Cie…Cie…Gerindra-PKS-PDIP Bermesraan di Pilkada Jatim

IndependensI.com – Tidak ada lawan dan kawan yang abadi, hanya kepentingan yang abadi. Begitulah rumus memahami politik, karena politik adalah kepentingan sehingga sikap pragmatis yang dominan.

Hal ini penting untuk memahami hubungan antara Gerindra dan PKS yang merupakan rival PDIP namun di Pilkada Jawa Timur ketiga partai politik ini bisa rukun dan bekerja sama. Tidak lagi gontok-gontokan seperti pada waktu Pilkada DKI Jakarta yang sampai mengeksploitasi sentimen SARA demi meraih kursi gubernur dan wakil gubernur.

Para pendukung dan simpatisan PKS dan Gerindra seharusnya sadar bahwa mereka hanyalah alat atau penggembira yang akan dimanfaatkan para politisi dalam meraup suara. Apalagi Muslim Cyber Army atau Seracen yang rajin menebarkan berita palsu atau hoaks di media sosial, dipastikan akan diam seribu bahasa melihat fenomena kemesraan antara Gerindra, PKS dan PDIP. Seracen tidak memiliki amunisi karena kebetulan di Pilkada Jawa Timur tidak ada orang Kafir yang dicalonkan sebagai cagub dan cawagub dari PDIP.

Seperti biasa kedua partai politik baik Gerindra dan PKS melakukan pembelaan diri terkait dukungan pada calon gubernur dan wakil gubernur yang telah diusung PDIP dan PKB. Pembelaan diri para elite politik ini dilakukan untuk menenangkan para pendukungnya agar tetap menjadi suporter yang setia.

Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Ferry Juliantono menyatakan Gerindra memutuskan untuk mendukung pasangan calon Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dan Puti Guntur Soekarno. “Koalisi enggak gagal, justru sebenarnya sejak awal Gerindra, PAN dan PKS tidak memasukkan Provinsi Jatim sebagai kesepakatan koalisi,” kata Ferry. Sejak awal partainya memang memiliki kecenderungan mendukung Gus Ipul, sebab Provinsi Jatim tidak termasuk dalam kesepakatan koalisi Gerindra, PAN dan PKS.

Usai kegagalan poros tengah yang terdiri dari Gerindra (13 kursi), PAN (7 kursi) dan PKS (6 kursi) maka masing-masing anggota poros tengah segera bersikap pragmatis dengan mendukung dua pasangan calon yang sudah ada. Padahal untuk memajukan pasangan calon (paslon) gubernur dan wakil gubernur hanya dibutuhkan 20 kursi di DPRD. Dengan demikian koalisi Gerindra dan PAN sudah bisa memajukan paslon gubernur dawan wakil gubernur.

Hal ini bisa dipahami kenapa PKS adalah partai yang paling duluan kabur dari koalisi poros tengah dengan bergeser mendukung Gus Ipul. Sementara PAN memilih mendukung pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistyanto Dardak. Sedangkan Gerindra mendukung Gus Ipul-Puti. Bubarnya koalisi Gerindra dan PAN karena kandidat cagub yang siap diusung yakni Ketua Kadin Jawa Timur La Nyalla Mattalliti menolak memberikan amunisi atau mahar kepada Gerindra senilai Rp 150 miliar untuk mendapatkan rekomendasi dari DPP Gerindra.

Tanpa uang mahar ini PAN dan Gerindra patah arang. Koalisi Gerindra, PAN dan PKS layu di tengah jalan karena tidak ada kandidat yang berani membayar demi kepentingan mahar atau upeti.

PKS pun juga membela diri atas sikap pragmatisnya yakni mendukung calon yang didukung PDIP. Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid (HNW) menjelaskan hubungan antara partainya dan Gus Ipul. “Hubungan PKS dengan Gus Ipul lama dari tahun 2008 saat menjadi wagub untuk melawan PDIP dua kali, PKS. Untuk 2018, Gus Ipul sejak November 2017 beliau sudah ke PKS,” kata HNW.

Wow…, Yenny Wahid Bikin Prabowo Koper dan Baper

PKS juga berkilah para kiai dari Tapal Kuda Jatim mengimbau PKS mendukung Gus Ipul. Aktivis aksi 212 juga menyatakan dukungannya terhadap Gus Ipul. “Arahan kiai Tapal kuda dukungan PKS, mereka yang aktif di 212, agar mendukung Gus Ipul. Karena dukungan politik Gus Ipul sama, arahan ulama lihat prestasi Gus Ipul sebagai calon gubernur,” ujar HNW.

Hubungan mesra antara Gerindra, PKS dan PDIP ini menunjukkan semua parpol di Indonesia itu memiliki ideologi yakni pragmatisme politik. Hal ini perlu disadari sehingga tidak perlu para pendukung masing-masing partai politik gontok-gontokan di media sosial atau mengeksploitasi sentimen SARA. (Sigit Wibowo)

One comment

Comments are closed.