Eli Cohen

Eli Cohen dan Ashraf Marwan, Intelijen Mossad Permalukan Arab

JAKARTA (Independensi.com) – Eliahu ben Shaoul Cohen atau Eli Cohen (26 Desember 1924 – 18 Mei 1965) dan Ashraf Marwan (2 Februari 1944 – 27 Juni 2007), merupakan tokoh penting pensuplai data intelijen Ha-Mossad le-Modiin ule-Tafkidim Meyuhadim (disingkat Mossad), Dinas Intelijen Israel.

Berkat suplai data intelijen Eli Cohen dan Ashraf Marwan kepada Mossad, menjadi faktor penentu Israel sebagian besar memenangkan peperangan perebutan wilayah Dataran Tinggi Golan dan Semenanjung Sinai, melawan Negara Arab di Timur Tengah.

Tapi nasib Eli Cohen dan Ashraf Marwan, kemudian tragis. Eli Cohen dihukum gantung di depan umum di Damascus, Suriah (Syria), 18 Mei 1965. Ashraf Marwan ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di London, Inggris, 27 Juni 2007.

Sebagai pensulai data intelijen bagi militer Israel, peran Eli Cohen dan Ashraf Marwan, sangat mempermalukan negara-negara Arab, di tengah peta kekuatan militer yang di atas kertas sangat tidak imbang.

Karena dalam peperangan perebutan Dataran Tinggi Golan (perang Israel – Suriah) dan Semenanjung Sinai (perang Mesir – Israel), Israel dikeroyok negara-negara Arab di Timur Tengah yang mendapat dukungan logistik dan intelijen The Union of Soviet Socialist Republics (USSR) atau Federasi Rusia.

Khusus kesuksesan Eli Cohen melaksanakan tugas spionase, merupakan yang terbesar dalam sejarah, setelah Perang Dunia II, 1941 – 1945. Penyamaran Eli Cohen di Damascus, hampir sempurna, berhasil masuk di dalam lingkaran inti Kementerian Pertahanan Suriah (Syria).

Suplai data intelijen Eli Cohen, membuat militer Israel berhasil memenangkan peperangan melawan Suriah, dalam rangkaian pertempuran perebutan Dataran Tinggi Golan.

Tugas spionase Eli Cohen terhenti, setelah dibongkar badan intelijen The Union of Soviet Socialist Republics (USSR) atau Federasi Rusia, atas permintaan khusus Suriah.

Anggota Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB) atau Komite Keamanan Negara USSR berhasil menyadap pengiriman data intelijen secara rutin Eli Cohen kepada Israel, sehingga pria keturunan Yahudi kelahiran Alexandria, Mesir, 26 Desember 1924, itu, dihukum gantung di depan umum dalam usia 40 tahun di Lapangan Marjeh, Damaskus, Suriah, 18 Mei 1965.

Israel kemudian menetapkan Eli Cohen sebagai Pahlawan Nasional, tapi upaya pemulangan kerangka jenazahnya ke Israel, sampai sekarang belum berhasil.

Ashraf Marwan

Ashraf Marwan, seorang agen sionase Mossad, Israel, berkebangsaan Mesir, kelahiran Mesir, 2 Februari 1944.

Suplai data intelijen tentang peta kekuatan militer Mesir disampaikan Ashraf Marwan, membuat militer Israel, berhasil memenangkan peperangan melawan Mesir di dalam perebutan Semenanjung Sinai, 1973.

Pada tahun 1979, terjadi perdamaian antara Israel dan Mesir, wilayah Semenanjung Sinai, dikembalikan ke Mesir.

Nasib Ashraf Marwan, kemudian sangat tragis, karena ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di London, Inggris, pada 27 Juni 2007.

Motif pembunuhan Ashraf Marwan, menantu Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser, menjadi kontroversi, misterius, karena serba tidak jelas dilakukan pihak siapa: agen spionase Mesir atau Israel.

Media massa berbasis di Israel,The Jerusalem Post, edisi Jumat,17 Mei 2019, menurunkan tulisan berjudul: “Mubarak: Ashraf Marwan was a double agent and was hanged in Israel (Mubarak: Ashraf Marwan adalah agen ganda dan digantung di Israel)”.

Mengutip keterangan Muhammad Hosni El Sayyed Mubarak (Presiden Mesir, 14 Oktober 1981 – 11 Februari 2011), saat diwawancarai Wartawan Kuwait, Fajr al-Said, The Jerusalem Post, menegaskan, Ashraf Marwan bukan mata-mata untuk Israel, tetapi sebenarnya agen ganda yang memberikan informasi palsu kepada intelijen Israel.

Akibat informasi palsu yang disuplai ke Israel, menurut The Jerusalem Post, mengutip keterangan Muhammad Hosni El Sayyed Mubarak, menyebabkan Ashraf Marwan tewas digantung agen spionase Ha-Mossad le-Modiin ule-Tafkidim Meyuhadim (disingkat Mossad), Dinas Intelijen Israel, di Carlton House Terrace, London, Inggris, 27 Juni 2007.

Mona Gamal Naser, pustri bungsu Gamal Abdel Nasser (Presiden Mesir, 22 Februari 1958 – 28 September 1970), sebagai istri Ashraf Marwan, sangat yakin, suaminya ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di London, pada 27 Juni 2007, karena dibunuh agen spionase Ha-Mossad le-Modiin ule-Tafkidim Meyuhadim, Israel.

