Steve Bannon

Akibat Buku Trump, Bannon Tinggalkan Breitbart News

JAKARTA (IndependensI.com) – Kehebohan di AS menyusul terbitnya buku “Fire and Fury: Inside the Trump White House” belum berakhir. Steve Bannon, salah satu narasumber buku karya Michael Wolff itu, akhirnya mengundurkan diri dari Breitbart News.

Bannon keluar dari surat kabar konservatif itu setelah menuai berbagai kecaman karena komentarnya. Di buku tersebut, Bannon dikutip pernyataannya tentang kelayakan Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat dan tentang keluarga Trump.

Apakah kepergian Bannon membuatnya tersingkir dari panggung politik AS? Tidak juga. Banyak pihak yang melihat Bannon akan lebih bebas berkomentar setelah keluar dari lingkungan Republik. Sebagai orang yang berada di balik sukses Trump masuk Gedung Putih, Bannon memegang banyak rahasia. Dia bahkan pernah disebut Bloomberg sebagai “pelaku politik paling berbahaya di Amerika”.

“Steve adalah bagian yang bernilai dari warisan kami, dan kami akan selalu berterima kasih atas kontribusinya, dan atas bantuannya atas pencapaian kami,” kata CEO Breitbart News, Larry Solov, dalam pernyataannya terkait pengunduran diri Bannon, Selasa (9/1/2018).

Bannon Koreksi Pernyataan Tentang Trump

Bannon mengatakan bahwa dia “bangga atas apa yang sudah dicapai tim Breitbart yang dalam kurun waktu singkat berhasil membangun perangkat pemberitaan berkelas dunia”.

New York Times mengatakan bahwa Bannon mundur karena desakan dari salah satu patron keuangan, Rebekah Mercer.

Breitbert mengatakan Bannon dan perusahaan ini akan “bekerja sama untuk melakukan transisi yang mulus dan benar”, tapi tidak ada keterangan lebih lanjut.

Nama Bannon mencuat ke permukaan setelah Trump menunjuknya sebagai ketua tim kampanye pada Agustus 2016. Pengangkatannya hanya tiga bulan sebelum pemilihan presiden, saat Trump diperkirakan tidak mampu mengalahkan kandidat Demokrat, Hillary Clinton.

 

“Sloppy Steve

Waktu itu Bannon tengah menjalankan Breitbart News, laman berita yang terus mengabarkan kebangkitan Trump dan Republik. Dia menjadi ketua eksekutif di sana sejak 2012.

Dalam waktu singkat, kariernya meningkat setelah berada di lingkaran dalam Trump dan diangkat sebagai kepala tim strategis Gedung Putih.

Selama beberapa bulan kemudian, Trump mempersilakan Bannon memimpin perang di dalam Gedung Putih melawan para pemimpin partai yang sudah mapan, legislator petahana, dan beberapa tokoh politik papan atas lain yang menentang kepemimpinan Trump.

Setelah Bannon meninggalkan Gedung Putih pada Agustus 2017, dia masih berhubungan baik dengan Trump. Tapi hubungan itu berakhir setelah terbitnya “Fire and Fury”.

Dalam buku itu, Bannon dikutip mengatakan tentang pertemuan pra-pilpres yang melibatkan putra sulung Trump, Donald Jr, dan pengacara Rusia, sebagai kegiatan “makar”.

Trump menyebut Bannon “kehilangan akal sehat”dan lewat Twitter menjulukinya “Sloppy Steve”. Trump juga mengatakan “Fire and Fury” hanya berisi kebohongan, sementara penulisnya disebut sebagai pembohong.

Bannon berusaha meluruskan masalah. Dalam wawancara dengan laman berita Axios, dia mengatakan bahwa “Donald Trump Jr adalah seorang patriot dan orang baik”. Dia juga menyampaikan permintaan maaf tapi bukan atas pernyataannya melainkan atas keterlambatannya menanggapi masalah ini.