Djoko Tarwanto alias Jokjoker (Dokumentasi)

Jokjoker: Antara Pantomim dan Kopi

JAKARTA (IndependensI.com) – Alumni SMA Negeri 63 Petukangan Utara angkatan 1983 ini nama aslinya Djoko Tarwanto. Tapi, suami Sugiyanti dan ayah dua orang laki-laki bernama Refian Faila dan Iban Ramadan ini lebih dikenal dengan panggilan akrab Jokjoker (Joko Keriting).

Penampilan lelaki kelahiran Jakarta 6 September 1967 sangat khas. Selain berambut keriting, tinggi badannya pun hanya sekitar satu meter lebih sedikit.

Ekspresi wajahnya lugu. Dengan fisik tergolong “mungil” untuk ukuran seorang lelaki dan berwajah “tanpa dosa”, wajar banyak yang tidak percaya bila usia Jokjoker sudah lebih dari setengah abad pada September 2018 mendatang.

Sebelum dikenal sebagai seniman pantomim Jokjoker adalah pemain teater yang tergabung di group Teater Aquila yang dipimpin dan disutradarai Rik A Sakri.

Banyak lakon teater yang telah dimainkannya bersama Teater Aquila yang tempat latihan dan home base-nya berada di Gelanggang Remaja Jakarta Selatan yang berlokasi di Jalan Bulungan.

Berbicara masalah pemain teater yang di kemudian hari lebih dikenal sebagai seniman pantomim – dalam konteks Komunitas Seni Bulungan – Jokjoker merupakan “generasi penerus”.

Pasalnya, selain Jokjoker, ada juga budayawan Radhar Panca Dahana yang pada 1980-an sangat piawai ber-pantomim-ria.

Bahkan budayawan tersebut – saat masih berproses dalam dunia seni – pernah menjadi juara harapan pertama dalam kontes pantomim yang terjadi menjelang akhir 1970-an. Pesaing Radhar pada saat itu adalah anak-anak LPKJ (kini IKJ) seperti Afrizal Anoda, Sena Utoyo dan lain-lain.

Jokjoker sendiri memang belum pernah ikut kontes atau lomba, karena sepanjang IndependensI.com ketahui tidak ada lagi kontes atau lomba pantomim – seperti yang pernah terjadi saat Radhar Panca Dahana merebut gelar juara harapan.

Namun, ada lomba atau tidak, Jokjoker tetap konsisten dengan pilihan hidupnya sebagai seniman pantomim.

Meskipun begitu bukan berarti dia meninggalkan “habitat”-nya sebagai pelaku teater. Dan, berkat komitmen yang kuat, menjadi sangat wajar apabila Jokjoker merambah dunia sinetron dan film di kemudian hari.

Betul bahwa dalam sinetron dan film di mana dia terlibat di dalamnya dia menjadi pemeran utama.

Namun, ketika dia terlibat dalam 6 episode “Spontan” yang disutradarai Toto Hudi dan 12 episode dalam sinetron berjudul “Wong Cilik” arahan sutradara Karsono Hadi – diakui atau tidak – itu adalah torehan prestasi yang, belum tentu setiap orang dapat merasakan atau menikmatinya.

Dari sinetron Jokjoker merambah dunia film. Jokjoker ikut bermain antara lain di “Kejar Jakarta” dan “Get Married 2”. Yang terbaru adalah film bergenre komedi horor yang disutradarai Anto Lupus.

Judulnya? “Rahasia dong, Mas,” sahutnya sambil tertawa nyengir dengan ekspresi wajah lucu yang tidak dibuat-buat. “Harus lucu, Mas. Soalnya di group WA Teater Aquila, kalau nggak lucu .. nanti disetrum.” Gurau Jokjoker sambil terbahak. Tetap saja lucu ekspresi wajahnya.

Jokjoker mengaku bahwa kemungkinan besar kalau dia – selepas SMA – tidak “hijrah” ke Bulungan dan bergabung dengan Teater Aquila, entah akan menjadi apa. “Di teater, selain bakat dan kemampuan terus terasah, sebagai seniman saya juga banyak belajar dari para senior yang ada di Bulungan,” katanya.

Yang jelas, berkat “persinggungan”-nya dengan para senior, Jokjoker pun tidak canggung saat tampil sebagai MC di acara off air.

Sebagai seorang suami dengan dua orang anak – seperti halnya keluarga lainnya – Jokjoker pun mengaku tidak mungkin bisa lepas dari problema kehidupan berumahtangga.

“Bohong besar lah, Mas, kalau saya tidak punya masalah,” kata Jokjoker, serius. “Tapi, saya selalu bersyukur kehadirat Allah SWT, karena saya punya istri yang bisa memahami kehidupan suaminya… Juga anak-anak yang bangga meski ayahnya seniman… dan mereka alhamdullilah baik-baik saja perilakunya, baik di rumah maupun saat berada di sekolah dan teman-temannya.”

Buka Kedai

Sadar bahwa job untuk manggung dan lainnya tidak bisa datang setiap waktu, untuk mengisi kekosongan hidup sehari-hari Jokjoker membuka Kedai Kopi Nusantara di kawasan Cilandak – tidak jauh dari rumahnya yang berada di Pondok Labu, Jakarta.

Sesuai namanya Kedai Kopi Nusantara, kopi yang dihidangkannya pun berasal dari seluruh Indonesia.

“Kopinya sama, Mas. Sama-sama item dan pait dan baru terasa manis kalau disertai gula,” katanya.

Meskipun hanya sebagai usaha sambilan, Jokjoker benar-benar total dan all out mengelola kedai kopinya.

“Tapi, kalau ada job ngeMC atau manggung sebagai pantomim-er, warung tutup sementara… Maklumlah, Mas, saya masih belum mampu menggaji orang he he he,” katanya sambil nyengenges. “Tapi, saya tetap bersyukur, walaupun kedai tutup sampai dini hari, alhamdullilah Allah SWT memberkahi saya dengan kesehatan yang baik…”

“Mungkin Anda bisa membuat orang bersuka cita sehingga Anda awet muda dan sehat, Jok?!”

“Mungkin juga, Mas. Yang pasti, saya sendiri pun takut disetrum oleh teman-teman di grup WA. Jadi, saya selalu berusaha untuk melucu agar orang senang dan bahagia…”

Yo yo yo!!!

(Toto Prawoto)