Diduga, Ashraf Marwan sengaja dibunuh karena profesinya sebagai tukang jual data intelijen. Ashraf Marwan sengaja dibunuh, karena dinilai tugasnya sebagai penjual data intelijen sudah selesai, dan sangat berbahaya apabila dibiarkan masih hidup.

Karena di samping mensuplai data intelijen kepada Israel, dengan bayaran mahal, disebutkan pula, menurut Haaretz.com, Minggu, 19 Januari 2020, Ashraf Marwan, selalu menjalin komunikasi dengan agen spionase Perancis, Inggris dan Jerman.

Yossi Melman, dalam Haaretz.com, sebuah media massa berbasis di Isarel, edisi Minggu, 19 Januari 2020, dengan judul artikel: “Code Name ‘Angel’: Mossad Agent Who Handled Israel’s Greatest Spy Speaks Out (Nama Kode ‘Malaikat’: Agen Mossad yang Menangani Mata-Mata Terbesar Israel), menjelaskan, Ashraf Marwan selalu mensuplai data intelijen ke Israel lewat Dubi, seorang Mossad.

Keluarga Terpandang

Ashraf Marwan lahir di Mesir pada 2 Februari 1944 dari sebuah keluarga yang cukup terpandang. Kakeknya adalah Hakim Pengadilan Syariah Mesir, sementara sang ayah adalah seorang jenderal Garda Republik Mesir.

Pada 1965, saat berusia 21 tahun, Ashraf Marwan, lulus dari Universitas Kairo dengan gelar sarjana kimia, sebelum mendaftarkan diri ke Angkatan Darat.

Di tahun yang sama, 1965, Ashraf Marwan bertemu dengan Mona Nasser, putri bungsu Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser, yang saat itu baru berusia 17 tahun. Keduanya jatuh cinta, tetapi Gamel Abdel Nasser, curiga, Ashraf Marwan, mendekati putrinya, bukan sepenuhnya karena cinta, tetapi lebih karena status politiknya.

Meski demikian, Mona bersikeras ingin menikahi Ashraf Marwan dan mereka pun akhirnya resmi menjadi suami istri pada 7 Juli 1966. Dua tahun kemudian, Ashraf Marwan mulai bekerja di Kantor Kepresidenan Mesir di bawah Sami Sharaf, tangan kanan Presiden Gamal Abdel Nasser dan tokoh kuat dalam dinas rahasia Mesir.

Akhir 1968, Ashraf, Mona, dan putra mereka yang baru lahir, Gamal pindah ke London karena Ashraf Marwan melanjutkan studinya.

Beberapa bulan kemudian, Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser yang mendapat informasi bahwa Ashraf Marwan gemar berfoya-foya, memanggilnya pulang ke Mesir dan dia kembali bekerja di bawah Sami Sharaf.

Ashraf Marwan bekerja selama delapan tahun di Kantor Kepresidenan Mesir dan menghabiskan sebagian besar masa kerjanya dalam posisi junior. Meski demikian Gamal Abdel Nasser kerap menggunakan Ashraf Marwan dalam tugas-tugas khusus, misalnya untuk menenangkan suasana usai krisis yang dipicu mundurnya Jenderal Saad al-Shazly.

Sang jenderal mengundurkan diri setelah mengetahui pesaingnya yang dinominasikan sebagai Panglima Angkatan Darat.

Pada 1970, Presiden Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser meninggal dunia akibat serangan jantung dan digantikan Anwar Sadat, Wakil Presiden menjadi Presiden Mesir.

Di pemerintahan baru ini, Ashraf Marwan menjadi penasihat kepercayaan Presiden Mesir, Anwar Sadat yang membutuhkan dia sebagai wujud bahwa dirinya sebagai presiden baru mendapat dukungan dari Keluarga Besar Gamal Abdel Nasser.

Pada Mei 1971, Ashraf Marwan memainkan peran penting dalam menggagalkan upaya kudeta yang direncanakan para loyalis Gamal Abdel Nasser, termasuk Sami Sharaf.

Alhasil, beberapa orang ditangkap termasuk Sami Sharaf (Minister of Presidential Affairs) dan Presiden Anwar Sadat menunjuk Ashraf Marwan untuk menggantikan posisi Sami.

Meski kini Ashraf Marwan menjadi Kepala Staf Kantor Presiden, dia sebenarnya berperan sebagai utusan Anwar Sadat terutama untuk menjalih hubungan dengan Libya dan Arab Saudi.

Ashraf Marwan menjalankan tugasnya dengan amat baik. Ashraf Marwan, memiliki hubungan amat dekat dengan Kamal Adham, saudara ipar Raja Faisal. Ashraf juga memiliki hubungan spesial dengan pemimpin Libya Muammar Khadaffi dan Perdana Menteri Libya Abdessalam Jalloud.

Hubungan baik ini, menurut Haaretz.com, kemudian membuat Arab Saudi dan Libya menyediakan bantuan keuangan dan militer bagi Mesir menjelang Perang Yom Kippur, 1973.

Salah satunya adalah sumbangan jel tempur Mirage-5 dari Libya yang teramat penting bagi Mesir yang di bawah embargo tak bisa membeli pesawat ini. Poster film The Angel yang menceritakan kisah hidup Ashraf Marwan (IMDB). Lalu bagaimana Ashraf Marwan bisa menjadi mata-mata Israel?

Sebenarnya tidak ada informasi jelas tentang bagaimana Ashraf Marwan bisa bekerja untuk Mossad.

