyak menemukan sajak-sajak yang romantis maupun humanis, karena memang Sergius Sutanto lebih fokus mengupas tentang perjalanan hidup Chairil.

“Benar, ini adalah buku tentang kisah hidup Chairil sejak kecil hingga meninggal dunia. Sudah banyak buku lain tentang Chairil, namun belum pernah menemukan  buku tentang Chairil yang mengambarkan masa kecilnya, kenakalannya seperti apa,” jelasnya

“Saya suka riset. Saya mau penelitian kecil-kecilan. Apa sih yang membuat Chairil menyebut dirinya itu binatang jalang. Dan akhirnya saya temukan. Chairil itu punya satu dendam masa lalu pada orang yang dicintainya. Makanya dia harus merasa jadi binatang jalang dari kumpulannya yang terbuang,” sambung Sergius, yang juga penulis buku Hatta dan Mangun ini.

“Di buku ini tidak ada puisi, karena di sini riset, ingin menguak kisah hidup seseorang. Saya ingin menulis berdasarkan apa yang saya mau. Aku mau ambil angle pemberontakan batin. Kalau ada puisi dalam buku ini, ya, cuma sekadar penggambaran karakter saja, kalau Chairil itu adalah penyair,” lanjutnya

Sergius mengaku, ia membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk riset mengenai sosok Chairil Anwar, penulisan selama tiga bulan, dan proses editing selama tiga bulan, jadi kurang lebih 1,5 tahun  menyelesaikan buku ini. Ada banyak kendala dalam melakukan risetnya, minimnya informasi pustaka dan narasumber mengenai kehidupan masa kecil Chairil cukup menyulitkannya dalam melakukan pengembangan cerita.

Beberapa sumber yang dijadikan referensi Sergius untuk menulis adalah buku ‘Aku’ milik Sjuman Djaya, buku skripsi milik Arief Budiman berjudul ‘Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan’, dan tentunya informasi dari putri tunggal Chairil, yakni Evawani Alissa.

“Saya lebih fokus nanya ke bu Eva saja. Saya juga merasa buku Pak Sjuman Djaya itu sangat mewakilkan ya, sebuah interview itu dibuat dengan wawancara narasumber yang masih hidup,” kata dia.

Sebelum memutuskan untuk memilih judul “Ini Kali Tak Ada Yang Mencari Cinta”, Sergius mengaku sempat berdebat dengan Eva, karena sebenarnya ia memiliki ide lain untuk dijadikan judul buku ketiganya ini.

“Tadinya mau diberi judul ‘Mampus Kau Dikoyak-koyak Sepi’, salah satu sajak Chairil. Tapi kan, menulis buku biografi harus ada toleransi. Ada masanya ketika seorang penulis egonya harus berhenti di satu titik. Kalau nulis buku biografi, masih ada hak dari ahli waris yang harus kita dengarkan,” ujar Sergius.

“Iya, waktu itu Mas Sergius ngontak saya via telepon. ‘Mbak Eva, kita ambil judul ‘Mampus Kau Dikoyak-koyak Sepi. Saya bilang, ‘Aduh, bombastis, ya. Enggak ada yang lain?’. Terus kemudian ngobrol-ngobrol ada masukan lagi, akhirnya terpilih ‘Ini Kali Tak Ada Yang Mencari Cinta,” ungkap Eva.

Jadi, bila tidak menghadirkan puisi-puisi Chairil dalam buku ini, terus apa yang akan disampaikan ke pembaca melalui bukunya?

“Buku ini saya persembahkan untuk mereka yang berani hidup. Saya tidak ingin memuji banyak Chairil dalam buku ini. Tapi, satu yang saya tahu soal dia, dia adalah orang yang berani untuk hidup,” pungkasnya. (Siswo Hadi)