Maestro lukis Srihadi Soedarsono

Pelukis Legendaris Srihadi, Seniman Dan Pelaku Sejarah Kemerdekaan

BALI (Independensi.com) – Siapa tak kenal Maestro lukis Srihadi Soedarsono? Ia adalah pelukis senior dan pelukis legendaris Indonesia. Srihadi banyak menciptakan karya-karya lukisan berkualitas tinggi, dan sering mengadakan event pameran tunggal baik di dalam maupun luar negeri.

Karyanya telah banyak dikoleksi oleh kolektor berkelas, dan hingga saat ini lukisannya masih banyak diburu kolektor baik dalam dan luar negeri. Karya-karya lukisan Soedarsono merupakan saksi perjalanan sejarah yang digoreskan sejak jaman Kemerdekaan hingga jaman modern.

“Tema tentang perjuangan, kehidupan, alam, dan cinta. Semua terkumpul dalam karya-karya lukisannya, baik dalam sketsa maupun dalam karya lukisan dengan berbagai media. Jadi saya kerap diminta melukiskan semua peristiwa sebelum Indonesia Merdeka, bahkan setiap karya saya selalu disertai tandatangan dari objek yang saya lukis,” kata Srihadi Soedarsono yang lahir di Solo, 4 Desember 1931 ini saat Temu Media di SHRIDA –Taste of Ubud Restaurant di Ubud, Gianyar, Minggu (30/6/2019).

Pada tanggal 1 Mei 1969 Ia diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Diangkat sebagai guru besar Seni Rupa pada tanggal 1 Desember 1992. Purnabakti sebagai PNS dimulai tanggal 1 Januari 2007. Selain sebagai pelukis, dirinya juga mengajar sebagai dosen di Institut Teknologi Bandung dan Institut Kesenian Jakarta.

Menurut Srihadi “Karya seni yang merupakan hasil dari estetika, harus dicampur dengan kebenaran versi kita. Karena harus ada hubungan transendental antara diri kita dengan kejiwaan kita, dalam menghasilkan sebuah karya”. Berdasarkan pandangannya tentang seni yang seperti itulah, maka dirinya akan terus berkarya, meneruskan perjalanannya sampai nanti, “Karena sebagai pelukis tidak ada pensiunannya,” tuturnya.

Meskipun sudah menjadi seorang Maestro seni lukis, kita bisa lihat beliau akan terus meningkatkan kualitas karya-karyanya yang selalu berangkat dari ‘kalbu’. Tekad Srihadi untuk terus melakukan sesuatu bagi masyarakat agaknya tak pernah pudar. Selain terus berkarya dalam seni, kali ini ia membuka restoran Shrida the taste of Ubud Shrida yang merupakan perpaduan nama antara Srihadi dan Farida, istrinya tercinta dan yang dalam bahasa Sansekerta “shrida” artinya pemberi keindahan, kemakmuran dan kepositifan.

Menurut Yoke Darmawan dari Darmawan & Associates (D&A), Srihadi ingin menjadikan tempat ini sebagai sebuah ‘melting pot’, tempat berkumpulnya para seniman dan profesi lainnya, tempat yang sebagaimana kata pepatah, bertemunya “asam di gunung dan garam di laut”.

“Dengan berdirinya Shrida Restaurant ini, maka diharapkan bisa menjadi wadah untuk siapapun dari berbagai lintas profesi untuk bisa saling mengisi, memberi inspirasi satu sama lain, membuat network, menjalin ikatan baru untuk menghasilkan karya yang lebih produktif dan kreatif. Acara kumpul-kumpul itu dinamakan “bincang-bincang sore Art.Culture.Culinary.” dan diadakan dua kali sebulan,” pungkas Yoke. (hidayat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *