Choirul Huda

#SOS Sarankan Penundaan Liga 1 untuk Hormati Choirul Huda

JAKARTA (IndependensI.com) – Sepakbola Indonesia kembali makan korban. Kali ini yang meninggal adalah Choirul Huda.

Kiper Persela Lamongan itu bertabrakan dengan rekan satu timnya, Ramon Rodrigues, dan pemain Semen Padang, Marcel Sacramento, jelang babak pertama usai pada pertandingan Liga 1 di Stadion Surajaya, Lamongan, Minggu (15/10/2017).

Choirul dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah dr Soegiri, Lamongan, setelah tidak sadarkan diri. Beberapa saat kemudian,  pemain berusia 38 tahun itu dinyatakan meninggal.

Save Our Soccer (#SOS) mengusulkan penundaan semua pertandingan Liga 1 pekan ini. “Sebagai bentuk duka nasional sekaligus penghormatan untuk Choirul Huda atas musibah sepakbola yang terjadi, alangkah elok bila semua pertandingan pekan ini ditunda,” kata Koordinator #SOS, Akmal Marhali, kepada IndependensI.com.

“Ini sisi kemanusian sepakbola yang perlu dibiasakan. Apa yang ada di pikiran pemain yang bertanding sementara mereka masih terbayang wajah rekannya. Kita jadikan hari berkabung sepakbola nasional,” ujarnya sambil mengusulkan tagar #Respect #SOS.

Choirul bukan pemain pertama yang menjadi korban di lapangan hijau. Pemain Persebaya Surabaya, Eri Irianto, meninggal setelah bertabrakan dengan pemain PSIM Yogyakarta asal Gabon, Samson Noujine Kinga, di Stadion Gelora 10 Nopember, Surabaya, pada 3 April 2000.

Pemain berusia 26 tahun itu pingsan dan sempat dirawat di Rumah Sakit Doker Soetomo. Pada malam harinya dia dinyatakan meninggal karena serangan jantung.

Gelandang Bontang PKT, Jumadi Abdi, mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pupuk Kaltim pada 15 Maret 2009. Seminggu sebelumnya, tepatnya pada 7 Maret 2009, Jumadi diseruduk pemain Persela Lamongan, Deny Tarkas.

Akibat benturan itu, beberapa organ vital Jumadi mengalami kerusakan, termasuk usus halus yang bocor. Lambatnya penangangan membuat dia mengalami infeksi berat akibat kuman yang keluar dari usus halus.

“Sepakbola profesional sudah seharusnya punya tim medis terbaik di lapangan. Setiap klub harus punya dokter sendiri. Setiap stadion juga harus punya klinik dengan dokter dan perlengkapan medis yang memadai,” kata Akmal.