Fretilin Gagal Bentuk Koalisi Bersama CNRT

TIMOR LESTE (IndependensI.com) – Pemerintahan keenam Timor Leste yang dipimpin Perdana Menteri Rui Maria de Araujo akan berakhir pada pertengahan Agustus ini. Selanjutnya, negeri di Pulau Timor itu akan dipimpin pemerintahan yang baru hasil pemilihan Juli lalu.

Sebanyak 21 partai politik bersaing merebut suara pemilih. Tapi hanya lima partai yang meraih dukungan di atas ambang batas empat persen dan mendapatkan kursi di parlemen.

Partai Fretilin keluar sebagai pemenang dengan 23 kursi, unggul satu kursi atas rival terdekatnya, CNRT. Partai Libertacao Popular (PLP) mendapatkan delapan kursi, Partai Demokrat tujuh kursi, dan Partai KHUNTO akan menduduki lima kursi.

Dari hasil itu, tidak satu pun partai politik bisa membentuk pemerintahan sendiri karena tidak ada yang meraih mayoritas (35 kursi) di parlemen. Fretilin butuh dukungan partai lain untuk membentuk pemerintahan koalisi.

Partai CNRT, yang merebut 22 kursi, sudah menyatakan tidak mau berkoalisi dengan Fretilin. Keputusan itu diambil dalam Kongres Nasional CNRT yang berlangsung pada 4-6 Agustus 2017. Partai PLP, yang dipimpin mantan presiden Taur Matan Ruak, juga tidak bersedia mendukung Fretilin.

Dewan Partai Fretilin masih berusaha menarik CNRT ke dalam koalisi pemerintah. Sayangnya, Presiden CNRT Kay Rala Xanana Gusmao tidak hadir pada pertemuan kedua partai yang digelar di Hotel Novo Turismo-Lecidere, Dili, Rabu (9/8/2017).

Usai pertemuan, Sekretaris Jenderal Fretilin Mari Alkatiri menjelaskan ada kesalahpahaman di pertemuan tersebut. Menurut Alkatiri, delegasi CNRT akan mengajukan hasil pertemuan ke Xanana dan membahasnya secara internal.

“Dalam pertemuan dua partai pemenang pemilu ini, belum ada skenario pembentukan pemerintahan ketujuh. Juga tidak jelas keterlibatan Partai CNrT dalam pemerintahan baru bersama Fretiin,” kata Alkatiri.

Sekretaris Jenderal CNRT Francisco Calbuady Lay menjelaskan partainya menghargai undangan resmi dari Dewan Partai Fretilin untuk pertemuan tersebut.

“Dari pertemuan ini kami akan mengajukan kepada Presiden Partai untuk mengambil keputusan dalam waktu dekat,” kata Francisco.

Sebelumnya, Presiden Republik Timor Leste Francisco Guterres Lu-Olo telah memanggil dewan partai untuk meminta mereka menjaga stabilitas negeri demi kelancaran pembangunan Timor Leste.

Masyarakat Timor Leste dan dunia masih menunggu terbentuknya pemerintahan yang baru. Negosiasi dan tawar menawar politik diperkirakan masih terus terjadi di antara lima partai peraih suara, hingga berakhirnya pemerintahan Araujo. (AQA)