Longsor di Kawasan Puncak. (Ist)

Pakar ITB: Longsor di Puncak Tak Terjadi Begitu Saja

JAKARTA (Independensi.com) – Sejak Senin (5/2/201) pagi hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Saat hujan mengguyur, bongkahan tanah turun dari lereng bukit hingga menutup badan jalan sepanjang 20 meter di sekitar Masjid At-Taawun, yang berada di Jalan Raya Puncak. Akses jalan dari dan menuju Bogor-Cianjur langsung terputus.

Longsor di kawasan Puncak memang tak terjadi begitu saja. Kawasan ini memang dikenal sebagai kawasan yang potensial dilanda bencana tanah amblas. Pucuk soalnya, kawasan ini punya kontur tanah yang cukup ekstrem.

Dosen Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas menuturkan, kontur tanah ekstrem di Puncak merupakan salah satu dari lima parameter longsor. Argumentasi ini berdasarkan hasil riset yang dilakukannya di kawasan Ciloto dan Megamendung.

Heri menyebut, kemiringan tanah ini biasanya disertai dengan ditemukannya bidang gelincir. “Kalau ketemu bidang gelincir di daerah miring kontur ekstrem, itu parameter kedua daerah itu rawan longsor,” kata Heri seperti dikutip laman tirto.

Selain kontur tanah dan bidang gelincir, ada parameter daerah jenuh air dan tutupan lahan. Selanjutnya, curah hujan juga menjadi parameter untuk mendeteksi sebuah kawasan rawan longsor atau tidak.

“Jadi kalau satu daerah dengan curah hujan yang tinggi dengan parameter saling dukung, otomatis lebih meningkat lagi kerawanan [longsornya],” ucap Heri.

Kelima parameter tersebut, tampak di kawasan Puncak. Menurutnya kawasan Ciloto merupakan kawasan paling tampak sebagai kawasan rawan longsor dari hasil penelitiannya. Heri menyebut, sejumlah tempat di Ciloto sudah dipasang sheet pile buat menyangga tanah.

“Kelimanya ada di situ. Itu sudah mendukung semua,” ucap Heri.

Ia menyarankan, Pemerintah Kabupaten Bogor segera melakukan mitigasi bencana dengan melakukan sejumlah langkah di antaranya meminimalisasi permukiman warga, menanam pohon-pohon yang berakar kuat, serta menghilangkan danau atau genangan air di atas perbukitan. Langkah ini, kata Heri, perlu dilakukan guna menghindari potensi bencana.

“Kalau tidak memungkinkan, harus ada proses engineering [rekayasa]. Tak kalah penting, kalau punya effort lagi ya monitoring harus segera dilakukan,” kata Heri.

Bencana longsor juga menerjang wilayah Kabupaten Bogor lainnya pada hari yang sama. Longsor terjadi di Desa Warung Menteng, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.

Di lokasi terakhir, longsor mengakibatkan dua rumah tertimbun dan tanah pondasi penyokong rel kereta api Sukabumi-Bogor sepanjang 10-an meter amblas, sehingga rel tampak menggantung.

Menurut Sutopo Purwo Nugroho, BNPB memperkirakan ada empat orang yang tertimbun longsor di lokasi tersebut. “Evakuasi masih dilakukan,” ucap dia. Sampai berita ini ditulis belum ada pernyataan resmi dari pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI). (berbagai sumber/eff)