Program TULUS dilaksanakan dalam dua rangkaian kegiatan yang bertempat di Balai Warga Bella Casa Residence. Rangkaian pertama diadakan pada Kamis (3 Agustus 2025), dan rangkaian kedua pada Sabtu (9 Agustus 2025).
Program TULUS dilaksanakan dalam dua rangkaian kegiatan yang bertempat di Balai Warga Bella Casa Residence. Rangkaian pertama diadakan pada Kamis (3 Agustus 2025), dan rangkaian kedua pada Sabtu (9 Agustus 2025).

TULUS: Program Pengabdian Masyarakat untuk Lansia Sehat dan Bahagia

Loading

Menjaga Kualitas Hidup Lansia: Sehat dan Bebas Kesepian

Sri Yona, S.Kp., M.N., Ph.D., menyampaikan materi mengenai menjaga kualitas hidup lansia. Ia menjelaskan bahwa lansia perlu didukung dengan pola hidup sehat, pemantauan tekanan darah, status nutrisi, dan latihan relaksasi. Selain itu, perhatian khusus juga diberikan pada isu psikososial, terutama kesepian dan isolasi sosial. Kesepian dapat muncul akibat perasaan terpisah, kurangnya interaksi sosial, atau kehilangan pasangan. Jika tidak ditangani, kesepian dapat meningkatkan risiko hipertensi, stres, dan penurunan kognitif.

Untuk mengatasi hal ini, kader diajak mengenali tanda-tanda kesepian pada lansia dan diberi strategi pencegahan. Strategi tersebut meliputi menjadwalkan kunjungan rutin, mendorong lansia ikut dalam komunitas hobi, dan menghubungkan lansia dengan layanan sosial.

Penyerahan plakat ke Ketua RW setempat.
Penyerahan plakat ke Ketua RW setempat.

Kesehatan Reproduksi dan Perlindungan dari Kekerasan

Materi mengenai kesehatan reproduksi dan kekerasan terhadap perempuan lansia disampaikan oleh Prof. Dr. Yati Afiyanti, S.Kp., M.N. dan Rita Ismail, SKp, MKM.MTD (HE), PhD. Prof. Yati menjelaskan bahwa kesehatan reproduksi mencakup kesejahteraan fisik, mental, dan sosial pada setiap tahap kehidupan. Perempuan lansia mengalami perubahan besar dalam sistem reproduksi, yang dapat menyebabkan keluhan seperti nyeri sendi dan gangguan fungsi seksual. Prof. Yati menekankan bahwa perempuan lansia berhak hidup sehat secara reproduktif dan mendapatkan dukungan dari masyarakat.

Isu kekerasan terhadap perempuan lansia juga disoroti. Berdasarkan data Komnas Perempuan, banyak lansia mengalami kekerasan fisik, psikis, seksual, penelantaran, dan eksploitasi finansial, yang pelakunya sering kali adalah anggota keluarga terdekat. Faktor risiko kekerasan termasuk ketergantungan fisik, isolasi sosial, dan ketimpangan gender. Prof. Yati dan Rita mengajak kader untuk menjadi garda depan dalam pencegahan kekerasan, dengan cara edukasi, membangun kepercayaan, dan melibatkan tokoh masyarakat.

Pada rangkaian kedua, kegiatan diisi dengan senam pagi, sambutan, dan paparan materi yang kembali disampaikan oleh Sri Yona, Yossie Susanti, dan Rita Ismail. Setelah sesi materi, peserta yang terdiri dari 35 warga lansia dan pra-lansia mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis, termasuk skrining demensia. Kegiatan ditutup dengan penyerahan plakat dan tensimeter sebagai simbol dukungan untuk pemantauan kesehatan mandiri.

About The Author