Herman Hakim Galut

Krisis Intelektual Kita Sangat Merisaukan

Loading

Oleh Herman Hakim Galut

IndependensI.com – Ujaran Imam besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab dan pengacara aktivis Eggi Sudjana bukanlah hal baru dalam khasanah agama-agama Samawi. Dalam suatu kesempatan, Habib Rizieq mengatakan, kalau Yesus Kristus anak Allah, siapa bidannya?

Dalam rumusan berbeda tetapi bermakna sama, Eggi Sudjana mengatakan “secara intelektual, agama Kristen, Hindu dan Budha tak sesuai Pancasila karena berturut-turut mengimani Trinitas dan Trimurti. Karena Islam mengakui satu Allah, maka Islam-lah yang paling cocok dengan Pancasila. Oleh karena itu, kata Eggi, agama Kristen, Hindu dan Budha dibubarkan.

Sukar sekali untuk mengatakan, apakah ujaran Habib Rizieq dan Eggi ini berpijak pada landas intelektual yang benar atau tidak. Apakah kedua orang ini berujar dalam kapasitas sebagai pendakwah atau politisi.

Satu hal yang pasti, keduanya berujar sebagai umat Islam. Apa yang diujarkan itu tak ada salahnya karena secara inheren, Islam tidak mengenal konsep pemisahan antara agama dan agama. Namun, secara politik ujaran itu tidak benar (politically uncorrect).

Ujaran Habib Rizieq dan Eggi Sudjana bersumber pada Kuran ayat CXII yang mengatakan, “Praise be to God, who begets no son and has no partner. He is God, one, eternal. He does not beget, He is not begotten and He has no peer.

Menurut Bernard Lewis dalam The Crisis of Islam ayat tadi ditempel di Dome of Rock atau Qubbat As-Sakrah yang dibangun 47 tahun setelah balantentara Kalifah Umar menaklukkan Yerusalem pada 664, 12 tahun setelah Nabi Muhamad wafat.

Pembangunan monument pada situs Yahudi kuno dan berdekatan dengan dua katedral Katolik itu, memberi pesan kepada umat Yahudi, khususnya Katolik, bahwa ayat tadi merupakan wahyu yang menegaskan, Islam lebih benar dari pada agama kalian. “Just as the Jews had been overcome superseded by Christians, so the Christian world order was now to be replaced by Muslim faith and the Islamic caliphate.”

Namun, segala sesuatunya berubah ketika lebih dari satu millennium kemudian pasukan Sekutu Barat mendirikan pangkalan di jantung peradaban Islam di Semenanjung Arabia yang memicu Osama bin-Laden melancarkan aksi terror lewat Al-Aqaeda-nya.

Peradaban Lurus

Penulis mencoba beranalisa atas dasar tinjauan histografis, filosofis, dan psikologi politis dan pendekatan jurnalistik dalam beragumentasi apa yang melatarbelakangi krisis intelektual di negeri ini dan terobosan apa yang dapat dilakukan agar bisa keluar dari krisis intelektual yang melanda peradaban Islam dengan menggunakan tesis peradaban lurus (directional civilization) dan peradaban memutar (cyclical civilization) yang dikenalkan oleh Francis Fukuyama dalam The End of History and The Last Man.

Penulis menekankan pada bagaimana umat beragama — terutama para pemimpin dari berbagai agama — menerjemahkan ayat-ayat ilahi ke dalam kehidupan nyata di dunia.
Islam lahir ketika Kekaiseran Roma memudar dan Gereja Katolik berperan besar dalam menjaga agar obor peradaban di dunia Kristen Barat tetap menyala dari abad 5 sampai masa Renesans pada abad 15.

Ketika Kaiser Konstantinus (306-337 M) menjadikan Katolik sebagai agama negara, gereja Katolik secara tak disengaja berperan ganda: sebagai pemimpin spiritual dan pemimpin politis seperti terlihat dalam karya St. Agustinus The City of God yang intinya mengatakan, pemerintahan buatan manusia tidak layak. (Bryan Magge, The Story of Philosophy).

Timur Kuran dalam The Long Divergence: Why Islamic Law Held Back the Middle East mengatakan, Gereja Katolik menjadi rujukan bagi warga Kekaiseran Roma dalam pembuatan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga apabila sekelompok orang ingin membentuk organisasi, khususnya para pedagang.

