Almay Rayhan Yaquta (Dokumentasi)

Antara Pro Senior dan “the Young Gunners”

JAKARTA (IndependensI.com) – Sejak Indonesia Golf Tour (IGT) digulirkan tiga tahun lalu, nama-nama pegolf pro senior jarang sekali muncul di media massa. Meskipun begitu kita tidak boleh memandang kehadiran mereka dengan sebelah mata. Sebab, sebagai pribadi lepas pribadi yang mewarnai persaingan di ajang local tour sejak 20-30 tahun lalu, kehadiran mereka di ajang kompetisi lokal saat ini membuat IGT menjadi lebih “berwarna”.

Dalam setiap kesempatan IndependensI.com bertemu dengan para “the Young Gunners” yang tengah berlatih di driving range dalam rangka persiapan mereka mengikuti IGT Series, yang iklim kompetisinya perlahan tapi pasti semakin kondusif, mereka menyatakan bahwa keikutsertaan para pegolf pro senior membuat mereka lebih termotivasi untuk bermain lebih baik dengan harapan dapat mengungguli para pegolf pro senior tersebut.

Danny Masrin

Bahkan ada di antara “the Young Gunners” tersebut secara terus terang mengungkapkan bahwa saat mereka dalam salah satu IGT Series berada dalam satu group dengan pegolf pro senior yang ada di republik ini, mereka mengistilahkan keberadaan mereka dalam group tersebut seperti “sambil menyelam minum air”: tetap fight untuk mengungguli permainan sang pegolf pro senior sambil diam-diam belajar bagaimana sang kompetitor tersebut mengatasi pelbagai handicap.

Bahwa di dalam salah satu IGT Series pegolf pro senior tersebut tidak berhasil keluar sebagai juara, itu adalah bagian dari “hukum alam” yang kehadirannya tak mungkin dapat dielakkan.

Sehingga fenomena tersebut disimpulkan sebagai proses terjadinya perubahan yang diungkapkan dalam bahasa sehari-hari dengan istilah “patah-tumbuh-hilang-berganti”.

Tapi, diakui atau tidak, populasi “the Young Gunners” di negeri ini jumlahnya masih belum sebanyak yang ada, misalnya, di Thailand. Bahkan, jika jumlah mereka dibandingkan dengan pegolf pro senior yang ada di negeri ini, pun jumlah mereka masih kalah banyak.

Naraajie Emerald Ramadhan Putera

Kenapa hal tersebut terjadi? Karena, dari data yang berhasil dihimpun oleh IndependensI.com, untuk menjadi pegolf profesional di Indonesia – terutama sejak era Japto Soerjosoemarno menjadi orang nomor satu di percaturan golf nasional sebagai Ketua Umum Peesatuan Golf Professional sampai hari ini saat Indonesian Professional Golf Association (Indonesia PGA) di bawah pimpinan Johannes Dhermawan – memang sangat ketat persyaratannya.

Dan, tanpa mengurangi rasa hormat IndependensI.com kepada para pegolf pro senior yang ada di republik ini, keberangkatan mereka sebagai pro diawali dari caddy. Sementara – tanpa bermaksud diskriminatif – para “the Young Gunners” yang ada saat ini, selain berasal dari keluarga yan strata sosial sangat mapan, ada juga di antara mereka yang pernah mengenyam khusus sekolah golf di luar negeri…

Terlepas dari situasi dan kondisi yang mewarnai keberadaan golf professional di tingkat lokal, yang pasri persaingan yang terjadi di ajang IGT (Indonesia Golf Tour) semakin menarik.

Paling tidak, selain dominasi para “the Young Gunners” kian kokoh dan cenderung sulit dibendung, dalam setiap perhelatan IGT Series pun saling “baku bunuh” di antara mereka sering terjadi sejak round pertama.

Contohnya adalah seperti yang terjadi di IGT Series VI musim kompetisi 2017, yang Terbukti, Yoshua Andrew Wirawan, pro berusia 20 tahun yang berlangsung pada 1-3 Agustus 2017 di Palm Hills Golf & Country Club, Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Ddiikuti 113 pegolf, yang di antaranya terdiri dari 32 pegolf amatir putra dan 3 putri, sejak hari pertama persaingan ketat terjadi antara Ian Andrew (Bali), Danny Masrin (DKI) dan pro asal Malang Suprapto.

Ketiga pro tersebut leading dengan skor 4-under. Di belakang mereka ada Benny Kasiadi (Bandung), Clement Kurniawan (DKI) yang masing-masing tertinggal satu pukulan dari Danny dan Prapto.Sementara, George Gandranata, yang tertinggal tiga pukulan dari pimpinan klasemen sementara masih memiliki peluang untuk mengubah segalanya pada ronde kedua.

Tak hanya di kelompok pegolf pro yang memperebutkan hadiah utama sebesar Rp32 juta dalam IGT Series VI, persaingan ketat pun terjadi di kelompok pegolf amatir dalam perburuan gelar Lowest Amateur.

Tiga pegolf amatir timnas SEA Games 2017 seperti Almay Rayhan Yaquta, Naraajie Emerald Ramadhan Putera dan Kevin Casario Akbar pun bersaing ketat.Meskipun pada round pertama bermain even par, namun pegolf amatir asal Surabaya yang kini menetap di DKI Jakarta tersebut posisinya masih belum aman mengingat Naraajie dan Kevin (keduanya dari Jawa Barat) masih memiliki kesempatan untuk mengejar selisih skor yang telah dibukukan Almay.