Dalam buku The Angel: The Egyptian Spy Who Saved Israel, karya Uri Bar-Joseph digambarkan Ashraf sebenarnya tidak ingin perang kembali pecah di antara kedua negara.

Dalam buku yang kemudian menjadi sumber film berjudul The Angel yang diproduksi Netflix, itu, Ashraf Marwan sendiri menurut Haaretz.com, memutuskan untuk menghubungi Israel, pada Desember 1970 dengan Dubi, agen Mossad di London, Inggris.

Ide itu muncul ketika Ashraf Marwan, gagal meyakinkan Gamal Abdel Nasser, yang saat itu masih hidup, agar tak kembali berperang melawan Israel. Niat Ashraf Marwan, semakin kuat, ketika dia mengetahui Gamal Abdel Nasser meminta Mona agar menceraikan dia karena hobi judinya yang tak terkendali.

Ashraf Marwan kemudian, menurut Haaretz.com, menggunakan telepon umum di salah satu sudut kota London untuk menghubungi Kedutaan Besar Israel dan meminta untuk berbicara dengan Duta Besar. Sesuai protokol yang berlaku, operator telepon Kedutaan Besar Israel di London, kemudian menyampaikan hal itu ke Atase Pertahanan Israel.

Beberapa bulan kemudian, menurut Haaretz.com, Dinas Rahasia Israel balik menghubungi Ashraf Marwan, dan sejak saat itulah sang menantu Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser, bekerja untuk Israel dengan kode “The Angel”.

Dengan jabatannya yang tinggi, Ashraf Marwan memiliki akses ke berbagai informasi rahasia termasuk rencana perang yang disusun Mesir untuk menyerang Israel. Informasi yang dikumpulkan Ashraf Marwan, kemudian sampai ke Perdana Menteri Israel Golda Meir dan Menteri Pertahanan Moshe Dayan yang menggunakannya sebagai bahan untuk menyusun taktik perang.

Presiden Mesir, Anwar Sadat akhirnya memutuskan untuk menyerang Israel pada Sabtu, 7 Oktober 1973. Sebelumnya, sudah dua kali Ashraf Marwan memperingatkan Israel soal serangan Mesir, tetapi dua peringatan itu tak berbuah kenyataan.

Akhirnya pada Kamis, 4 Oktober 1973, sekitar 44 jam sebelum serangan digelar, Ashraf Marwan, mengontak Dubi, agen Mossad yang menjadi penghubungnya di London.

Ashraf Marwan, meminta pertemuan mendesak dengan direktur Mossad untuk membicarakan tentang “bahan kimia yang amat banya”, sebuah kode yang digunakan Ashraf untuk mengabarkan perang akan terjadi.

Pertemuan itu digelar pada Jumat malam, 6 Oktober 1973, di London dan Ashraf Marwan memberikan informasi kepada Zvi Zamir, Direktur Central Inteligence Agency (CIA) bahwa perang akan pecah Sabtu besok, 7 Oktober 1974.

Akibat peringatan Ashraf Marwan, ini, Israel bisa memobilisasi pasukannya pada 6 Oktober 1973 pagi, beberapa jam sebelum Mesir menyerang. Hasilnya, efek kejutan yang diharapkan terjadi dari serangan itu tidak terjadi.

Tanpa peringatan Ashraf Marwan, Mesir pasti bisa merebut kembali Semenanjung Sinai dan Suriah bisa mendapatkan lagi Dataran Tinggi Golan. Ashraf Marwan, masih terus bekerja untuk Mossad hingga 1998 dan selama itu dia hanya berhubungan dengan satu petugas saja yaitu Dubi.

Identitasnya sebagai mata-mata Israel terungkap pada Desember 2002, ketika Sejarawan Israel, Ahron Bregman, menyebut Ashraf Marwan, sebagai agen ganda yang menipu Israel.

Sumber Bregman adalah Mayor Jenderal (Purn) Eli Zeira, Direktur Intelijen Militer Israel di masa Perang Yom Kippur,1973. Setelah Presiden Mesir, Anwar Sadat (62 tahun) tewas ditembak mati Letnan Khalid Islambouli, anggota organisasi radikal Jihad Islam Mesir, saat para militer pada 6 Oktober 1981, Ashraf Marwan, meninggalkan Mesir dan memulai bisnisnya di London, Inggris.

Di Inggris Ashraf Marwan, menurut Haazertz.com, dikenal sebagai sosok misterius yang bermain tidak mengikuti aturan. Hingga kini jumlah kekayaan Ashraf Marwan, tidak diketahui. Ashraf Marwan meninggal dunia pada 27 Juni 2007 di luar kediamannya Carlton House Terrace, London, setelah jatuh dari balkon apartemennya di lantai lima.

Sejumlah laporan menyebut Kepolisian London menduga Ashraf Marwan tewas dibunuh. Dugaan serupa juga diyakini putra sulung Ashraf, Gamal. Namun, hingga saat ini dugaan Ashraf Marwan tewas dibunuh, tidak pernah terbukti.

Profil Eli Cohen

Eli Cohen (26 Desember 1964 – 18 Mei 1965) adalah seorang agen rahasia Mossad Israel dan diangggap sebagai salah satu mata-mata paling sukses setelah Perang Dunia II. Eli Cohen memata-matai kegiatan pemerintahan dan militer Suriah dan berjasa besar dalam Prang Enam Hari meskipun ia sudah dihukum mati pada tahun 1965 di Suriah.