Pada masa itu, dunia Timur Tengah di bawah kalifah Arab, Persia dan Turki, adalah yang paling kaya, paling berkuasa, paling kreatif dan paling cerah di dunia. Hal yang sama juga terjadi di Byzantium, wilayah timur Kekaiseran Roma ketika pendulum kekuasaan Kekaiseran Roma bergeser dari Roma ke Constantinople yang kini menjadi Istanbul.

Gereja Katolik, dengan bantuan seadanya dari balantentara penguasa Kekaiseran Roma, mati-matian mempertahankan diri dari serangan Islam Tartar di Rusia dan serangan Moorse di Spanyol. Dalam abad gelap itu, system kekuasaan di Eropa terbagi atas raja, paus, pastor paroki, dan tuan tanah.

Kelompok-kelompok ini terlibat dalam persaingan untuk meraih kekuasaan dan kondisi seperti ini memberi peluang kepada kaum saudagar membentuk kongsi dagang, artisan membentuk organisasi seni, dan kelompok kelas menengah lainnya memperkuat diri untuk bisa bargaining dengan kekuasaan formal.

“With the wealth that of companied to commerce and finance came education and literacy, research and innovation, and the rise of a class of individuals able and willing to challenge enduring traditions of dynasties and religious rule,” tulis Charles A. Kupchan dalam No One’s Nation.

Ketika terlibat terlalu jauh dalam urusan negara, Gereja Katolik mendeklarasikan dirinya sebagai sebuah lembaga independen atau korporasi berlandaskan hukum gereja atau canon law. Gereja Katolik merupakan penemu pertama lembaga korporasi non-profit. Enam ratus tahun kemudian tujuan dasar lembaga ini mengalami transformasi makna dari lembaga social non–profit corporation menjadi profit-oriented corporation.

Agar korporasi non-profit gereja ini dapat bertahan, rohaniwan yang piawai dalam bidang hukum menulis hukum yang disebut hukum gereja yang mengatur pengelolaan asset-aset gereja dan rekrutmen untuk menjadi rohaniwan dari tingkat pastor sampai paus. Motif untuk independensi Gereja Katolik lebih disebabkan oleh campur tangan raja, tuan tanah dan penguasa lainnya dalam menentukan siapa menjadi uskup dan/atau paus.

Penyakit sosial terbesar pada masa itu adalah korupsi. Atas dasar itu, Paus Gregory VII yang dikenal sebagai tokoh reformasi memberlakukan kehidupan selibasi (tidak menikah) bagi petugas dan pejabat gereja mulai dari pastor paroki hingga paus. Tujuannya, agar asset gereja tidak dijadikan warisan oleh kaum klergi.

Doktrin ini kemudian ditiru oleh Ottoman Empire dengan menjadikan pemuda Katolik dan Ortodox (dengan memaksa mereka memeluk Islam) di Turki menjadi tentara (janisaris) agar mereka fokus mengabdi Sultan. Tetapi konsep ini tak bertahan lama.

Gereja Katolik juga berperan aktif dalam menghidupkan kembali hukum Yustianus (Corpus Iuris Civilis) setelah mendekam selama 600 tahun di sebuah pustaka di Italia utara. Perpaduan kedua hukum ini (hukum agama dan hukum negara) merupakan dasar bagi konstitusi dan system perundang-undangan negara-negara modern sampai sekarang ini. “To this day, the Justinian Law Code remains the basis for the civil law tradition that practiced through out continental Europe and in other countries,” kata Francis Fukuyama dalam The Origins of Political Order.

Berbeda dengan Islam dan Yahudi, Gereja Katolik mendorong perkembangan seni, filsafat dan ilmu pengetahuan meski dalam tingkat-tingkat tertentu Gereja Katolik perlu menyaring, apakah cocok dengan posisi gereja seperti terlihat dalam kasus rohaniawan Nicolaus Copernicus dan karya filsafat St. Thomas Aquinas. Ada beberapa contoh lain yang tak bisa dituangkan di sini karena keterbatasan tempat.

Pada bidang filsafat misalnya, Gereja Katolik justru mendidik beberapa mahasiswa yang kemudian melawan gereja setelah mereka mengembangkan filsafat mereka sendiri. Gesekan-gesekan dalam tubuh gereja berpuncak pada pemberontakan Martin Luther, seorang biarawan dari Ordo St. Agustinus yang dikenal sebagai pendiri Protestantisme.

