Pasangan Bupati dan wakil Bupati Kuansing Riau. (foto: Maurit Simanungkalit)

Hubungan Bupati-Wakil Bupati Kuansing Diambang Perpecahan

 

  • PEKANBARU (IndependensI.com)- Hubungan H Mursini Bupati Kuantan Singingi (Kuansing) Provinsi Riau dengan H Halim Wakil Bupati, diambang perpecahan. Pasangan yang diusung PPP, Gerindra dan PDI Perjuangan pada Pilkada Kabupaten Kuansing periode 2016-2021 itu, terlihat kurang kondusif. Wakil Bupati H Halim mengaku siap melepas jabatan meski masih tersisa 2 tahun lagi

Namun menurut Bupati Mursini bahwa, hubungannya dengan H Halim selaku Wakilnya, tidaklah seperti yang digembar-gemborkan media. Komunikasi masih berjalan baik, dan dalam waktu dekat ini, saya akan menggelar pertemuan dengan H Halim, sekarang lagi sibuk dalam pelaksanaan Musrembang.

Penjelasan yang cenderung kontroversial itu disampaikan Bupati Kuansing Mursini dan Wakil Bupati H Halim, pasangan dengan jargon “Mudha” yang di usung tiga partai yaitu PPP, Gerindra dan PDI Perjuangan ini, saat dihubungi IndependensI secara terpisah, di Taluk Kuantan-Kuansing, Riau.

Menurut H Mursini, pihaknya akan segera menggelar pertemuan dengan Wakilnya H Halim, untuk menyelesaikan persoalan antara dirinya dengan wakilnya tersebut. Apalagi dalam pemberitaan di media cetak maupun media on line, dikait-kaitkan dengan masalah hutang Pilkada, semua masalah akan kami selesaikan secepatnya.

Kita sangat mengharapkan, agar masyarakat jangan terpancing terhadap issu-issu yang akan memecah-belah hubungan Bupati dan Wakil Bupati Kuansing. Pasti ada jalan keluar dalam menyelesaikan permasalahan ini. Sejauh ini komunikasi kami lancar, hubungan saya dengan Pak Wabup baik-baik saja. “Biar kami berdua yang menyelesaikan permasalahan ini”, kata Mursini

Sementara Wakil Bupati H.Halim mengatakan, rasa kecewanya terhadap Bupati Mursini meledak, setelah dilaksanakannya pelantikan pejabat di lingkungan Pemkab Kuansing pada hari libur lalu. Waktu itu, nama-nama pejabat yang akan dilantik, sudah kami susun bersama dan tidak ada kendala lagi , tinggal menunggu hari H acara pelantikan.

Lebih tragisnya lagi, kata H Halim, waktu pelantikan yang waktunya bertepatan dengan hari libur, saya ditugaskan untuk menghadiri acara diluar daerah. Pada kesempatan yang tidak saya hadiri itu, acara pelantikan-pun digelar, dan nama-nama yang tadinya sudah disepakati untuk dilantik, diganti dengan nama-nama lain. “Saya kecewa, bahkan sudah dua kali seperti ini dilakukan Bupati”, kata Halim berapi-api.

Dulu, kata Halim lagi, komitmen awal saat kampanye akan selalu bersama, duduk bersama bagaimana agar Kuansing ini sejahtera. Namun sudah 2 tahun berjalan, apa yang terjadi, tidak ada komunikasi. Selama ini saya hanya banyak diam dan menurut saja. Saya menyadari semua kebijakan tergantung Bupati. “Jika komitmen tidak dilaksanakan, kapan Kuansing sejahtera”, ujarnya dengan nada tanya

Sebelumnya, Wakil Bupati H Halim juga pernah menyampaikan, dananya habis bahkan sampai mencari dana pada pihak ketiga dengan jaminan dirinya. Dana itu dipergunakan untuk penjajakan partai pengusung, hingga pemenangan pasangan MH, dan akan dibayar setelah duduk bahkan dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kuansing.

Namun sampai hari ini kata Halim lagi, pinjaman itu tidak ada kejelasannya dari pemerintahan Mursini – Halim (MH). “Mau di bagaimanakan hutang ini, sementara Pak Zul tak jadi-jadi Sekda”, kata Halim dengan nada kecewa.

Sementara Zulkifli mantan Wakil Bupati Kuansing periode 2009-2014 yang sebelumnya dijanjikan akan menjabat Sekda Kuansing sebagaimana diberitakan Go Riau.Com mengatakan, saat pilkada lalu, mereka yang dijuluki Trio MH – Z sudah berkomitmen akan bahu-membahu dalam memenangkan pasangan MH di Pilkada Kuansing periode 2016-2021. Berhubung janji sebelum Pilkada tidak kunjung terealisasi, akhirnya, somasipun dikirimkan ke Bupati Mursini.

Tiga kali saya somasi, namun tak satupun dibalas. Sedangkan isi dalam somasi itu adalah, bukan masalah jabatan sebagaimana di isukan orang selama ini yang berkaitan dengan komitmen kami dulu. Somasi itu lebih kepada utang kepada toke yang jumlahnya Rp 12 miliar. “Saya minta kejelasan terkait hutang itu pada Bupati Mursini, sebab saya tak mau mati meninggalkan hutang”, kata Zulkifli

Zulkifli mengisahkan, pada tahun 2015 lalu, pada awalnya yang ingin maju di Pilkada Kuansing adalah pasangan Mursini – Zulkifli. Akan tetapi menyangkut dana yang sangat minim, akhirnya saya iklas memajukan Halim yang selama ini berkecimpung di dunia usaha, dipasangkan dengan Mursini, dan mereka sepakat mengangkat saya sebagai Sekda mengingat masa pensiun masih ada 2 tahun lagi.

Dalam perjalanan, pasangan MH kehabisan dana dan kami kembali duduk bersama mencari solusi. Untuk melanjutkan perjuangan baik pemenuhan partai termasuk dana pemenangan. Satu-satunya jalan harus mencari pinjaman dari toke dalam hal ini Syamsuir alias Sensui. “Namanya berjuang, ibarat pepatah, kalau kayu habis, jenjang dikeping, kalau perlu rumah digadai”, ujar Zulkifli

Poin lain dalam somasi yang dikirimkan kepada Mursini adalah dana pribadi yang habis selama masa Pilkada tidak kurang dari Rp 4,5 miliar. Saya telah berusaha mencari pinjaman kemana-mana demi suksesnya pasangan Mursini – Halim. Tapi saat disomasi, Mursini melalui keponakan saya berjanji akan mengembalikan uang saya, namun tidak sepenuhnya. “Sayangnya kata Zulkifli, sampai saat ini, satu rupiahpun belum ada dikembalikan”, tegasnyaNamun statemen yang menyatakan adanya aliran dana untuk Partai pengusung pasangan Mursini – Halim pada Pilkada Kuansing lalu ini, dibantah Sardiyono Ketua DPC PPP Kuansing. Menurut Sardiyono, pihaknya tidak pernah menerima aliran dana saat mengusung pasangan Mursini – Halim di Pilkada Kuansing tahun 2016 lalu.(Maurit Simanungkalit)