Lahir di Mesir, Eli Cohen, ikut serta dalam setiap aktivitas pro Israel di Mesir selama tahun 1950-an, seperti dalam Operasi Goshen meskipun pemerintah Mesir tidak pernah dapat membuktikannya.

Eli cohen direkrut Mossad pada tahun 1960 dan diberi identitas palsu sebagai orang Suriah yang kembali pulang setelah lama hidup di Argentina. Untuk memperkuat penyamarannya ini, Eli Cohen bahkan pindah ke Argentina pada tahun 1961.

Kemudian Eli coneh pindah ke Damaskus, Suriah dengan nama alias Kamel Amin Tsa’abet (nama panggilannya Sa’bet atau Tha’bet). Cohen berhasil memperoleh kepercayaan dikalangan pejabat militer Suriah dan juga pejabat pemerintahan.

Secara berkala Eli Cohen mengirim informasi intelijen ke Israel lewat radio, surat rahasia dan kadangkala pada saat ia berkunjung ke Israel. Informasi yang sangat berharga yang berhasil ia kirimkan ke Israel pada tahun 1964 adalah data tentang kubu pertahanan Suriah di dataran tinggi Golan.

Akhirnya pada bulan Januari 1965, seorang ahli dari Uni Sovyet yang disewa Dinas Intelijen Suriah, berhasil menyadap pesan yang sedang dikirimkan Eli Cohen ke Israel.

Setelah dihadapkan ke pengadilan, Eli Cohen diputuskan bersalah terlibat mata-mata dan dijatuhi hukuman mati. Banyak kepala negara barat (Perancis, Belgia dan Kanada) yang meminta Pemerintah Suriah, untuk memperingan hukumannya.

Bahkan Paus Paulus VI ikut bersuara, tetapi Eli Cohen, tetap digantung oleh pemerintah Suriah pada tanggal 18 Mei 1965. Sampai dengan hari ini, Suriah yang merasa sangat kecolongan, tetap menolak memulangkan jenazah Cohen untuk dimakamkan di Israel.

Selama dalam penyamaran, Cohen berteman baik dengan banyak jenderal terkemuka di Suriah termasuk Amin Hafiz. Setelah Hafiz menjadi Perdana Menteri, Eli Cohen bahkan termasuk salah satu kandidat untuk menempati posisi sebagai Wakil Menteri Pertahanan Suriah

Banyak pihak mengklaim (meskipun sulit dibuktikan kebenarannya) bahwa Cohen-lah yang menyarankan untuk menanam pohon eucalyptus di sekitar bunker militer dan tempat-tempat mortir di Dataran Tinggi Golan yang mengarahkan moncongnya ke Israel.

Eli Cohen berpendapat bahwa dengan ditanamnya pepohonan ini akan memberikan kamulflase alami yang sempurna agar tidak terdeteksi oleh Israel, juga untuk melindungi tentara dari cuaca panas di gurun.

Setelah sarannya disetujui oleh militer Suriah, Eli Cohen, segera memberikan informasi tersebut ke Dinas Intelijen Israel. Selama Perang Enam Hari, 5 – 10 Juni 1967, informasi berharga ini digunakan oleh Angkatan Udara Israel (IAF) yang dengan mudahnya menghancurkan sebagian besar bunker Suriah yang terlindung dibalik pepohonan.

Pepohonan eucalyptus ini sampai sekarang masih terlihat di dataran tinggi Golan dan menjadi saksi bisu sejarah kekalahan Suriah.

Eli Cohen mendapat informasi tentang rencana rahasia Suriah membuat bunker pertahanan berlapis tiga untuk mengelabui militer Israel yang pasti menyangka hanya ada sebuah saja.

Selama di Suriah, Eli Cohen banyak memperoleh dan mengumpulkan informasi tentang pilot-pilot tempur Angkatan Udara Suriah. Termasuk nama asli mereka, nama alias beserta keluarganya.

Banyak pihak mengatakan bahwa informasi dari Eli Cohen inilah yang digunakan oleh Mossad selama Perang Enam Hari ketika ada dua buah jet tempur Suriah yang akan membom Tel Avi/v.

Ketika kedua jet ini sampai pada sasarannya, Mossad memperingatkan mereka melalui gelombang radio bahwa mereka mengetahui identitas para pilot tersebut, beserta keluarganya dan jika mereka tetap membom, keluarganya akan dibunuh.

Para pilot begitu terkejut, sekaligus ketakutan yang akhirnya menjatuhkan bom-bomnya ke laut dan kembali ke pangkalan dengan mengatakan target telah dibom.

Menurut keterangan saudara sekaligus temannya sesama agen Mossad, Maurice Cohen, Eli Cohen hanya tinggal tiga langkah lagi menjadi Presiden Suriah pada saat terbongkarnya kegiatan mata-mata yang ia lakukan.

Permintaan dari pihak keluarga agar jenazah Cohen dikembalikan ke Israel ditolak mentah-mentah oleh pemerintah Suriah (Mei 2006). Pada bulan Februari 2007, pejabat Turki mengkonfirmasikan bahwa pemerintahnya siap menjadi mediator untuk pengembalian jenazah Cohen.

Sikap AS

Tidak bisa dipungkiri, sikap keras kepala Israel di Timur Tengah, tidak lepas dari peran Amerika Serikat (AS). AS selalu melakukan pembelaan terhadap langkah aneksasi Israel terhadap Dataran Tinggi Golan dan Semenanjung Sinai.