Dalam proses perpecahan itu terdapat dua sisi yang bertentangan: di satu pihak, proses itu menelan jutaan warga, dipihak lain mendorong terjadinya Pencerahan yang berujung pada Revolusi Industri dari (1750-1850). Kini, kedua agama itu membentuk ekumene yang kurang lebih berarti rujuk.

Dalam bidang seni, terutama seni musik, gambus Timur Tengah dikembangkan menjadi biola dan alqun menjadi piano. Karya besar komponis Wolgang Amedeus Mozart, Beethoven dan Johan Sebastian Bach hingga kini menjadi karya musik acuan. Dalam bentuk yang lebih revolusioner, karya Sebastian Bach menginspirasi Paul MCartney dalam menulis lagi Black Bird. Presiden Abdurrahwan Wahid adalah penggemar musik klasik dan Koes Plus dan God Bless adalah penerus The Beatles di Indonesia.

Dalam bidang sains, pencapaian manusia untuk menduduki Bulan pada paruh kedua dasawarsa 60-an merupakan prestasi luar biasa yang kemudian disusul dengan roket Cassini yang mendekatk e planet Saturnus beberapa waktu lalu setelah menempuhg perjalanan 16 tahun.

Dalam bidang korporasi pun demikian. Kongsi dagang Belanda, Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) mengenalkan konsep kongsi dagang yang kemudian diaplikasi dengan baik oleh etnis Tionghoa di Indonesia. Mereka mengenalkan apa yang disebut capitulation, sebuah istilah dagang yang dikenalkan VOC yang artinya kurang lebih seperti ini: Kalau mau berdagang dengan saya, ikut aturan saya. Capitulation juga mengalami transformasi makna dari mengalah (surrender) menjadi sejajar (partner).

Waktu Presiden Soharto menandatangani paket bantuan IMF pada tahun 1997, Indonesia berada pada posisi lemah. Capitulation dalam konteks ini, berarti Pemerintah Indonesia surrender. Waktu Pemerintah Indonesia dan PT Freeport bernegosiasi secara a lot, makna capitulation menjadi sejajar.

Pencapaian ini merupakan suatu proses perkembangan yang lurus dari sejak abad kuno Romawi, yang sempat pudar pada Abad Gelap, lalu dihidupkan kembali di masa Renesans.

Peradaban Lingkar

Banyak faktor yang menyebabkan peradaban Timur Tengah mengalami stagnasi. Meminjam istilah Francis Fukuyama, peradaban Timur Tengah — terutama Islam Arab – tidak mengikuti jejak Barat yang lurus (directional), melainkan melingkar (cyclical). Munculnya kalifah Umayah, Abasid, Fatimah, Mamluk, Salafid dan terakhir Ottoman merupakan hasil benturan di antara sesama dinasti Islam.

Salah satu penyebab utama adalah ketidakmampuan – lebih tepatnya keengganan kaum kadi (jurist) Islam untuk mengadaptasi hukum Sharia agar bisa mengakomodasi kenyataan-kenyataan baru yang merupakan hasil kreasi manusia. Kreativitas yang tinggi di Abad Gelap di Timur tengah tidak berlangsung lurus karena para ilmuwan Timur Tengah pada masa itu, tidak dihargai oleh para penguasa Islam.

Contoh terakhir terjadi pada abad ke-19 di Ottoman Turki. Para elite bisnis Turki sudah bersuara keras kepada pemerintah untuk memilih antara takluk kepada hukum bisnis (Prancis) atau mereformasi Sharia. Lambannya sikap penguasa Turki untuk mengambil keputusan menyebabkan perekonomian Turki tidak sanggup mengimbangi kecepatan perkembangan bisnis model Eropa.

Pada saat yang sangat kritis, barulah penguasa Turki melarang berbisnis dengan pengusaha barat. Dan pembebasan Turki dari sistem dagang capitulation dirayakan dengan hari libur nasional. Tetapi semuanya terlambat ketika Turki ikut dalam Perang Dunia I.

Menurut catatan Arab Human Report 2002 yang diprakarsai sejumlah pemikir progressif Arab, peradaban Islam yang melingkar itu, menyebabkan sejumlah defisit, yakni difisit kebebasan akibat tekanan pemerintah yang otokratis-teokratis. Defisit lain terlihat pada rendahnya kualitas pendidikan yang membelenggu perkembangan intelektualitas anak didik.

