Pangkostrad Edy Rahmayadi

Edy Rahmayadi: Saya Pilih Jadi Pemimpin Sumut Ketimbang Panglima

JAKARTA (IndependensI.com)  – Keinginan Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumatera Utara sudah tidak bisa dibendung dan tidak terpengaruh dengan keputusan baru Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto SIP yang menganulir rotasi jabatan Pangkostrad Edy Rahmayadi bersama 16 perwira tinggi lainnya  di tubuh TNI yang dilakukan Jenderal Gatot Nurmantyo.

Maju menjadi calon Gubernur itu tidak ada hubungannya dengan rotasi jabatan itu, karena keinginan itu memang sudah lama setelah mendapat masukan dari masyarakat Sumatera Utara.

“Cita-cita saya memang menjadi Panglima, tetapi sejumlah elemen  masyarakat di Sumatera Utara justru meminta saya untuk mengabdi untuk memajukan Sumut,” kata Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi  dalam acara pertemuan di Anjungan Sumatera Utara, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada hari Selasa (19/12/2017) lalu.

Edy Rahmayadi mengungkapkan bahwa permintaan terhadap dirinya supaya mengabdi di Sumatera Utara pertama kali datang sekitar satu tahun lalu dari etnis Tionghoa, kemudian diikuti dari sejumlah tokoh Katolik, Protestan dan tokoh-tokoh Sumut lainnya. Karena banyak permintaan supaya saya mengabdi di Sumatera Utara, maka saya berkeputusan untuk memenuhi harapan mereka.

“Padahal, saya masih baru enam bulan menjadi Pangkostrad ketika itu. Secara logika pengabdian saya di TNI masih sangat kuat dan tidak mungkin tergoyahkan,” kata Edy Rahmayadi.

Namun sejak banyaknya permintaan itu, saya selalu memikirkan untuk mengabdi di Sumut,”kata Edy lagi. Banyak yang harus dibenahi di Sumatera Utara. Atas dasar itu tekad bulat menjadi pemimpin di Sumut terus bergelora sampai akhirnya saya memutuskan untuk maju di Pilkada Sumut 2018.

Pangkostrad mengaku, sebagai orang Melayu yang diminta untuk memajukan Sumatera Utara pihaknya sulit menolak. Karena itu, saya memutuskan untuk ikut mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumut.  Dukungan dari berbagai kalangan juga terus bemunculan karena Sumut membutuhkan seorang figur yang mampu mempersatuan dan memajukan Sumut.

Menurut Edy, dirinya juga mendalami sejarah Melayu, termasuk belajar sejarah Melayu, melakukan penelusuran hingga ke Pulau Penyengat, Riau. Hal itu dilakukannya karena kekagumannya akan Melayu dan Budaya Melayu. Budaya Melayu harus dijaga dan dilestarikan, demikian juga budaya lainnya di Sumatera Utara.

Acara itu sendiri digagas oleh Tim Sukses Eddy Rahmayadi melalui Wadah Informasi Networking Netizen Edy Rahmayadi Sumatera Utara 1 (winnER Sumut-1). WinnER bersama Lembaga Pengembangan Kebudayaan Melayu (LKPM) menggelar acara Temu Ramah bersama Tokoh Melayu Edy Rahmayadi di Anjungan Sumut TMII.

Di acara tersebut hadir sejumlah tokoh Melayu dan Sultan Langkat serta Tim Sukses WinER : Echen ukman Neska, MBA, Ruslim Sembiring SE, Drs Irgan Chairil Mahfiz, HS Ashary SE,MM, H. Ir. Muslim Armas, Darmansyah Ismail, Silvi Lemana Malano, Tatan daniel S.Sos, Muhammad Fadly Nasution.

Dalam kesempatan itu, Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi juga mengungkapkan mengenai adanya perubahan keputusan yang dilakukan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Adanya perubahan keputusan itu membuat dirinya masih bisa tetap menjadi Pangkostrad dan bahkan bisa menapaki karier yang lebih bersinar atau lebih tinggi lagi di TNI seperti KSAD hingga Panglima TNI.

Namun sebagaimana sudah saya katakan tadi, sulit rasanya menolak permintaan tokoh-tokoh Sumut tersebut. Apalagi mereka sudah bekerja dengan membentuk tim sukses sebagai pertanda mereka serius membantu untuk memenangkan saya sebagai pimpinan Sumut.

Menurut Edy keputusan dirinya meninggalkan institusi TNI sudah bulat. Karena itu, ia tetap akan maju menjadi calon gubernur Sumatera Utara pada Pilgub tahun 2018. “Saya sudah final, sudah bulat hati saya untuk menjadi Gubernur Sumut di 2018 apabila dipilih oleh rakyat Sumatera Utara,” kata Edy.

Edy pun menjelaskan bahwa dirinya sudah mendapatkan dukungan dari Partai Gerindra, PKS dan Hanura serta PAN untuk maju mencalonkan diri menjadi Gubernur Sumatera Utara. “Saya juga sudah punya cawagub, Ijek, Musa Rajekshah,” ujarnya.

Terkait keputusan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto yang memutuskan agar dirinya tetap menjadi Pangkostrad, menurutnya tidak menjadi masalah. “Itu wewenang Panglima TNI, biasa,” kata dia.

Menurutnya, wajar bila ada pengkajian ulang keputusan yang pernah diketuk sebelumnya oleh Panglima TNI yang baru. “Bukan dibatalkan, tapi dikaji ulang. Karena pejabat baru melihat kepemimpinan seperti apa,” ujar Edy.