menerbitkan delapan buku Puisi Esai karya Denny JA dalam edisi bahasa Inggris

Delapan Buku Puisi Esai Denny JA Terbit dalam Bahasa Inggris, Kini Hadir di Google Books untuk Pembaca Dunia

Loading

JAKARTA (Independensi.com) – Penerbit CBI resmi menerbitkan delapan buku Puisi Esai karya Denny JA dalam edisi bahasa Inggris yang kini tersedia secara global melalui Google Books. Penerbitan tersebut menjadi langkah baru dalam memperkenalkan pengalaman sejarah Indonesia kepada pembaca internasional sekaligus mengangkat berbagai tragedi kemanusiaan dunia melalui pendekatan sastra.

Dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Kamis (2/6), penerbit menjelaskan bahwa seri buku tersebut tidak hanya menghadirkan terjemahan karya, tetapi juga membawa gagasan bahwa sejarah tidak cukup dipahami sebagai rangkaian peristiwa, melainkan harus dihayati sebagai pengalaman manusia yang penuh luka, harapan, dan perjuangan.

Delapan buku itu mengangkat beragam tema, mulai dari diskriminasi atas dasar identitas, tragedi penghilangan paksa, konflik sosial pascareformasi, sejarah kolonial Indonesia, kebangkitan nasional, tragedi eksil pasca-1965, berbagai tragedi kemanusiaan dunia, hingga krisis ekologis yang dihadapi umat manusia saat ini.

Penerbitan edisi bahasa Inggris ini juga menjadi kelanjutan dari pengakuan internasional terhadap genre Puisi Esai setelah Denny JA menerima BRICS Award 2025 untuk kategori Literary Innovation. Ke depan, proyek penerjemahan tersebut direncanakan hadir dalam 35 bahasa di lima benua.

Menurut Penerbit CBI, Puisi Esai lahir dari kesadaran bahwa sejarah sering kali kehilangan sisi kemanusiaannya. Dalam dokumen sejarah, tragedi sering direduksi menjadi angka, sementara melalui sastra, kisah-kisah tersebut kembali hadir sebagai pengalaman emosional yang dapat dirasakan pembaca.

“Sejarah sering mengingat para pemenang. Sastra mengingat mereka yang terluka,” demikian pernyataan Penerbit CBI.

Genre Puisi Esai yang diperkenalkan Denny JA sejak 2012 memadukan fakta sejarah yang dapat diverifikasi, kebebasan dramatik sastra, dan refleksi sosial. Setiap karya dilengkapi riset dan catatan kaki, namun disampaikan melalui sudut pandang tokoh-tokoh yang kerap tidak memperoleh ruang dalam narasi sejarah resmi.

Pendekatan tersebut disebut selaras dengan konsep psychic numbing yang diperkenalkan psikolog Paul Slovic, yakni kecenderungan manusia kehilangan empati ketika penderitaan hanya disajikan dalam bentuk statistik. Melalui tokoh dan cerita personal, Puisi Esai berupaya menghidupkan kembali empati pembaca terhadap berbagai tragedi kemanusiaan.

Adapun delapan buku yang kini tersedia dalam bahasa Inggris melalui Google Books meliputi:
In the Name of Love (2021), terjemahan dari Atas Nama Cinta (2012), mengangkat tema diskriminasi atas nama identitas.

Google Books: https://play.google.com/store/books/details/In_the_Name_of_Love_Essay_Poetry_Related_to_Issues?id=l7gqEAAAQBAJ&hl=en_GB

Every Thursday Will I Await Your Return (2021), terjemahan dari Kutunggu di Setiap Kamis (2018), berkisah tentang keluarga korban penghilangan paksa pasca-1998.

Google Books: https://play.google.com/store/books/details/Every_Thursday_Will_I_Await_Your_Return_A_Love_Sto?id=-KYqEAAAQBAJ&hl=en_GB
Screams Following Liberation (2022), terjemahan dari Jeritan Setelah Kebebasan (2022), menggambarkan konflik sosial Indonesia pascareformasi.
Google Books: https://play.google.com/store/books/details/Screams_Following_Liberation_The_Drama_of_Indonesi?id=Vt6fEAAAQBAJ&hl=en_GB⁠�

The Remnants of the Independence Era (2024), terjemahan dari Yang Tercecer di Era Kemerdekaan (2024), mengangkat kisah mereka yang terlupakan dalam sejarah kolonial.

Google Books: https://play.google.com/store/books/details/The_Remnants_of_the_Independence_Era_Essay_Poetry_?id=OezuEQAAQBAJ&hl=en_GB⁠�

Those Who First Cried Freedom (2026), terjemahan dari Mereka yang Mulai Teriak Merdeka (2025), mengisahkan para pelopor kebangkitan nasional sebagai manusia biasa yang berani menghadapi perubahan.
Google Books:

https://play.google.com/store/books/details/Those_Who_First_Cried_Freedom_An_Essay_Poem_Series?id=tuvuEQAAQBAJ&hl=en_GB

Those Cast Out in the 1960s (2026), terjemahan dari Mereka yang Terbuang di Tahun 1960-an (2024), mengangkat tragedi eksil Indonesia pasca-1965.
Google Books:

https://play.google.com/store/books/details/Those_Cast_Out_in_the_1960s_Told_Through_a_Series_?id=jKvuEQAAQBAJ&hl=en_GB

Shivering in History’s Current (2026), terjemahan dari Yang Menggigil dalam Arus Sejarah (2025), mengangkat berbagai tragedi besar dunia dari sudut pandang kemanusiaan.
Google Books: https://play.google.com/store/books/details/Shivering_in_History_s_Current_Fifteen_Dramas_of_W?id=g4PuEQAAQBAJ&hl=en_GB

Under the Shadow of Disaster (2026), terjemahan dari Atas Nama Bencana (2026), mengangkat isu krisis ekologis dan relasi manusia dengan alam.

Google Books: https://play.google.com/store/books/details/UNDER_THE_SHADOW_OF_DISASTER_A_Collection_of_Essay?id=CITuEQAAQBAJ&hl=en_GB

Menurut Denny JA, sastra memiliki kemampuan menghadirkan dimensi kemanusiaan yang sering kali hilang dalam data statistik.

“Statistik memberi kita pengetahuan, tetapi cerita memberi kita ingatan. Ketika saya membaca ribuan korban dalam arsip, saya memahami sejarah. Ketika saya menuliskan seorang ayah yang berjalan tanpa alas kaki mencari keluarganya, saya ikut menjadi saksi. Bagi saya, sastra bukan pelarian dari kenyataan, melainkan cara yang lebih dalam untuk memasukinya,” ujar Denny JA.

Melalui penerbitan delapan buku tersebut, Penerbit CBI berharap kisah-kisah yang lahir dari sejarah Indonesia maupun tragedi dunia dapat menjadi bagian dari percakapan global mengenai kemanusiaan, ingatan kolektif, dan pentingnya menjaga empati terhadap mereka yang terdampak oleh arus sejarah.

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *