![]()
JAKARTA (Independensi.com) – Sebuah lukisan karya Denny JA yang disebut menerima berkat dari Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus dalam momen spontan di depan Galeri Nasional Jakarta pada September 2024 diperkirakan memiliki nilai hingga Rp34 miliar.
Estimasi tersebut disusun melalui pendekatan analisis kecerdasan buatan (AI) dan pembandingan transaksi karya seni religius di sejumlah rumah lelang internasional.
Akademisi dan pengamat budaya Dr. Satrio Arismunandar mengatakan peristiwa tersebut memiliki potensi meningkatkan nilai karya melalui dimensi simbolik dan historis yang melekat.
“Dalam sosiologi seni, ada istilah symbolic elevation, yakni peningkatan status sebuah karya karena keterkaitannya dengan peristiwa yang dianggap bersejarah,” ujar Satrio dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Ia menjelaskan, lukisan tersebut tidak hanya dipandang sebagai karya visual, tetapi juga memuat lapisan nilai lain, mulai dari simbol religius, artefak terkait peristiwa, hingga narasi lintas iman.
Peristiwa itu terjadi saat iring-iringan Paus melintas di depan Galeri Nasional Jakarta. Berdasarkan dokumentasi dan kesaksian, kendaraan yang ditumpangi Paus sempat melambat ketika sebuah lukisan karya Denny JA yang sedang dipamerkan diangkat oleh seorang pendeta bernama Sylvana.
Lukisan tersebut menampilkan ilustrasi seorang Paus yang membasuh kaki rakyat kecil, simbol kerendahan hati yang lekat dengan ajaran Injil.
Dalam momen singkat itu, Paus disebut membuka jendela kendaraan, menyapa, mendoakan, dan memberikan berkat kepada lukisan tersebut.
“Peristiwa berlangsung spontan dan tidak direncanakan. Dokumentasi visual dan kesaksian tambahan masih menjadi elemen penting untuk memperkuat validasi historis,” kata Satrio.
Berdasarkan pemodelan AI yang membandingkan data lelang karya bertema religius di rumah lelang internasional seperti Sotheby’s dan Christie’s sepanjang 2015-2024, estimasi nilai karya dibagi ke dalam beberapa skenario.
Pada skenario konservatif, nilai lukisan diperkirakan berada di kisaran 150 ribu dolar AS hingga 400 ribu dolar AS atau sekitar Rp2,5 miliar hingga Rp6,5 miliar.
Sementara pada skenario menengah, nilainya diperkirakan mencapai 400 ribu dolar AS hingga 900 ribu dolar AS atau sekitar Rp6,5 miliar hingga Rp14 miliar.
Adapun skenario premium menempatkan nilai karya pada kisaran 1 juta dolar AS hingga 1,5 juta dolar AS atau sekitar Rp16 miliar hingga Rp24 miliar.
Sedangkan dalam skenario khusus dengan pembeli tertentu, nilainya diperkirakan dapat menembus 2 juta dolar AS atau sekitar Rp34 miliar.
Menurut Satrio, angka tertinggi sangat dipengaruhi faktor non-pasar, seperti keterikatan emosional, nilai religius, dan kekuatan narasi yang dimiliki karya tersebut.
Ia menilai daya tarik utama lukisan ini justru berada pada konteks yang menyertainya, yakni karya seorang seniman berlatar Muslim yang mengangkat sosok pemimpin Katolik dengan pesan universal tentang kerendahan hati.
“Kombinasi ini relevan dalam konteks dialog lintas iman dan berpotensi menarik perhatian pasar seni internasional,” ujarnya.
Denny JA dikenal sebagai figur multidisipliner yang aktif di bidang sastra, pemikiran sosial, dan konsultasi publik. Ia juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT Pertamina Hulu Energi.
Meski demikian, Satrio menegaskan estimasi nilai tersebut bersifat indikatif dan bukan harga transaksi final.
Nilai aktual, kata dia, sangat bergantung pada proses kurasi, dokumentasi, eksposur internasional, serta verifikasi independen oleh penilai dan kurator bersertifikat.
“Pada akhirnya, karya ini menunjukkan bagaimana seni dapat memperoleh makna baru ketika bersentuhan dengan peristiwa yang memiliki bobot simbolik dan historis,” kata dia.