Di belakang Naraajie dan Kevin masih ada Kentaro Nanayama (Sims Golf Academy – Jakarta) Diminnikus Glenn dan Peter Gunawan (DKI) serta Tirto Tamardi (Jawa Timur) yang tereleminasi dari Timnas SEA Games 2017. Keempat pegolf amatir ini tertinggal tiga stroke dari Almay dalam langkahnya memburu gelar Lowest Amateur dalam IGT Series VI.

Persaingan di round kedua semakin ketat. Suprapto dan Clement posisinya tergeser ke bawah sementara Joshua Andrew Wirawan dan Elki Kow menyodok ke atas. Danny Masrin dan Benny Kasiadi masih bertahan di atas.Deposit pukulan Danny bertambah satu stroke di round kedua membuat Danny bertengger di posisi teratas dengan 139 pukulan atau 5-under. Benny membuntuti di posisi kedua dengan 4-under.

Setelah bermain sebanyak dua round 48 pemain lolos cut off 11 di antaranya amatir. Batas cut off 10 over.

Naraajie berpeluang untuk merebut kembali Lowest Amateur setelah membukukan skor 71 pukulan.Pesaing terdekatnya, Almay, membukukan 79 pukulan sementara Kevin C Akbar terpaut tiga stroke atau selama dua round pegolf amatir asal Depok tersebut membukukan skor 148 pukulan.

Hari ketiga (final) IGT Series VI dominasi “the Young Gunners” benar-benar tidak terbendung. Dan, di luar dugaan, Joshua Andrew Wirawan, yang menyodok ke tempat teratas dan menjadi satu-satunya pemain yang menjadi ancaman bagi Danny Masrin, benar-bebar menjadi kenyataan.

Bermain sangat konsisten sejak ronde pertama, Joshua mengakhiri permainannya dengan membukukan skor 7 under.Gelar juara yang direbut tahun ini membuktikan bahwa pro muda asal Jawa Timur itu masih memiliki ingatan yang tajam terhadap “situasi” dan “kondisi” yang ada di Palm Hills Golf & Country Club.

Pasalnya, Josh, panggilan akrabnya, tahun lalu pun nyaris menjadi juara dalam rangkaian IGT Series yang berlangsung di golf course yang sama.

Danny Masrin, yang pada IGT Series VI berada di posisi first runner up dengan 6-under, sebetulnya memiliki pemahaman yang sama terhadap Palm Hills Golf & Country Club seperti halnya Joshua Andrew Wirawan. Karena, pegolf professional yang tidak lain adalah putra Jimmy Masrin – orang nomor satu di Asian Tour – itu, pada IGT musim kompetisi 2016 menjadi juara di Palm Hills Golf & Country Club.

Danny mengaku bahwa permainan Joshua lebih baik daripada dirinya. Sedangkan Joshua mengungkapkan bahwa dia bermain lepas dan tanpa beban —  pada round final IGT tahun ini Danny Masrin sebagai kompetitornya lebih diunggulkan.

George Gandranata dan Benny Kasiadi yang pada round dua bisa menjaga asa untuk masuk jalur juara, mengakhiri permainannya di round tiga (final) berada di posisi T-3 dengan skor 211 pukulan.

“the Young Gunners” lainnya berada di posisi T-5 masing-masing dengan skor sama 214 dan salah satunya adalah Naraajie – pegolf anggota timnas SEA Games.Sedangkan pesaing terdekat Naraajie untuk meraih Lowes Amateur IGT Series VI, Kevin C Akbar, membukukan skor 220 disusul Tirto Tamardi dengan skor 221 pukulan.

Skor yang dibukukan Naraajie pada event IGT kali ini menghantarkan pegolf amatir dari Pengprov PGI Jawa Barat tersebut untuk keempat kalinya merebut gelar Lowest Amateur di kompetisi Indonesia Golf Tour (IGT) yang, dalam setiap event tersebut memang menyediakan slot khusus untuk pegolf amatir.

Dengan keberhasilannya menjuarai IGT Series, Joshua Andrew Wirawan (20 tahun), yang mengawali karir professionalnya pada 2015, merupakan juara termuda di kancah persaingan pro lokal. Dan, sebagai juara, Josh, berhak atas hadiah utama sebesar Rp32 juta dari total hadiah sebesar Rp200 juta yang diperebutkan dalam event IGT Series.

Sepak terjang beberapa pegolf pro senior dan “the Young Gunners” bakal dapat diikuti kembali saat mereka berlaga di ajang Ciputra Golfpreneur Tournament – Asian Development Tour Presented by Panasonic pada 23-26 Agustus ini di Damai Indah Golf – BSD Course.

Event tersebut selain diikuti pro dari kawasan Asia juga melibatkan pro dari kawasan lain yang berharap setelah mereka menjadi juara dalam event tersebut kelak mereka dapat nengikuti event yang masuk ke dalam rangkaian Asian Tour pada tahun-tahun berikutnya.

Namun, dalam ADT kali ini beberapa pegolf amatir terbaik di Tanah Air seperti Almay Rayhan Yaquta, Kevin C Akbar dan Naraajie Emerald Ramadhan Putera absen, karena pada waktu bersamaan mereka tampil di SEA Games XXIX di Kualalumpur, Malaysia yang berlangsung pada 19-31 Agustus 2017.