Arca Totem Petunjuk Uud Danum Sebagai Dayak Tertua di Kalimantan

PONTIANAK (IndependensI.com) – Arca totem berbadan harimau di lereng Bukit Beribit, Desa Tanjung Andan, Kecamatan Momaluh (Ambalau), Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, mengindikasikan Uud Danum sebagai salah satu kelompok Suku Dayak tertua di Kalimantan.

Penemuan arca totem pada 4 – 12 Juli 2010, saat delegasi World Wide Fund for Nature (WWF) Kalimantan Barat dipandu Komunitas Dayak Uud Danum Pontianak, melaporkan ada penduduk sekitar menemukan arca menyerupai harimau.

Temuan arca mirip harimau itu diperkuat oleh cerita rakyat setempat, yakni masyarakat Dayak Uud Danum, bahwa jauh sebelum perjanjian Tumbang Anoi tahun 1894, arca mirip harimau itu digunakan untuk menjaga rumah panjang di Bukit Beribit milik Suku Dayak Uud Danum yang akan diserang Suku Dayak Iban.

Menanggapi temuan itu, peneliti Balai Arkeologi Banjarmasin, Vida Pervaya Rusianti Kusmartono, mengatakan, kesimpulan mengenai arca mitologis yang sering disebut totem, masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Tapi arca totem di lereng Bukti Beribit ini, diprediksi dibangun tahun 600 Masehi di tengah pemukiman Suku Dayak Uud Danum. Inilah yang menjadi argumentasi kelompok Uud Danum sebagai subsuku Dayak tertua di Kalimantan.

Suku Dayak diklaim sebagai penduduk asli, apabila dilihat sebagai konteks pertama kali menginjakkan kaki di Kalimantan. Dalam proses migrasi dari Provinsi Yunnan, Republik Rakyat Cina (RRC), Suku Dayak masuk wilayah Kalimantan pada gelombang Melayu tua atau Proto Melayu bersama Suku Batak di Sumatera pada 1.500 tahun Sebelum Masehi (SM).

Berbagai hasil studi dan penelitian, dalam memperkuat argumentasi anthropologis Bangsa Indonesia berasal dari Provinsi Yunan, RRC, baik di bidang anthropologi, folklore, linguistik dan sebagainya telah berhasil membuktikan pendapat, ras Indonesia berdasarkan sudut pandang anthropologi terbagi atas empat.

Pertama, Negrito, keturunannya antara lain Suku Tapiro di Papua. Kedua, Wedda, keturunannya antara lain Suku Toala di Sulawesi barat daya dan Suku Kubu di Sumatera Selatan.

Proto Melayu

Ketiga, Melayu Tua atau Proto Melayu, keturunannya antara lain Suku Batak di Sumatera Utara dan Suku Dayak di Kalimantan. Keempat, Melayu Muda atau Deutro Melayu, keturunannya antara lain, Suku Jawa, Bali, Makassar, Ternate dan suku-suku yang berbahasa Minangkabau.

Golongan pertama dan kedua termasuk golongan ras Negroid, sedangkan golongan ketiga dan keempat termasuk golongan ras Mongoloid. Kelompok Mongoloid yang menyebar kebanyakan beradal dari daerah sekitar Yunnan. Menurut penelitian para ilmuwan nenek moyong kita berasal dari sekitar Yunnan di Tiongkok Selatan disebut Bangsa Austria.

Selanjutnya ketika terjadi perpindahan bangsa-bangsa, ada sebagian pindah ke India belakang, dan kemudian ada rombongan lain yang pindah ke arah tenggara, yaitu Austronesia yang terjadi kurang lebih 1.300 tahun SM.

J. Malinckrodt, dalam buku berjudul: Het Adatrecht van Borneo, diterbitkan di Leiden, Belanda tahun 1928, menyebutkan stramras Uud Danum yang mempunyai Stmmen Groep der Uud Danum, Stmmen Groep der Ngaju, Stmmen Groep der Ma’anyan, Lawangan dan Doesoen (Dusun).

Suku-suku yang terdapat di atas, beridentik dengan Suku Uud Danum. Argumentasi Stammen Groep der Ngaju yang mempunyai Stamras UUd Danum lain halnya dengan Suku Dayak Maanyan.

Karena semua hulu sungai yang terdapat di wilayah Suku Dayak Ngaju berhulu di daerah pemukiman Suku Uud Danum atau berasal dari Pegunungan Schwanner. Sehingga penyebaran dari Suku Dayak Ngaju kemungkinan besar melalui arus dari beberapa sungai yang ada didaerah ini.

Dengan demikian Suku Dayak Ngaju berasimilasi dengan penduduk yang bermukim di tepi sungai yang asalnya dari daerah Pegunungan Schwanner sebagai tempat pemukiman tetap dari Suku Uud Danum.

Dalam sejarah peradaban, stramras Dayak Uud Danum, pernah mendirikan kerajaan tertua di Kalimantan, yaitu dari Suku Dayak Maanyan.

