Presiden MSH, Dr Joanne Liu (tengah), berdialog dengan pengungsi Rohingya di salah satu penampungan pengungsi di Bangladesh. (MSF)

MSF Ajak Dunia Bantu Rohingya

JAKARTA (IndependensI.com) – Ratusan ribu orang Rohingya masih mengungsi di Bangladesh. Dokter Tanpa Batas atau Médecins Sans Frontières (MSF) mengajak dunia membantu meringankan penderitaan para pengungsi.

“Hampir 600.000 orang Rohingya mengungsi di Bangladesh dalam dua bulan terakhir. Dalam dua pekan terakhir saja, 40.000 orang melintasi perbatasan Myanmar-Bangladesh. Belum ada tanda-tanda jumlahnya menurun,” kata presiden MSF, Dr Joanne Liu, dalam surat elektronik yang diterima IndependensI.com, Rabu (25/10/2017).

“Sulit memahami besarnya krisis ini hingga Anda menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri. Permukiman pengungsi yang tersedia juga berada dalam keadaan kritis. Penampungan darurat itu terbuat dari lumpur, terpal plastik, dan bambu,” ujarnya.

Liu mengatakan permukiman di pintu masuk penampungan di Kutupalong lebih rapi. Tapi jauh lebih ke dalam, ke arah hutan dan wilayah yang tidak memiliki jalan, keadaannya mengenaskan.

“Mereka tinggal di bawah terpal plastik di daerah berlumpur dan rawan banjir. Mereka juga rentan terhadap serangan gajah. Para pengungsi tidak punya akses untuk air bersih, kakus, makanan, dan perawatan kesehatan,” kata Liu.

Seorang perempuan Rohingya menimang anaknya yang menderita radang paru-paru di fasilitas kesehaan MSF di Kutupalong, Bangladesh.

Di Kutupalong, MSF sudah mengelola fasilitas kesehatan sejak 2009. “Kami telah meningkatkan kapasitas rawat inap dari 50 tempat tidur menjadi 70 tempat tidur. Sekarang kami menangani antara 800 sampai 1.000 orang pasien setiap hari,” kata Liu memaparkan.

MSF memuji sikap pemerintah Bangladesh yang mau menerima para pengungsi. Sebagai negara yang juga mengalami masalah kemiskinan dan kelebihan penduduk, Bangladesh masih mau menampung lebih dari setengah juta pendatang dalam dua bulan terakhir.

“Tapi kemurahan hati itu dibarengi tantangan yang luar biasa. Tidak ada negara di dunia yang bias memenuhi kebutuhan yang sangat besar ini sendirian,” kata Liu.

“Kami meminta pemerintah Bangladesh tetap meminta membuka perbatasannya dan meminta masyarakat internasional mendukung tindakan berani ini,” ujarnya.

Hingga Desember 2017, MSF berencana memasang 100 sumur tabung tambahan, 300 sumur tabung dangkal, dan 1.000 kakus di penampungan pengungsi di Balukhali dan Kutupalong.

“Kami butuh lebih banyak orang yang datang ke lapangan untuk membangun kakus, memasang pompa air, menyediakan layanan kesehatan, dan membagikan makanan,” kata Liu.