Dalam sebuah tweeter pada Kamis, 21 Maret 2019, sebagaimana dikutip Reuters, Presiden AS Donald Trump menyuarakan dukungannya atas kontrol Israel atas Dataran Tinggi Golan, yang mengubah berpuluh-puluh tahun kebijakan Amerika Serikat.

Langkah ini mendorong Dataran Tinggi Golan—dataran tinggi subur di samping Danau Galilea yang telah menjadi salah satu perbatasan Israel yang lebih tenang selama setengah abad—kembali menjadi berita utama internasional.

Wilayah ini mencakup 500 mil persegi dan menawarkan pandangan luas ke Suriah dan Israel, menjadikannya wilayah militer yang strategis. Wilayah itu direbut oleh Israel dari Suriah selama Perang Enam Hari 1967, dan sejak itu telah diklaim oleh kedua negara.

Perang Enam Hari pada Juni 1967 berakhir dengan kemenangan menentukan bagi Israel, yang merebut Dataran Tinggi Golan dari Suriah. Pasukan Suriah memulai upaya gagal untuk merebut kembali wilayah itu pada tahun 1973.

Perang itu berakhir dengan gencatan senjata yang membuat sebagian besar Dataran Tinggi Golan berada di tangan Israel. Pada tahun 1981, Israel mengeluarkan hukum yang secara efektif mencaploknya.

Tetapi langkah itu tidak pernah diakui secara internasional, dan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2019 mengatakan bahwa “keputusan Israel untuk memberlakukan hukum, yurisdiksi, dan administrasi di Dataran Tinggi Golan Suriah yang diduduki, tidak dianggap sah dan tidak memiliki efek hukum internasional.”

Terdapat upaya negosiasi atas Dataran Tinggi Golan, tetapi pada 2011 konflik di Suriah menimbulkan ketegangan baru di wilayah tersebut dan secara efektif menutup upaya-upaya itu.

Dataran Tinggi Golan tidak padat penduduk. Menurut beberapa perkiraan, ada sekitar 50 ribu orang, di mana pemukim Yahudi Israel mencakup hampir setengahnya. Sisanya sebagian besar orang-orang keturunan Suriah Druze—sebuah agama yang telah digambarkan sebagai cabang dari Islam Ismaili.

Menurut The New York Times, penduduk Druze di Dataran Tinggi Golan sebagian besar menolak memperoleh kewarganegaraan Israel dan telah mempertahankan hubungan yang kuat dengan Suriah selama beberapa dekade.

Terlepas dari kedekatannya—alat pengeras suara dan teropong telah menghubungkan orang-orang di Dataran Tinggi Golan dengan teman-teman di seberang perbatasan—hubungan itu telah diuji oleh konflik yang menghancurkan di Suriah.

Namun yang terpenting, kehidupan di Dataran Tinggi Golan relatif tenang dibandingkan dengan tempat-tempat lain di perbatasan Israel.

Selama beberapa dekade, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Amerika Serikat menolak mengakui pencaplokan Dataran Tinggi Golan dan Tepi Barat oleh Israel pada tahun 1967, dengan alasan bahwa garis batas Israel harus dinegosiasikan secara diplomatis.

Tetapi Presiden Amerika Serikat, Donald JohnTrump menulis tweet pada Kamis, 21 Maret 2019, bahwa “sudah waktunya bagi Amerika Serikat untuk sepenuhnya mengakui Kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan,” dan menambahkan bahwa itu sangat penting bagi Israel dan stabilitas di Timur Tengah.

Tweet-nya datang setelah tekanan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjelang Pemilu Israel pada 9 April 2019.

Tetapi dalam sebuah wawancara pada Kamis, 21 Maret 2019 sore dengan Fox Business Network, Donald JohnTrump mengatakan bahwa ia telah mempertimbangkan untuk mengakui Dataran Tinggi Golan sebagai bagian dari Israel “untuk waktu yang lama”, dan bahwa keputusannya tidak dimaksudkan untuk meningkatkan peluang pemilihan Netanyahu.

Tweet Trump tidak sepenuhnya tiba-tiba. Dia telah mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, memindahkan Kedutaan Besar Amerika Serikat di sana dari Tel Aviv, dan memangkas bantuan kepada para pengungsi Palestina.

Pada November 2018, Amerika Serikat memilih untuk pertama kalinya menentang resolusi simbolis yang dikeluarkan PBB setiap tahun untuk mengecam kehadiran Israel di Dataran Tinggi Golan.

Sejak tahun 2011, para pejabat Israel telah menyatakan rasa lega bahwa Dataran Tinggi Golan telah bertindak sebagai semacam penyangga bagi konflik di Suriah, yang Presidennya, Bashar al-Assad, didukung oleh Iran.

“Kalian semua bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Israel tidak berada di Golan,” ujar Netanyahu pada Rabu, 20 Maret 2919, saat pertemuan dengan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, dikutip dari The New York Times. “Kita akan memiliki Iran di tepi Danau Galilea.”

Duta Besar Suriah untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, Hussam Edin Aala, pada Rabu, 20 Maret 2019, memperingatkan “upaya jahat Israel untuk mengeksploitasi situasi dan perkembangan terbaru di Suriah dan kawasan, untuk mengkonsolidasikan pendudukan di Dataran Tinggi Golan,” demikian Kantor Berita Pemerintah Suriah SANA, melaporkan.

