Petenis junior andalan Pengkab Pelti Banjarnegara (berkaos biru) sebelum bertanding melawan petenis junior putri dari Pengkab Pelti Pacitan, Jawa Timur. (Foto: Toto Prawoto)

Aktualisasi Filosofi Olahraga ala Hari Sumasto

JAKARTA (IndependensI.com) – Bagi komunitas tenis lapangan di lingkungan Pengcab Pelti Banjarnegara, Jawa Tengah, nama Hari Sumasto tidak asing lagi. Pria yang akrab disapa dengan sebutan Mas Hari ini lahir di Semarang pada 18 Maret 1962.

Saat masih bujangan dan tinggal (kost) di Desa Gumelem, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara – Mas Hari yang saat itu belum lama bekerja sebagai penyuluh pertanian – aktif menekuni olahraga bola voli.

Tidak hanya aktif sebagai pemain, mas Hari pun melatih para pemuda dan ibu-ibu anggota PKK bermain voli.

Mas Hari duduk santai di belahan kayu yang menjadi pagar halaman rumahnya. (Foto: Toto Prawoto)

Sebagai pegawai baru di lingkungan Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah, yang ditugaskan di wilayah Kabupaten Banjarnegara sebagai penyuluh pertanian, mas Hari sangat beruntung memiliki talenta di atas rata-rata di bidang olahraga khususnya volleyball. Sehingga melalui dia bisa menjalin persahabatan dengan masyarakat desa tempat di mana dia bertugas sebagai penyuluh pertanian.

Mas Hari menekuni pekerjaannya sebagai penyuluh pertanian sejak 1982 sampai sekarang. Jabatan yang disandangnya saat ini di lingkungan Dinas Pertanian & Peternakan (Distankan) Kabupaten Banjarnegara adalah sebagai Penyuluh Madya di Balai Penyuluhan Kecamatan Purwareja Klampok, yang kantornya berada di seberang RS Emmanuel yang sangat terkenal di tlatah karesidenan Banyumas.

Alumni Universitas Widya Dharma Klaten, Jawa Tengah, pada 2006 (mas Hari bekerja sambil kuliah), yang mengambil jurusan Teknologi Hasil Pertanian ini mulai menggeluti olahraga tenis lapangan sejak 1988 sampai sekarang.

Mas Hari bersama istrinya, Budi Mulyani, berpose di akar pohon yang menghiasi halaman rumahnya. (Foto: Toto Prawoto)

Dan, berbanding lurus dengan jabatan yang diembannya di lingkungan Distankan Kabupaten Banjarnegara pergaulan mas Hari pun semakin luas terutama setelah dia secara intensif menekuni olahraga tenis.

Suami Budi Mulyani yang telah dikarunia tiga orang anak dan dua orang cucu ini – berkat olahraga tenis yang digelutinya sejak tiga puluh tahun lalu – berhasil “menembus” ke dalam jajaran pengurus Pelti Pengkab Banjarnegara, sebagai anggota bidang atau seksi prestasi dua periode berturut-turut pada 2017 dan 2018.

Lapangan tenis milik Pengkab Pelti Banjarnegara. (Foto: Toto Prawoto)

Seperti diketahui, dalam percaturan olahraga tenis lapangan, Pelti Pengcab Banjarnegara yang berada di bawah payung hukum Pelti Pengprov Jawa Tengah, kontribusinya patut diapresiasi. Karena ada beberapa petenis junior dari Banjarnegara seperti Dinda Nunsyanda pada 2017 namanya masuk PNP putri junior usia 12 tahun dan tahun ini Dinda yang berusia 13 tahun namanya kembali tercatat masuk PNP usia 14 tahun. Petenis junior andalan Pelti Pengcab Banjarnegara tersebut pernah menjuarai turnamen Yayuk Basuki Ambara Sportama seri 4 Nasional yang berlangsung di Banjarnegara.

Di kabupaten yang terkenal dengan Dawet Ayu-nya selain Dinda masih ada nama petenis junior lainnya seperti M Zidmi (14 tahun), Shakila (12 tahun), Frea (12 tahun) dan Wulan (12 tahun), yang menjadi andalan Pelti Pengcab Banjarnegara dalam event junior baik di tingkat lokal maupun nasional.

Mas Hari sendiri selain aktif sebagai pemain juga dikenal sebagai pelatih. Seminggu tiga kali dia bermain dan melatih di klub tenis Bina Raga Purwareja Klampok.

Muridnya beragam. Ada PNS, pelajar dan para pedagang yang membuka usahanya di sentra bisnis di Jalan Raya Purwareja Klampok – jalur tengah utama jurusan Purwokerto – Semarang lewat Banyumas – Banjarnegara.

Mas Hari bersama keluarganya kini tinggal di Desa Karangjati, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara.

Tempat tinggal kediaman mas Hari dan keluarganya cukup unik dan “antik”. Pasalnya, pagar rumahnya yang persis di pinggir jalan alternatif Banjarnegara menuju Sempor, Gombong, terdiri dari tumpukan batu kali, sementara pagar halamannya yang berbatasan dengan kebun berasal dari belahan kayu yang usia telah puluhan tahun menyatu atau terendam dalam pasir di hulu Kali Sapi (sungai yang lewat Desa Karangjati yang menjadi pembatas antara Kecamatan Susukan dan Kecamatan Purwareja Klampok).

“Pohon tersebut tercerabut dengan akar-akarnya sekaligus dengan akarnya saat terjadi banjir bandang,” kata mas Hari saat dia bersama, Budi Mulyani, istrinya, foto bersama dengan “latar depan” akar pohon yang nyaris menjadi fosil yang berada di halaman rumahnya sebagai hiasan.

Mas Hari berpose di pagar batu di rumahnya. (Foto: Toto Prawoto)

Sebagai warga desa, pria berusia 56 tahun ini juga aktif dalam kegiatan sosial. Dia pernah menjadi anggota Badan Pembina Desa (BPD), Komite Sekolah SD I Karangjati dan saat ini masih menjabat Ketua RW.

Sebagai PNS, tidak lama lagi dia akan memasuki masa pensiun. Dan, untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi di kemudian hari, ayah dari Gogy, Wulan dan Nanda serta cucu dari Gaida dan Giza, ini, sejak beberapa tahun belakangan mulai belajar bisnis.

“Tapi, semuanya masih dalam proses, perintisan dan dibutuhkan waktu lama untuk mendapatkan hasil yang diharapkan,” katanya kepada IndependensI.com.

Yang jelas, sebagai bagian dari komunitas olahraga di republik ini, mas Hari telah mengaktualisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam filosofi olahraga yakni friendship atau persahabatan, sehingga dalam situasi dan kondisi seperti apa pun dia tetap optimistis dalam mengarungi pasang-surutnya kehidupan ini. Salam olahraga. Jaya! (Toto Prawoto)