Kerajaan Kutai Martadipura di Kalimantan Timur, muncul pada abad ke-4 Masehi dan selama ini diyakini sebagai kerajaan tertua di Nusantara. Namun, jauh sebelumnya, ada Kerajaan Nan Sarunai yang diperkirakan sudah berdiri sedari zaman purba alias prasejarah.

Nan Sarunai didirikan orang-orang Dayak Maanyan, stramras Dayak Uud Danum, salah satu sub Suku Dayak tertua di Nusantara, khususnya di Kalimantan bagian tengah dan selatan. Apakah Nan Sarunai sudah layak disebut kerajaan atau belum memang masih menjadi perdebatan. Namun, yang jelas, pemerintahan di Nan Sarunai berlangsung sangat lama.

Embrio Kerajaan Banjar
Eksistensi Kerajaan Nan Sarunai, baru berakhir setelah datang pasukan Majapahit dari Jawa pada pertengahan abad ke-14 M. Nan Sarunai diruntuhkan, orang-orang Dayak Maanyan (stramras Dayak Uud Danum) tercerai-berai. Namun, nantinya kerajaan ini menjadi embrio terbentuknya entitas masyarakat Kalimantan Selatan, cikal-bakal Kesultanan Banjar.

Menurut Iswara N Raditya, dalam Tirto.id, Selasa, 9 Januari 2018, Nan Sarunai diyakini berada di Amuntai, daerah yang terletak di pertemuan Sungai Negara, Sungai Tabalong, dan Sungai Balangan yang bemuara di Laut Jawa. Daerah itu berjarak sekira 190 kilometer dari Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan sekarang.

Salah satu jejak arkeologis yang digunakan untuk melacak keberadaan Nan Sarunai adalah ditemukannya bangunan candi kuno di Amuntai. Candi ini dikenal dengan nama Candi Agung, yang dipercaya menjadi salah satu simbol eksisnya peradaban orang-orang Dayak Maanyan di masa silam.

Penelitian Vida Pervaya Rusianti Kusmartono dan Harry Widianto berjudul “Ekskavasi Situs Candi Agung Kabupaten North Upper Coarse, South Kalimantan” yang dimuat dalam jurnal Berita Penelitan Arkeologi edisi Februari 1998 menyebutkan, pengujian terhadap candi tersebut telah dilakukan pada 1996.

Hasilnya, menurut Iswara N Raditya, mengutip Vida Pervaya Rusianti Kusmartono, memang mengejutkan. Pengujian terhadap sampel arang candi yang ditemukan di Amuntai itu menghasilkan kisaran angka tahun antara 242 hingga 226 Sebelum Masehi (hlm. 19-20). Apabila benar demikian, maka Kerajaan Nan Sarunai jauh lebih tua dari Kerajaan Kutai Martadipura yang berdiri pada abad ke-4 Masehi.

Dalam perkembangannya, Nan Sarunai dikenal pula dengan beberapa nama lain, seperti Kuripan, Tabalong, hingga Tanjungpuri. Khusus Tanjungpuri, ada perbedaan pendapat di kalangan peneliti bahwa nama ini bukanlah kerajaan yang sama dengan Nan Sarunai.

Iswara N Raditya, mengutip Suriansyah Ideham dkk., dalam Urang Banjar dan Kebudayaannya (2007), dalam Tirto.id, Selasa, 9 Januari 2018, menyebutkan, Tanjungpuri diyakini didirikan orang-orang Melayu Sumatera yang merupakan pelarian dari Kerajaan Sriwijaya.

Tanjungpuri dan Nan Sarunai diyakini dua entitas berbeda, tapi pernah berada dalam lingkup ruang dan waktu yang berdekatan. Keduanya sama-sama menempatkan pusat pemerintahannya di tepi anak Sungai Barito, termasuk Sungai Tabalong.
Kedatangan Melayu
Kedatangan orang-orang Melayu dari Sumatera ke Borneo itu diperkirakan terjadi pada awal abad ke-11 M, menjelang keruntuhan Kerajaan Sriwijaya. Sebagian pelarian itu lalu mendirikan komunitas yang kemudian berkembang menjadi suatu pemerintahan serta hidup berdampingan dengan orang-orang Dayak Maanyan yang bernaung di bawah Kerajaan Nan Sarunai.

Alfani Daud dalam Islam dan Masyarakat Banjar: Deskripsi dan Analisis Kebudayaan Banjar (1997) mendukung kemungkinan tersebut. Menurutnya, penduduk sebagian wilayah Kalimantan Selatan berintikan orang-orang asal Sumatera, tepatnya Palembang, yang membangun tanah baru di kawasan ini dan kemudian bercampur dengan orang-orang Dayak Maanyan.

Salah satu rujukan lain untuk menelisik eksistensi Kerajaan Nan Sarunai adalah Hikayat Banjar. Jejak peradaban lama di Nusantara memang kerap dilacak melalui historiografi tradisional, seperti hikayat atau babad.

Historiografi tradisional, menurut Iswara N Raditya, dengan mengutip Sartono Kartodirdjo dalam Historiografi Tradisional, Model, Fungsi, dan Strukturnya (1993), punya ciri-ciri menonjol dan saling berkaitan, yaitu etnosentrisme, rajasentrisme, dan antroposentrisme.

