Korban Longsor Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor

Distribusi Bantuan Tidak Merata, Korban Longsor Sukajaya Bogor Mengungsi ke Rumah Keluarga

SUKAJAYA. BOGOR (Independensi.com) – Distribusi bantuan untuk warga korban tanah longsor di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor hingga Senin 6 Januari 2020 belum merata. Akibatnya, sejumlah korban longsor harus berjalan kaki sekitar 6 jam melewati isolasi material longsor untuk mengungsi ke tempat sanak saudaranya.

Ibu Atnih bersama suaminya Jajat dan 3 orang anak, serta  4 saudaranya adalah warga Kampung Cihuut, Desa Jayariharja, misalnya belum mendapatkan bantuan dari pihak manapun. Padahal, mereka merupakan korban di salah satu lokasi yang terdampak bencana.

Hampir satu minggu pasca bencana ibu dari tiga orang anak ini tidak mendapat bantuan. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk keluar dari daerahnya yang terdampak bencana.  KKeluarga Ibu Atnih memilih mengungsi ketempat keluarga yang cukup jauh dari desanya ke tempat keluarga untuk bisa bertahan hidup.

“Ada sih bantuan biscuit satu sachet, sabun soklin. Cuma dapat itu aja selama 6 hari ini. Kami kan  butuh makan, jadi kami berusaha untuk nyelametin diri,”kata Atnih saat di temui di depan Pospol Sukajaya, Senin (06/01/2020)

Untuk bertahan hidup selama enam hari sejak bencana menimpa di Sukajaya,  Atnih menuturkan, ia dan keluarga masak seadanya dengan menggunakan kayu bakar. “Masak kan pake kayu bakar seadanya,”tutur Atnih

Atnih menambahkan untuk sampai ke Pospol Sukajaya, ia dan keluarganya harus menempuh matrial longsor dengan waktu tempuh enam jam dengan berjalan kaki. “Dari jam 6 sampe jam 12 di sini, jalan kaki” tambahnya

Ditempat yang sama, suami Atnih yakni Jajat mengatakan tidak adanya himbauan dari pihak pemerintah ataupun arahan bagi mereka warga yang terdampak bencana. “Tenda-tenda pengungsian nggak ada, himbauan soal bikin tenda darurat nggak ada.

Jajat juga menuturkan bahwa ia dan sebagian warga lainnya mempertanyakan kehadiran pemerintah

“Jangankan saya, yang lain pada nanya. Aparat desa kemana?  Lurah yang biasa di panggil Jaro Unus tidak pernah tampak batang hidungnya. Kita kan warga, mau larinya kemana bingung,” kata Jajat.

Atnih bersama keluarganya kini mengungsi ke sanak saudaranya yang berada di wilayah Kecamatan Leuwiliang. “Sekarang kita sudah ada tempat keluarga di daerah Leuwiliang yang siap nampung,” tutup Jajat. (Fahri)