Tetapi para kritikus Presiden Suriah, Bashar Al Assad telah mencatat bahwa meskipun ia dan pemerintahnya sering berbicara tentang “membebaskan” Dataran Tinggi Golan, namun mereka hanya melakukan sedikit tindakan untuk melakukannya dalam beberapa dekade.

Komite Keempat Majelis Umum PBB pada Jumat, 15 Nopember 2019, mengadopsi delapan resolusi yang mengecam Israel, menurut laporan kelompok pengawas UN Watch.

Resolusi itu mengecam Israel atas “tindakan represif” terhadap warga Suriah di Dataran Tinggi Golan dan menuntut Israel menyerahkan tanah itu ke Suriah; memperbarui mandat Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB (UNRWA); dan memperbarui mandat “komite khusus PBB untuk menyelidiki praktik-praktik Israel yang memengaruhi hak asasi manusia rakyat Palestina dan orang Arab lainnya di Wilayah Pendudukan.”

Ke-193 negara anggota PBB itu menjadi anggota Komite Politik Khusus dan Dekolonisasi, yang juga dikenal sebagai Komite Keempat. Pemungutan suara akan diulangi pada bulan Desember ketika paripurna Sidang Majelis Umum PBB secara resmi meratifikasi resolusi tersebut, menurut UN Watch.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo, mengumumkan pada Senin, 19 Nopember 2019, Amerika Serikat mengambil langkah berani lain dengan membatalkan kebijakan pemerintahan Presiden Barack Obama tahun 2009, tentang pemukiman Israel, dan menyebut bahwa pemukiman Israel tidak melanggar hukum.

“Setelah mempelajari dengan saksama semua sisi dari perdebatan hukum, pemerintahan ini setuju dengan Presiden Reagan. Pembentukan permukiman sipil Israel di Tepi Barat, pada dasarnya, konsisten dengan hukum internasional,” jelas Pompeo.

Perang Israel – Arab

Israel dan Dunia Arab beberapa kali terlibat perang dan termasuk dalam sejarah perang dingin. Hingga Perang Dingin berakhir, 1991, sudah empat kali cucu-cucu dari Nabi Ibrahim ini saling membunuh.

Cukup banyak hal yang melatar belakangi terjadinya perang. Perang Arab-Israel yang pertama terjadi pada tahun 1948, Krisis Suez yang terjadi pada tahun 1956, Perang Enam Hari yang terjadi pada tahun 1967 dan Perang Yom Kippur pada tahun 1973.

Israel memenangkan semua perang ini padahal Israel termasuk negara yang baru berdiri beberapa tahun setelah Perang Dunia Kedua berakhir. Kemenangan Israel dalam peperangan melawan negara-negara Arab, semata-mata berkat suplai data intelijen dari Eli Cohen di Suriah dan Ashraf Marwan dari Mesir.

Kemenangan Isreal atas Arab disebabkan karena bantuan logistik dan intelijen dari Blok Barat atau North Atlantic Treaty Organization (NATO). Terutama Amerika Serikat. Ditambahkan lagi, peran signifikan Eli Cohen di Suriah dan Ashraf Marwan di Mesir sebagai spionase Mosaad yang secara rutin mensuplai data intelijen ke Israel.

Israel dibentuk politisi David Ben Gorion pada 14 Mei 1948 dan langsung diterima menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) satu tahun kemudian, pada 11 Mei 1949.

David Ben Gorion dicatat sebagai Perdana Menteri Israel Pertama, 17 Mei 1948 – 26 Januari 1954. Pada 15 Mei 1948, satu hari setelah Negara Israel didirikan, negara-negara Arab (Suriah, Mesir, Lebanon, Irak, Arab Saudi dan Yordania) mendeklarasikan

perang.

Setelah itu, Koalisi Arab langsung menginvasi Israel. Inilah perang pertama antara Koalisi Arab dan Israel yang terjadi pada 15 Mei 1948. Perang tahun 1948, disebut dengan Perang Kemerdekaan Israel.

Di awal Sejarah Perang Arab – Israel, koalisi Arab sudah terlihat unggul. Mulai dari kuantitas pasukan dan kualitas senjata. Dengan mudah Koalisi Arab menduduki beberapa area pemukiman orang Yahudi yang diklaim masih dalam wilayah Israel.

Dari selatan, Mesir terus melaju hingga Tel Aviv. Sementara Yordania, Irak, Lebanon dan Suriah menghajar Haifa dan Galilea. Tapi Koalisi Arab memiliki koordinasi yang buruk di babak akhir perang. Lebanon malah menarik pasukannya.

Pada Mei 1948, Israel membentuk Israel Defence Force (IDF). Anggota dari IDF merupakan gabungan dari kelompok-kelompok kecil seperti Palmach, Irgun, Lehi dan Haganah.

IDF yang mulai berkembang merekrut banyak pasukan dan jumlahnya malah melebihi pasukan Koalisi Arab. Bahkan di awal tahun 1949, Israel sudah merekrut 115.000 tentara. Melebihi Pasukan Koalisi Arab yang hanya 55.000.

Sejarah Perang Arab – Israel, berlangsung selama sembilan bulan dan berakhir pada Maret 1949. Perang ini berakhir dengan adanya gencatan senjata antara Israel dengan Koalisi Arab.