Johannes Jacobus Ras dalam Hikayat Bandjar: A Study in Malay Historiography (1968) membagi Hikayat Banjar dalam dua ragam, yakni versi Kerajaan Negara Dipa yang beragama Hindu dan versi yang disusun pada era Kesultanan Banjar yang telah memeluk Islam. Nan Sarunai adalah pemula dari dua kerajaan yang kemudian membentuk entitas orang-orang Kalimantan Selatan.

Hanya saja, Hikayat Banjar, yang ditulis sepanjang 4.787 baris atau 120 halaman, tidak terlalu banyak mengulas tentang Kerajaan Nan Sarunai. Pembahasan terutama pada masa menjelang keruntuhannya.

Bab terkait Nan Sarunai dalam Hikayat Banjar menyerupai tradisi lisan, yakni nyanyian (wadian) yang ditransmisikan secara turun temurun. Dalam Struktur Birokrasi dan Sirkulasi Elite di Kerajaan Banjar pada Abad XIX (1994), M.Z. Arifin Anis menegaskan, Tradisi lisan Dayak Maanyan ini membawa kisah jika mereka sudah memiliki “negara suku” bernama Nan Sarunai

Boleh jadi istilah “negara suku” lebih tepat untuk menyebut tata pemerintahan di Nan Sarunai daripada istilah “kerajaan”, karena keberadaan peradaban orang-orang Dayak Maanyan ini terkesan “tidak diakui” sebagai kerajaan tertua di Nusantara.

Alfani Daud (1997) memperkirakan terbentuknya pemerintahan Nan Sarunai pada masa prasejarah bermula dari bergabungnya beberapa komunitas adat Dayak Maanyan yang dipersatukan dalam suatu pusat kekuasaan yang lebih luas.

Hal ini, menurut Iswara N Raditya sebagaimana dilansir Tirto.id, didukung oleh Suriansyah Ideham dkk., (2003) yang menyebutkan ketika penataan organisasi dalam pemerintahan gabungan itu bisa dijalankan—meskipun masih sangat sederhana—terbentuklah sebuah negara suku yang dikenal sebagai Kerajaan Nan Sarunai.

Ditilik dari waktunya, pengelolaan “negara” di Nan Sarunai pada masa awal masih sangat sederhana, sehingga struktur pemerintahnya pun agak sulit ditemukan. Kekuasaan tertinggi sebagai kepala suku maupun kepala pemerintahan berada di tangan seorang “raja” yang memiliki kewenangan untuk mewariskan kekuasaannya.

Kendati begitu, eksistensi Nan Sarunai sebagai “negara suku” atau “kerajaan tradisional” mampu bertahan hingga ribuan tahun. Nan Sarunai dianggap sudah tidak lagi menganut konsep pemerintahan “primitif” pada awal abad ke-12 M saat dipimpin raja bernama Raden Japutra Layar yang bertakhta sejak 1309.

Sepeninggal Raden Japutra Layar, roda pemerintahan di Kerajaan Nan Sarunai secara berturut-turut dilanjutkan oleh Raden Neno (1329-1349) kemudian Raden Anyan (1349-1358). Raden Anyan yang menyandang gelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas disebut-sebut sebagai raja terakhir Nan Sarunai.

Keruntuhan Kerajaan Nan Sarunai mulai terjadi pada masa-masa akhir pemerintahan Raden Anyan. Riset Sutopo Urip Bae yang dirujuk Abdul Rachman Patji dalam Etnisitas & Pandangan Hidup Komunitas Sukubangsa di Indonesia: Bunga Rampai Kedua Studi Etnisitas di Sulawesi Tengah dan Kalimantan Selatan (2010) menyebut bahwa kerajaan ini pernah diserang Majapahit pada 1358.

Atas perintah Hayam Wuruk, pasukan Majapahit pimpinan Empu Jatmika menyerang Nan Sarunai hingga takluk. Oleh para seniman lokal, tragedi runtuhnya Nan Sarunai ini diungkapkan dalam puisi ratapan atau wadian dalam bahasa Maanyan yang disebut peristiwa “Usak Jawa” atau “Penyerangan oleh Kerajaan Jawa” (Fridolin Ukur, Tanya Jawab Tentang Suku Dayak.

Kemudian, Empu Jatmika membangun kerajaan baru bernama Negara Dipa yang bernaung di bawah kekuasaan Majapahit dan menganut agama Hindu.

Nantinya, menurut Tirto.id edisi, Selasa, 9 Januari 2018, Negara Dipa menuai keruntuhan dan pada akhirnya, sejak 1520, digantikan Kesultanan Banjar yang sudah memeluk Islam. (Aju)

One comment

  1. Migrasi dari Yunan melulu yang dibahas. Itu teori mengada ada. Siapa yang percaya dia termakan teori yang membenarkan kalau Dayak bukan penduduk asli Kalimantan, kalian mau? Itu lah alasannya orang luar akan merebut tanah air Dayak.

Comments are closed.