UU Penistaan Agama Alat Ampuh Membungkam Kritik?

IndependensI.com – Di Indonesia agama dipandang sebagai berhala yang tidak boleh diganggu gugat dan penganut agama ibarat anggota geng bacok senggol. Pada saat ada orang yang mengkritik atau mengeluarkan pernyataan satire langsung dituduh melakukan penistaan dan penodaan agama.

Agama bukan menjadi inspirasi kebaikan, tetapi menjadi alat untuk menakut-nakuti dan mengancam orang lain (Liyan). Akibatnya orang-orang justru akan semakin bersikap kritis kepada agama. Ada apa di balik itu? Kenapa agama sedemikian rupa harus dilindungi dan dijaga supaya tidak dilecehkan? Sesuatu yang ingin dilindungi dan dibela terus menerus berarti ada yang ingin disembunyikan secara permanen.

Fenomena terakhir adalah kasus yang menimpa mantan penyanyi cilik Joshua Suherman yang akan dilaporkan oleh Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) akan ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri atas tuduhan melecehkan agama Islam saat membawakan materi stand up comedy.

Ketua FUIB Rahmat Himran menyebut materi lawakan yang dianggap melecehkan agama adalah saat Joshua membandingkan popularitas Anisa Rahma, mantan personel Cherrybelle. “Dia bilang alasan kenapa Anisa lebih unggul adalah karena Islam. Terus teriak mayoritas tidak bisa dikalahlan di negeri ini,” kata Rahmat.

Joshua menyebut Anisa lebih terkenal dibandingkan Cherly Juno, personel Cherrybelle, karena perbedaan agama yang dianut mereka.

Joshua mengatakan, keduanya memiliki talenta dan kecantikan yang relatif sama. Namun, popularitas Anisa lebih unggul dan ditunggu penggemar daripada Cherly. Alasannya adalah Anis beragama Islam, sedangkan Cherly tidak.

“Zaman dulu, semua mata tertuju pada Anisa. Semuanya Anisa. Padahal skill nyanyi tipis-tipis, skill nge-dance tipis, cantik relatif, ya kan? Gue mikir kenapa Anisa selalu unggul dari pada Cherly, ah sekarang gue ketemu jawabannya. Makanya Che (Cherly), Islam,” kata Joshua sebagaimana terekam dalam video yang diunggah di Youtube.

FUIB akan melaporkan Joshua Suherman dengan jerat pasal 156 huruf a KUHP tentang penistaan agama. Namun mereka terbuka jika ada tambahan pasal setelah berbincang dengan kepolisian di Bareskrim Polri.

Komika Ge Pamungkas juga dituding melakukan penistaan agama. Hal ini terjadi karena ia membuat pernyataan yang dituding menista agama Islam pada saat melakukan stand up comedy. “Dulu nih, Jakarta banjir. Apa coba itu, Weh, netizen itu, ini gara-gara (Ahok),” katanya menyinggung gubernur sebelumnya.

Nah di masa kepemimpinan di DKI yang baru saat ini, warga DKI mengatakan bahwa banjir saat ini adalah cobaan dari Tuhan. “Wah ini adalah cobaan dari Allah SWT,” kata Ge yang disambut tepuk gemuruh para penonton.

“Sesungguhnya Allah akan memberikan cobaan kepada yang dicintai, Cintai Apaan!” imbuh Ge yang disambut tertawa penonton.

Kata-kata Ge inilah yang dianggap menghina Islam.

Dengan demikian di Indonesia, agama ingin diposisikan sebagai berhala dan sakral. Tidak boleh orang lain menyenggol agama.

Namun ini tidak berlaku secara fair dan adil. Para pemuka agama seperti ustad-ustad atau ustadzah-ustadzah bebas membahas agama lain dengan alasan melakukan dakwah. Tidak sedikit ustad-ustad atau ustadzah-ustadzah seperti Felix Siauw, Irene Handono, Abu Somad, Khalid Basalamah, Bahar Smith yang rajin mengkritisi agama lain tanpa ada kekawatiran disebut melakukan penistaan agama.

Dalam agama ada narasi kekuasaan yang ingin dibangun dan dipertahankan. Agama akan menjadi alat kekuasaan yang efektif jika tidak diimbangi dengan kebebasan mengkritik. Kekuasaan mutlak atau absolut dalam bentuk apapun akan senantiasa korup. Agama dengan demikian menjadi sumber kekuasaan yang melanggengkan korupsi karena selalu berlindung pada UU penistaan agama guna membungkam kritik. (Sigit Wibowo)

One comment

  1. Sangat realistis. Ketidakseimbangan terjadi mungkin karena dominasi yg satu terhadap yg lain. Dlm posisi seperti itu, kritik menjadi kehilangan gigi. Karena belum dianalisa benar tidaknya udah pasti salah.

Comments are closed.