Perjanjian gencatan senjata ini juga membahas pembagian wilayah. Israel berhasil menguasai sebagian besar Mandat Inggris, Mesir menduduki Jalur Gaza, Yordania mendapat Yerusalem Timur dan Israel menguasai Yerusalem barat.

Karena perang ini, sekitar 750.000 warga Palestina menjadi pengungsi karena terusir dari tanahnya. Mereka tinggal di tempat pengungsian dan tak diizinkan oleh David Ben Gurion, Perdana Menteri Israel, untuk kembali ke tanahnya.

Penolakan ini membuat Bangsa Palestina sebagai terjajah dan tentu saja timbul pergerakan melawan Israel. Perlawanan terhadap Israel ini direspon oleh Mesir dengan cara mendukung sukarelawan Palestina. Mesir memberikan pelatihan dan senjata.

Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasser melakukan nasionalisasi Terusan Suez pada Juli 1956. Nasser melakukan ini karena janji Amerika Serikat untuk membangun Bendungan Aswan dan Sungai Nil tidak dipenuhi.

Sehingga nasionalisasi ini diharapkan bisa menjadi penghasilan untuk Mesir agar bisa membangun Bendungan Aswan. Keputusan Nasser didukung oleh Uni Soviet yang memberikan tentara dan dana.

Nasionalisasi Terusan Suez membuat Inggris, Perancis dan Israel membentuk aliansi militer dan berencana menyerang Mesir. Jalinan militer ini malah memperburuk keadaan ketika Mesir memaksa Inggris agar memanggil kembali pasukannya dari Suez.

Krisis dimulai pada tanggal 26 Oktober 1956 oleh Israel sebagai penyerang pertama. Kemudian baru diikuti oleh Inggris dan Perancis yang datang terlambat.

Serangan ini membuat Uni Soviet bereaksi dengan cara menggunakan nasionalisme Arab dan memberi bantuan senjata buatan Cekoslovakia. Tingkah Soviet ini bertujuan untuk mencengkeram Timur Tengah di bawah hegemoninya.

Krisis ini berakhir ketika Amerika Serikat ikut campur. Ikut campurnya Amerika Serikat ini karena ancaman Nikita Khruschev yang akan menjatuhkan nuklir di negara-negara yang memusuhi Mesir.

Setelah proses yang panjang, solusi Amerika Serikat adalah mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi ke Perancis, Inggris dan Israel jika terus melanjutkan perang.

Perang Tahun 1967

Perang Enam Hari merupakan Sejarah Perang Arab – Israel Ketiga yang berlangsung pada tanggal 5 hingga 10 Juni 1967. Karena dilakukan pada bulan Juni, perang ini juga disebut Perang Juni.

Israel melakukan aneksasi di Semenanjung Sinai, Yerusalem, Dataran Tinggi Golan dan Jalur Gaza pasca kemenangan di perang sebelumnya. Perang yang disebabkan karena perebutan wilayah ini menjadi titik kritis di konflik antara Israel melawan Koalisi Arab, selain pembebasan Palestina.

Para gerilyawan Palestina dari Lebanon, Yordania dan Suriah meningkatkan serangannya pada Israel. Tentu saja Israel membalas serangan ini. Dimulai di November 1966, Israel menyerang Al-Samu’ yang merupakan desa di sisi barat Yordania. Sedikitnya 18 orang tewas dan 54 terluka.

Pada April 1967 di Suriah, Israel berhasil menembak enam pesawat jet milik Suriah. Uni Soviet yang membantu Koalisi Arab, memberikan informasi intelijen bahwa Israel akan melakukan kampanye militer melawan Suriah. Informasi ini membuat negara-negara Arab dan Israel mulai memanas.

Gamal Abdul Nasser selaku Presiden Mesir mendapat kecaman dari koalisi Arab karena tidak mampu membantu Yordania dan Suriah melawan Israel. Selain itu, sang Presiden Mesir bersembunyi di balik United Nations Emergency Force (UNEF) yang berada di perbatasan Israel dan Mesir di Sinai.

Tapi Gamal Abdul Nasser tidak mau disebut begitu dan melakukan beberapa keputusan. Keputusan cepat pada Mei 1967. Nasser mulai menyiapkan pasukan Mesir di daerah Sinai dan meminta UNEF untuk mundur dari perbatasan Israel dan Mesir.

Kemudian Nasser menutup jalur distribusi Israel di Teluk Aqaba sehingga Elat di Israel Selatan terblokade. Di akhir bulan Mei 1967, Raja Hussein dari Yordania datang dan menjalin aliansi pertahanan dengan Nasser dan meletakkan tentara Yordania di bawah kepemimpinan Mesir. Irak juga bergabung di aliansi ini. Koalisi Arab pun sudah memobilisasi pasukan.

Israel juga memobilisasi pasukan setelah melihat mobilisasi beberapa negara Arab. Untuk melumpuhkan Angkatan Udara Koalisi Arab, Israel melakukan serangan dadakan di pagi hari pada tanggal 5 Juni 1967. Hampir semua angkatan udara Mesir hancur dan tentu saja nantinya tentara Mesir menjadi lebih lemah jika tanpa perlindungan udara.

Di hari yang sama, pasukan Yordania mulai menyerang bagian barat Yerusalem. Israel memperingatkan Raja Hussein agar menarik pasukannya tapi Raja Hussein tidak menghiraukan. Lusanya, tentara Yordania berhasil diusir oleh pasukan Israel. Dewan Keamanan PBB meminta agar Yordania dan Israel melakukan gencatan senjata.

