![]()
JAKARTA (Independensi.com) – Sastrawan dan intelektual publik Denny JA kembali menghadirkan delapan buku puisi esai yang merekam berbagai luka sejarah Indonesia dan dunia. Melalui karya-karya tersebut, ia berupaya menghadirkan sejarah dari sudut pandang mereka yang sering terlupakan: para korban, mereka yang kalah, dan mereka yang tersisih dari narasi besar sejarah.
“Sejarah acapkali ditulis oleh pemenang. Tapi puisi esai justru merekam sejarah dari mereka yang kalah dan menjadi korban,” ujar Denny JA dalam keterangan yang dirilis Penerbit CBI, Kamis (12/3/2026).
Menurut penerbit, delapan buku ini bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan rangkaian karya sastra yang merekam pengalaman manusia menghadapi konflik sosial, diskriminasi, tragedi politik, hingga bencana ekologis. Dalam puisi esai, sejarah yang biasanya tampil sebagai angka dan kronologi dalam buku pelajaran dihadirkan kembali sebagai kisah manusia yang hidup.
Salah satu kisah yang menggambarkan pendekatan tersebut adalah cerita tentang Lina, seorang perempuan yang setiap Kamis datang ke sebuah stasiun kereta untuk menunggu suaminya yang hilang sejak kerusuhan Mei 1998. Penantian yang berlangsung ratusan Kamis itu menjadi simbol luka sejarah yang belum selesai.
Kisah tersebut terinspirasi dari Aksi Kamisan, gerakan keluarga korban pelanggaran HAM berat yang setiap Kamis berdiri diam di depan Istana Negara dengan payung hitam sebagai simbol perjuangan mencari keadilan.
Puisi Esai: Sastra yang Memadukan Fakta dan Emosi
Puisi esai merupakan genre sastra yang memadukan keindahan bahasa puisi dengan kedalaman refleksi esai. Bentuk sastra ini pertama kali diperkenalkan Denny JA pada 2012 melalui buku Atas Nama Cinta.
Berbeda dari puisi pada umumnya yang lebih bebas dalam imajinasi, puisi esai berakar pada peristiwa nyata. Setiap kisah biasanya disertai catatan kaki yang menjelaskan konteks sejarah, sehingga pembaca tidak hanya merasakan emosi cerita, tetapi juga memahami latar faktualnya.
Sejak diperkenalkan lebih dari satu dekade lalu, puisi esai berkembang menjadi gerakan sastra lintas negara. Hingga tahun 2026, Festival Puisi Esai ASEAN telah digelar lima kali dan melibatkan penulis dari berbagai negara Asia Tenggara.
Inovasi sastra ini juga mendapat pengakuan internasional. Pada tahun 2025, Denny JA menerima BRICS Literary Award atas kontribusinya memperkenalkan bentuk baru sastra yang memadukan puisi, jurnalisme, dan refleksi sejarah.
Delapan Buku, Peta Luka Sejarah
Delapan buku puisi esai yang dipublikasikan kembali oleh Penerbit CBI membentuk semacam peta sejarah yang luas, mulai dari persoalan diskriminasi sosial hingga tragedi global.
Buku Atas Nama Cinta (2012) mengangkat kisah cinta yang hancur oleh prasangka sosial, rasial, dan agama.
Kutunggu di Setiap Kamisan (2018) terinspirasi dari perjuangan keluarga korban penghilangan paksa pasca-Reformasi.
Sementara itu, Jeritan Setelah Kebebasan (2015) merekam konflik sosial dan kekerasan etnis serta agama setelah Reformasi, termasuk tragedi di Maluku dan Sampit.
Empat buku berikutnya memperluas cakupan sejarah. Yang Tercecer di Era Kemerdekaan (2024) menghadirkan kisah romusha, jugun ianfu, dan korban kolonial yang jarang muncul dalam buku sejarah.
Mereka yang Mulai Teriak Merdeka (2024) menggambarkan perjalanan tokoh pergerakan nasional seperti Kartini, Tirto Adhi Soerjo, hingga Bung Karno sebagai manusia yang bergulat dengan gagasan kemerdekaan.
Adapun Mereka yang Tak Bisa Pulang di Tahun 1960-an (2024) menceritakan nasib para eksil Indonesia pasca-tragedi 1965 yang hidup puluhan tahun di luar negeri tanpa tanah air.
Dalam buku Yang Menggigil dalam Arus Sejarah (2025), Denny JA membawa pembaca melintasi tragedi dunia seperti Holocaust, Hiroshima, Revolusi Prancis, dan perang Vietnam.
Sementara karya terbarunya, Atas Nama Bencana (2026), mengangkat tragedi ekologis di Sumatra dan menyoroti bagaimana bencana sering kali merupakan akibat dari keputusan manusia.
Sastra sebagai Upaya Merawat Ingatan
Jika dibaca sebagai satu rangkaian, delapan buku ini memperlihatkan perjalanan batin seorang penulis yang terus memperluas lingkar empati. Dari kisah cinta yang terluka oleh diskriminasi, kemudian beralih pada luka sejarah bangsa, hingga tragedi kemanusiaan dunia dan kerusakan bumi.
Puisi esai, menurut Denny JA, menjadi cara untuk merawat ingatan kolektif manusia.
Dalam tradisi sastra dunia, karya yang menempatkan penderitaan manusia sebagai pusat cerita bukanlah hal baru. Penulis seperti Victor Hugo melalui Les Misérables, Aleksandr Solzhenitsyn melalui The Gulag Archipelago, hingga Elie Wiesel melalui Night juga menuliskan kesaksian tentang luka sejarah.
Puisi esai, kata Denny JA, berdiri dalam tradisi moral yang sama, tetapi dengan bentuk berbeda memadukan puisi, jurnalisme, dan refleksi sejarah dalam satu karya.
Pada akhirnya, delapan buku ini mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya milik para pemenang. Ia juga milik mereka yang hilang, terluka, dan dilupakan.
“Melalui puisi esai, angka berubah menjadi manusia, peristiwa menjadi pengalaman, dan sejarah menjadi suara,” tulis Denny JA.
Bagi sang penulis, sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh kemenangan, tetapi juga oleh keberanian untuk mengingat lukanya sendiri.