Orang yang Arab yang membentuk Islam enggan untuk melakukan inovasi karena mereka berpikir bahwa segala sesuatu yang ada dalam Kuran dan Sharia datang langsung dari Allah lewat Malekat Jibril. Sebaliknya, peradaban Kristen Barat sangat luwes dalam inovasi dan memetik produk dan buah pikiran dari orang lain tanpa menghiraukan tempat asal mereka, demikian tulis Timur Kuran.

Padahal, Kuran sudah mengatur sisi bisnis dalam musim naik Haji. “It is no sin for you to seek a bounty for your Lord by trading (Kuran 2:198). “May Allah accept your pilgrimage, condone your sins, and let you find a good market for your wores,” (Studies in Islam oleh Goinstein).

Latarbelakang ini mendorong saya dalam kapasitas sebagai penyiar VOA Indonesia untuk melakukan wawancara dengan beberapa Jemaah haji Indonesia dan diplomat Indonesia di Ryad ketika Jemaah Indonesia tak mendapat makanan selama 2 hari tahun 2010. Penyebabnya, kata seorang pengusaha makanan asal Makassar di Ryad, bisnis makanannya diambil-alih oleh keluarga Istana. (Ketika menyinggung keluarga Istana, dia meminta off the record).

Secara ringkas dapat dikatakan, lemahnya pemerintahan di Barat selama Masa Gelap mendorong kaum pedagang dan artisan untuk merongrong penguasa (self-undermining) dan pada saat yang sama melakukan transformasi (self-transforming).

Kuatnya ekonomi Timur Tengah pada masa jayanya yang kemudian melemah (dan sulit untuk bangkit kembali) karena penguasa dan ulama secara terus-menerus melakukan self-enforcing dan self-reenvorcing. Contoh. Ada dua tugu Titik Nol di Indonesia. Pertama di Aceh yang didirikan pada tahun 1997 dan kedua di Barus pada tahun ini.

Pesan Dari Barus

Jalan keluar paling mendesak adalah melaksanakan apa yang telah ditegaskan oleh Presiden Jokowi ketika meresmikan ketika meresmikan Tugu Titik Nol Peradagan Islam Nusantara di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara bulan Maret lalu. Pemilu presiden tahun 2019 sangat strategis untuk menetapkan apakah kita berkutat pada peradaban lingkar atau peradaban lurus. Apakah kita sanggup mentransformasi makna peradaban lurus yang mengacu kepada peradaban Barat dan menjadi peradaban lurus tadi menjadi peradaban Indonesia.

Hal ini penting karena Islam di Indonesia, kata Presiden Abdurrahman Wahid dalam wawancaranya dengan Robert D.Kagan untuk bukunya, Monsoon mengatakan, Islam is not yet finished, it is still in dialogue with itself and with other religions.

Apabila kita sanggup menempatkan diri secara baik, agama Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha maka Indonesia akan mampu mematahkan teori anthropologist Clifford Geertz yang mengatakan, In Indonesia, Islam did not construct a civilization, it appropriate one.

Jalan keluar jangka panjang adalah pendidikan. Sebaiknya Indonesia menerapkan pendidikan universal gratis dari tingkat dasar hingga menengah umum seperti di Amerika Serikat dan Jerman. Membangun gedung-gedung sekolah di atas lahan yang luas memungkinkan anak didik mengembangkan intelektual dan spiritual seperti olahraga dan musik dan science, mathematics, engineering, technology (SMET).

Untuk itu, nasihat filsuf asal Inggris John Locke perlu dihayati dengan baik. “Don’t unthinkingly follow authorities, whether intellectual or political, or religious. And don’t unthinkingly follow traditions or social conventions. Think for yourself. Look at the facts, and try to base your views and your behavior on how things actually are.”

Coba simak lagu Thinks for Your Self oleh George Harrison The Beatles. Ada kemiripan dengan pesan John Locke.

Untuk Pak Habib dan Pak Eggi: ada 114 ayat Kuran yang sangat bersahabat dengan Kristianitas dan Yahudi.

Penulis adalah wartawan senior dan pengamat Samawi. Tinggal di Washington DC Amerika Serikat. (Email: hgalut@gmail.com)