Kini giliran Suriah yang menyerang Israel. Serangan Suriah datang dari utara dan menembaki beberapa desa di Israel Utara. Pada 9 Juni 1967, Israel mengirimkan pasukan ke Dataran Tinggi Golan untuk mengalahkan Suriah.

Setelah bertarung sehari penuh, akhirnya mereka melakukan gencatan senjata pada 10 Juni 1967, sehingga disebut Perang Enam Hari (5 – 10 Juni 1967).

Perang Enam Hari ini memiliki pengaruh di lokasi konflik. Koalisi Arab mengalami kerugian besar. Suriah kehilangan tenttara 1.000 jiwa, Yordania kehilangan 6.000 jiwa dan Mesir kehilangan lebih dari 11.000 jiwa. Statistik ini sangat jauh dibandingkan Israel yang hanya kehilangan 700 orang tentara Israel.

Kekalahan Koalisi Arab, ini, menyebabkan Gamal Abdel Nasser mengundurkan diri dari kursi presiden. Tapi dia jadi presiden lagi setelah didemonstrasi oleh rakyat Mesir agar tetap berkuasa. Sementara pihak Israel merayakan kemenangan dan memuji-muji kekuatan militer di Timur Tengah.

Perang Yom Kippur merupakan Perang Arab-Israel keempat yang meletus pada, 6 – 26 Oktober 1973. Dinamakan Perang Yom Kippur, karena saat kelompok Agama Yahudi Merayakan Hari Raya Yom Kippur, dan Umat Islam tengah dalam masa Ramadhan, Suriah, Libya dan Mesir, menyerang Israel secara tiba-tiba. Nama lain Perang Yom Kippur, adalah Perang Oktober atau Perang Ramadan.

Karena namanya Perang Yom Kippur, 6 – 26 Oktober 1973, perang ini terjadi selama dua puluh hari di bulan Oktober yaitu mulai tanggal 6 hingga 26 Oktober 1973. Yom Kippur sendiri merupakan hari penebusan dan pengampunan dosa di ajaran Agama Yahudi. Disebut Perang Ramadan karena perang ini bertepatan dengan Bulan Ramadan dimana orang Islam diwajibkan berpuasa.

Berkat kemenangan di Perang Enam Hari atau Perang Arab-Israel Ketiga, Israel mendapatkan wilayah yang cukup luas atau sekitar empat kali wilayah yang sudah dikuasainya. Suriah kehilangan Dataran Tinggi Golan, Yordania kehilangan Yerusalem Timur dan Barat, Mesir kehilangan Jalur Gaza dan Semenanjung Sinai. Semua diambil oleh Israel.

Anwar el-Sadat menjadi Presiden Mesir menggantikan Gamal Abdul Nasser pada tahun 1970. Untuk mengembalikan stabilitas dan kepemilikan Semenanjung Sinai ke Mesir, Sadat merencanakan perang lagi untuk mengusir Israel. Meski nanti perangnya kalah, paling tidak Sadat bisa membuat orang Israel berinisiatif untuk mencari perdamaian dengan Mesir agar tidak diserang terus-menerus.

Presiden Anwar Sadat mengawali semuanya dengan politik luar negeri. Pertama dia mengusir penasehat dari Soviet yang saat itu berada di Mesir dan berdiplomasi dengan Amerika Serikat yang menjadi sekutu Israel.

Kemudian Sadat membangun aliansi dengan Suriah, Yordania, Arab Saudi, Libya, Tunisia, Aljazair dan Maroko untuk menyerang Israel lagi. Mereka juga didukung oleh negara komunis macam Kuba dan Uni Soviet.

Meski dimenangkan Israel, dampak Perang Yom Kippur, 1973, tidak terlalu buruk bagi Mesir dan tidak terlalu baik bagi Israel. Negara Israel, harus mengalami kerugian yang besar.

Perang Yom Kippur, 1973, memaksa Perdana Menteri Israel, Golda Meir, mengundurkan diri, karena dikritik oleh banyak orang gara-gara pasukan Israel kurang persiapan.

Untuk Mesir, reputasi Presiden Anwar Sadat, meningkat dan dia mengusahakan perdamaian dengan Israel. Perjanjian damai itu berhasil mengembalikan Semenanjung Sinai yang sebelum dikuasai Israel untuk dikembalikan ke Mesir pada tahun 1979.

Selama Perang Yom Kippur, 6 – 26 Oktober 1973, secara total 2.688 tentara Israel tewas dan kurang lebih 7.000 orang cedera, 314 tentara Israel dijadikan tawanan perang dan puluhan tentara Israel hilang (17 di antaranya bahkan sampai tahun 2003 belum ditemukan).

Tentara Israel kehilangan 102 pesawat tempur dan kurang lebih 800 tank. Di sisi Mesir dan Suriah 35.000 tentara tewas dan lebih dari 15.000 cedera, 8.300 tentara ditawan. Angkatan Udara Mesir kehilangan 235 pesawat tempur dan Suriah kehilangan 135 unit pesawat.

Yang paling menderita adalah Suriah karena perjanjian damai antara Mesir dan Israel tahun 1979. Karena front Sinai sedang menganggur, Israel mengarahkan pandangannya ke Dataran Tinggi Golan.

Israel merebut banyak tanah lagi di tanah itu. Akibatnya, Suriah menuding Mesir sebagai pengkhianat dan mengusir Mesir dari Liga Arab. (Aju)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *