![]()
BEKASI (Independensi.com)- Guna meningkatkan deteksi dini kanker serviks atau kanker leher rahim pada perempuan di Indonesia, sekaligus mendorong kesadaran peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, diselenggarakan peluncuran program Gebyar Pap Smear JKN yang digelar BPJS Kesehatan secara nasional, kemarin.
Peluncuran dilakukan Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS Kesehatan, Abdi Kurniawan Purba, bersama Pemkab Bekasi.
Berdasarkan data BPJS Kesehatan, sebanyak 16,6 juta peserta JKN teridentifikasi memiliki risiko kanker serviks berdasarkan hasil skrining riwayat kesehatan. Namun, dari jumlah tersebut, baru 2,27 persen peserta yang menindaklanjuti potensi risiko itu dengan pemeriksaan lebih lanjut.
Kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan kesadaran masyarakat dan perluasan akses pelayanan deteksi dini.
Dalam kesempatan itu,
Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS Kesehatan, Abdi Kurniawan Purba, mengatakan Gebyar Pap Smear JKN merupakan bagian dari upaya memperkuat pelayanan kesehatan yang tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pada pencegahan penyakit melalui deteksi dini.
“BPJS Kesehatan sangat konsen terhadap hal ini. Kita harus mulai melakukan perubahan kebijakan dari kuratif menuju promotif dan preventif, karena berapa pun anggaran yang disediakan negara tidak akan pernah cukup jika kita hanya berfokus pada pengobatan,” ujarnya.
Angka Kelahiran
Ia menjelaskan, Kabupaten Bekasi dipilih sebagai lokasi peluncuran karena memiliki potensi tenaga kesehatan, khususnya bidan, yang memadai dan tersebar luas. Selain itu, jumlah penduduk perempuan dan angka kelahiran yang tinggi menjadi pertimbangan untuk memperkuat edukasi serta pelayanan kesehatan bagi perempuan.
“Kami ingin menggerakkan program ini di seluruh Indonesia. Karena itu, kami berkolaborasi dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) agar upaya deteksi dini kanker serviks dapat menjangkau lebih banyak perempuan,” ungkap Purba.
Dikatakan, bidan memiliki peran strategis sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat. Selain memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak, bidan diharapkan aktif mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini kanker serviks serta mendorong perempuan yang memiliki risiko untuk segera menjalani pemeriksaan lanjutan.
Diharapkan, ibu-ibu bidan membantu negara dalam menjalankan upaya promotif dan preventif. Pemeriksaan pap smear perlu terus disosialisasikan agar perempuan semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan dan melakukan pemeriksaan secara berkala.
Menurutnya, salah satu tantangan dalam pemeriksaan kanker serviks adalah masih adanya rasa malu, takut, dan enggan di kalangan perempuan. Oleh karena itu, edukasi melalui tenaga kesehatan, kader PKK, dan berbagai unsur masyarakat perlu diperkuat agar perempuan lebih terbuka untuk memeriksakan kesehatannya.
Karena itu rasa cemas, malu, dan enggan itu harus kita hilangkan melalui edukasi. Ketika perempuan mendapatkan pemahaman yang benar dan dukungan dari lingkungan sekitarnya, diharapkan mereka tidak lagi ragu untuk melakukan pemeriksaan.
Ia menegaskan, deteksi dini merupakan langkah penting untuk mengetahui potensi penyakit sebelum berkembang ke tahap yang lebih serius. Peserta yang teridentifikasi memiliki risiko melalui skrining riwayat kesehatan perlu menindaklanjuti hasil tersebut dengan pemeriksaan medis lebih lanjut sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
Kanker Payudara
Selain kanker serviks, BPJS Kesehatan juga mendorong penguatan upaya promotif dan preventif terhadap berbagai penyakit lain, termasuk kanker paru dan kanker payudara. Langkah tersebut merupakan bagian dari pengembangan pelayanan kesehatan yang lebih mengutamakan pencegahan, deteksi dini, serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap risiko penyakit.
Maka, diharapkan pelaksanaan Gebyar Papsmear JKN dapat menjadi momentum untuk memperluas kolaborasi antara BPJS Kesehatan, IBI, PKK, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya dalam meningkatkan kesehatan perempuan Indonesia.
“Mari kita bersama-sama menjadi corong pemerintah untuk menyampaikan pentingnya upaya promotif dan preventif. Kami menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan Gebyar Papsmear JKN ini. Semoga ikhtiar dan kolaborasi kita membawa manfaat bagi kesehatan masyarakat,” ajaknya.
Sementara itu, Anggota Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, Murti Utami Andyanto mengingatkan program ini tidak hanya sampai di deteksi awal tapi juga mempersiapkan langkah lanjutannya bila ditemukan kanker serviks.
Intinya, bagaimana mendorong agar masyarakat melakukan pelayanan lanjutan setelahnya. Perlu dorongan seluruh pihak atas hal ini.
Ia mengusulkan pemeriksaan tidak sebatas parameter namun juga deteksi terhadap kanker payudara yang juga mematikan di Indonesia.
Diinformasikan, angka kesakitan yang paling berat kanker. Dua penyakit terbesar itu payudara dan rahim, ini sangat baik kalau sudah melakukan deteksi.
Jadi diharapkan, dengan skrining USG payudara karena pemerintah sudah memberikan USG ke seluruh puskesmas. Ini penting untuk kesehatan kaum perempuan. (jonder sihotang)




