Dirut PLN : Keuangan Kami Masih Kuat

JAKARTA (independensi.com) – PT PLN (Persero) mengalami kerugian sebesar Rp 18,48 triliun di kinerja kuartal III tahun 2018. Kerugian disebabkan karena terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat dan naiknya harga bahan bakar (komoditas).

Kinerja PLN tahun ini berbalik dengan tahun lalu, di mana perseroan bisa mencetak laba bersih Rp 3,05 triliun. Berdasar laporan keuangan yang dipublikasikan di situs Bursa Efek Indonesia, kerugian dipicu kenaikan beban usaha 12%.

Beban terbesar masih berasal dari beban bahan bakar dan pelumas yang naik dari Rp 85,28 triliun menjadi Rp 101,88 triliun. PLN juga menderita pembengkakan kerugian karena selisih kurs. Jika pada kuartal III-2017 rugi dari selisih kurs mencapai Rp 2,23 triliun, maka pada kuartal III-2018 menjadi Rp 17,33 triliun.

PLN sebenarnya sudah teriak-teriak sejak awal tahun soal potensi besarnya rugi akibat kurs ini. Mulai dari kuartal pertama tahun ini yang sempat diumumkan perusahaan rugi Rp 6 triliun akibat kurs. Tapi, rupiah terus memburuk seiring berjalannya waktu.

Meski begitu Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir mengatakan bahwa PLN baik-baik saja. “Keuangan PLN kuat, cashflow kami masih banyak,” ujarnya saat dijumpai di lingkungan Istana Negara, Rabu (31/10/2018).

Dalam wawancara bersama CNBC Indonesia TV, Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto memaparkan bahwa secara riil cost operasional PLN sebenarnya masih laba, tapi secara buku memang agak berbeda. Jika rugi kurs tak masuk, PLN sebenarnya masih mencetak laba Rp 9,6 triliun.  “Ini yang riil cost, kalau untuk papernya kita ada utang jatuh tempo yang masih 30 tahun lagi ini kan bukan sekarang,” paparnya.

Terkait proyeksi bahwa perseroan bisa merugi sampai Rp 30 triliun, Sarwono optimistis hal itu bisa dihindari dengan berharap ada perbaikan nilai tukar dalam sisa 3 bulan ke depan. “Proses pinjaman valas dari tahun ke tahun kan turun, ini kami masih lihat bottomline-nya. Belum masuk semua, belum dihitung soal subsidi. Mudah-mudahan rupiah normal kembali,” ucapnya.