Garda Revolusi Islam Iran (Foto: AFP)

AS Beri Iran Sanksi Baru

JAKARTA (IndependensI.com) – Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap enam individu dan tiga perusahaan yang disebut berhubungan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan sanksi terhadap mereka yang dituduh mengalirkan dana jutaan dolah untuk IRGC. Dana itu diduga digunakan untuk membiayai “kegiatan jahat”.

Bank sentral Iran juga dituduh membantu IRGC mengakses uang dalam bentuk dolar AS tersebut.

Departemen Keuangan AS tidak merinci siapa saja yang dikenakan sanksi. Tapi lembaga itu memastikan bahwa semua individu yang masuk daftar hitam tersebut adalah warga negara Iran.

Individu dan lembaga AS juga dilarang berbisnis dengan mereka. Kebijakan ini diambil setelah pemerintah AS bekerja sama dengan Uni Emirat Arab (UEA) untuk melacak aliran dana.

“Rezim Iran dan bank sentralnya telah menyalahgunakan akses ke sejumlah entitas di UEA untuk mendapatkan dolar AS yang dipakai membiayai kegiatan jahat (yang dilakukan IRGC), termasuk mendanai dan mempersenjatai kelompok pemberontak regional,” kata Mnuchin seperti dikutip kantor berita BBC, Jumat (11/5/2018).

“Kami bermaksud memotong aliran pendapatan IRGC dari mana pun sumbernya dan ke mana pun tujuannya,” ujarnya menambahkan.

IRGC dibentuk pada 1979 untuk mempertahankan pemerintahan Islam Iran. Seiring waktu, angkatan bersenjata Iran itu mendominasi militer, politik, dan perekonomian Iran. Sanksi baru dari AS secara spesifik membidik kepanjangan tangan operasi IRGC di luar negeri yaitu Pasukan Quds.

Presiden AS Donald Trump mencap kelompok itu sebagai “pasukan dan milisi teror”, dan pada Oktober 2017 sudah memberangus mereka dengan sanksi ekonomi.

Sanksi terbaru ini keluar hanya dua hari setelah AS mundur dari kesepakatan nuklir Iran. Waktu itu, Trump menegaskan bakal terus menekan Teheran.

Perjanjian yang ditandatangani pada 2015 membatai kegiatan nuklir Iran. Imbalannya, AS, Uni Eropa, dan PBB mencabut sanksi atas negara itu.

Keputusan Trump membatalkan kesepakatan disebut sebagai “kekeliruan” oleh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Sementara itu, Israel menuduh Pasukan Quds Iran meluncurkan 20 roket ke posisi militernya di Suriah pada Kamis pagi. Angkatan Pertahanan Israel (IDF) melaporkan bahwa empat roket berhasil dicegat. Sebanyak 16 roket lain jatuh di luar sasarannya di kawasan Dataran Tinggi Golan.

Masuknya tentara Iran yang ditugaskan membantu Presiden Suriah Bashar al-Assad membuat Israel siap siaga. Israel kemudian melancarkan serangan balasan untuk membalas Quds.

IDF mengerahkan jet tempurnya untuk menyerang 70 target militer yang dimiliki Iran di wilayah Suriah. Serangan itu disebutkan menyebabkan kerusakan parah. Posisi yang diincar meliputi gedung komando intelelijen, pos militer, dan gudang senjata.

Rusia, Jerman, dan Prancis meminta kedua negara menahan diri demi mencegah konflik yang lebih panas. Tapi AS menuding Iran yang “bertanggung jawab penuh sebagai konsekuensi dari tindakannya yang ceroboh” dan bahwa Israel berhak mempertahankan diri.