![]()
PEKANBARU (Independensi.com) – Warga Pekanbaru kembali menghadapi persoalan lingkungan yang berulang. Setelah berbulan-bulan terpapar kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kini banjir menggenangi sejumlah kawasan setelah hujan turun.

Karhutla yang melanda Agustus hingga Oktober 2026 berdampak serius terhadap kesehatan dan pendidikan. Kualitas udara sempat mencapai AQI 412 atau kategori berbahaya. Sebanyak 9.861 warga dilaporkan menderita ISPA.
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho menetapkan status siaga darurat dan mengerahkan fasilitas kesehatan. Kegiatan belajar PAUD hingga SLTP juga sempat dialihkan menjadi pembelajaran jarak jauh. Plt Kepala Dinas Pendidikan Pekanbaru, Dr H Abdul Jamal MPd, mengatakan kondisi asap membuat pembelajaran tatap muka selama hampir tiga bulan tidak berjalan optimal.

Salah satu kebakaran terbesar terjadi di Kelurahan Industri Tenayan, Kecamatan Tenayan Raya. Lahan gambut sedalam 2–3 meter membuat api sulit dipadamkan hingga membutuhkan bantuan helikopter untuk melakukan water bombing. Namun, ketika asap mulai menghilang, persoalan lain muncul. Hujan yang turun selama tiga hari menyebabkan sejumlah kawasan Pekanbaru kembali tergenang.
Fatimah, warga Pekanbaru, menyayangkan persoalan lingkungan yang terus berulang tanpa penyelesaian menyeluruh. “Kalau terjadi karhutla, asap tebal, sekolah diliburkan, pengusaha dipanggil dijadikan kambing hitam, tapi apa tindak lanjutnya tidak jelas,” kata Fatimah. Ia juga menyoroti sampah yang masih berserakan di sejumlah jalan protokol dan dinilai kurang mendapat perhatian.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan Pekanbaru bukan sekadar perubahan musim, melainkan juga lemahnya pengelolaan lingkungan, pengawasan lahan, dan infrastruktur perkotaan. Pemerintah perlu melakukan langkah konkret melalui pengawasan kawasan gambut, penegakan hukum terhadap pembakaran lahan, normalisasi drainase, pembangunan kawasan resapan air, serta pembenahan pengelolaan sampah. Masyarakat juga harus dilibatkan dalam menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan.
Pekanbaru membutuhkan kebijakan pencegahan yang berkelanjutan, bukan sekadar tindakan darurat ketika bencana terjadi. Warga berhak menikmati udara bersih, lingkungan sehat, dan kota yang bebas dari ancaman banjir setiap musim hujan.
Asap dan banjir Pekanbaru, karhutla Pekanbaru 2026, banjir Pekanbaru, lingkungan Riau. Warga Pekanbaru kembali menghadapi kabut asap dan banjir. Pemerintah dituntut menghadirkan solusi lingkungan yang nyata dan berkelanjutan. (Maurit Simanungkalit)




