Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso. (foto istimewa)

Pelemahan Rupiah akan Berdampak pada Kredit Perbankan

JAKARTA (IndependensI.com) – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini, Jumat (23/3/2018) dibuka semakin tak berdaya dan terus merosot ke zona merah.

Pelemahan mata uang Garuda terjadi saat yen berbalik melawan USD untuk menyentuh posisi tertinggi.

Menurut Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso, pelemahan rupiah tidak akan mempengaruhi keuntungan ekspor dagang di Indonesia. Hanya saja, pelemahan rupiah akan berdampak pada perbankan.

“Pelemahan rupiah kalau di sektor riil, menguntungkan eksportir karena berdampak positif pada ekspor, karena mendapatkan untung dari dolar. Tapi dampaknya kepada perbankan, berkaitan dengan profitibilitas perbankan jadi tidak signifikan,” ujar Wimboh di Gedung BI, Jakarta, Jumat (24/03/2018).

Ia mengatakan pelemahan rupiah akan sangat berdampak pada kredit perbankan. Mengingat, beberapa bank telah menetapkan kredit untuk beberapa nasabahnya

“Karena perbankan posisi missmatch-nya kecil. Kita dan juga perbankan kondisi cap-nya tinggi 23 koma sekian persen,” katanya.

Menurut kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah pagi ini dibuka pada level Rp13.780 per USD. Posisi ini memperlihatkan rupiah ambruk parah dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp13.737 per USD.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah hari ini ditutup ke level Rp13.782 per USD, atau bearish dari penutupan kemarin di level Rp13.755 per USD. Pergerakan harian rupiah berada di kisaran Rp13.763-Rp13.797 per USD.

Data Yahoo Finance menunjukkan rupiah ditutup jatuh ke posisi Rp13.780 per USD, dibanding penutupan sebelumnya Rp13.750 per USD. Rupiah sepanjang Jumat ini bergerak pada level Rp13.758-Rp13.794 per USD.(BM/ist)