Steve Bannon

Bannon Koreksi Pernyataan Tentang Trump

JAKARTA (IndependensI.com) – Mantan penasihat Donald Trump, Steve Bannon, mengoreksi pernyataannya yang menyinggung Trump. Bannon menjadi salah satu narasumber Michael Wolff untuk menulis “Fire and Fury: Inside the Trump White House”, buku yang membuat Trump naik pitam.

Beredarnya buku tersebut membuat Bannon berada dalam posisi sulit. Dia dijauhi oleh kalangan finansial, dikecam oleh sekutu politiknya, dan dianggap konyol oleh Trump.

Di buku itu, Bannon dikutip menyatakan bahwa pertemuan pra-pemilihan presiden yang antara lain diikuti putra Trump, Donald Trump Jr, dan pengacara Rusia, sebagai kegiatan “makar”. Dia juga menyatakan bahwa jaksa yang mengusut adanya kemungkinan kolusi antara tim kampanye Trump dan Rusia bakal “memecahkan Don Junior seperti telur di televisi nasional.”

Seorang laki-laki membawa buku “Fire and Fury: Inside the Trump White House” karya Michael Wolff setelah membelinya di salah satu toko di Washington, DC, pada 5 Januari 2018.

Dalam pernyataan yang dimuat di laman berita Axios, Minggu (7/1/2018), Bannon menjelaskan sikapnya.

“Donald Trump Jr adalah orang yang baik sekaligus seorang patriot. Dia sudah tanpa lelah memberikan nasihat kepada ayahnya dan membuat agenda yang membantu mengubah negeri kita,” kata Bannon yang menjadi penasihat senior Trump hingga dipecat pada Agustus 2017.

Kritisinya, kata Bannon, ditujukan kepada salah satu ketua tim kampanye Trump yaitu Paul Manafort, “seorang profesional kampanye musiman” yang “seharusnya sudah tahu bahwa (Rusia) berwajah ganda, licik, dan bukan sahabat kita.”

 

Menyesal

Tapi dalam “Fire and Fury”, Bannon mengatakan bahwa “tiga tokoh papan atas ddalam kampanye” – Manafort, Donald Jr, dan menantu Trump, Jared Kushner – menghadiri pertemuan yang digambarkannya sebagai “makar”.

Bannon mengaku menyesal, bukan soal pernyataan tersebut tapi tentang keterlambatannya menanggapi isi buku Wolff.

“Saya menyesal bahwa saya menunda-nunda menanggapi laporan yang tidak akurat terkait Don Jr yang telah mengalihkan perhatian dari pencapaian bersejarah presiden.”

Hingga Minggu, Trump terus melancarkan serangan terhadap “Fire and Fury” dan penulisnya. Dalam cuitannya di Twitter, Trump mengatakan bahwa buku, yang menyebut dia kurang informasi dan tidka stabil dengan adanya tanda-tanda kehilangan ingatan, adalah “Buku palsu, ditulis oleh penulis yang tidak kredibilitas.”

Trump Sibuk Bantah “Fire and Fury”

Sehari sebelumnya, membantah pernyataan Wolff tentang kecerdasannya, Trump menyebut dirinya “orang yang amat genius dan stabil.”

Dalam wawancara dengan CNN, Minggu, penasihat politik senior Trump, Stephen Miller, menanggapinya dengan mengatakan bahwa faktanya bosnya adalah “orang jenius di bidang politik”.

Wolff, kata Miller, “adalah penulis sampah yang menulis buku sampah”. Dia juga menyerang Bannon dengan menyebutnya “pendendam” dan “lepas dari kenyataan”.

Wolff tidak tinggal diam. Dalam wawancara dengan NBC, Minggu, dia mengatakan tidak pernah melanggar kesepakatan “off the record” apa pun dalam tulisannya. Dia juga mengatakan bahwa wawancara tiga jam dengan Trump benar-benar terjadi tapi sang presiden “mungkin tidak menganggapnya sebagai wawancara”.

Wolff, yang berusia 64 tahun, juga menggambarkan kecemasan Gedung Putih tentang kemungkinan Trump dicopot dari posisinya dengan alasan tidak sehat. Hal itu mungkin dilakukan, meski tidak mudah, berdasarkan Amandemen ke-25 di konstitusi AS.

Hampir setiap hari, katanya, pejabat Gedung Putih mengatakan, “Kita belum sampai di level Amendemen ke-25”.

Nikki Haley, duta besar AS di PBB, membantah hal itu. Kepada ABC, Haley mengatakan bahwa tidak ada orang di Gedung Putih yang “meragukan stabilitas presiden”. Dia balik menyerang dengan mengatakan bahwa Wolff adalah orang yang bisa “berbohong demi uang dan kekuasaan”.

Wolff membantahnya dengan mengatakan bukunya tidak ditulis karena dia anti-Trump.

Michael Wolff

“Saya lebih senang jika bisa menulis hal sebaliknya di sini: ‘Donald Trump, presiden yang tidak terduga, benar-benar bisa sukses’. Okay, bukan itu ceritanya. Dia tidak akan sukses. Ini lebih buruk dibanding yang semua orang pikirkan.”

Direktur CIA Mike Pompeo, di Fox News Sunday, menyebut penggambaran Wolff tentang Trump sebagai “khayalan murni”.