Kepala Sekolah Sebut Siswi Kristen Pakai Jilbab Karena Budaya Nasional

PEKANBARU (IndependensI.com) – Viral berita Siswi Kristen berjilbab di SMA Negeri 2 Rambah Hilir, Kabupaten Rokan Hulu – Riau . Sekalipun viral berita yang diliput IndependensI.com, Siswi Kristen di SMA Negeri 2 Rambah Hilir masih pakai jilbab.

Hendron Sihombing adalah orang tua siswi Febrina Chintya Sihombing Siswi SMA Negeri 2 Rambah Hilir, mengaku putrinya masih pakaian seragam jilbab Selasa 28 Augustus 2018.

“Putri saya masih pakai seragam jilbab hingga pagi tadi” ujarnya, Selasa (28/8/2018)

Padahal Kepala SMA Negeri 2 Rambah Hilir, Nurman, SPd yang menghubungi wartawan IndependensI.com pada tanggal 26 Augustus 2018 berjanji akan segera mengumumkan pada siswi tidak lagi pakai jilbab untuk Siswi Kristen.  Sebab Kepala Dinas Pendidikan sudah mengintruksikan supaya siswi Kristen tidak lagi pakai jilbab.

“Pak berita itu sudah viral, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi sudah menguntruksikan supaya saya segera memerintahkan pada Siswi Kristen tidak pakai jilbab besok” ujarnya, Minggu (26/8/2018).

Namun Independensi.com mengulang konfirmasi pada Selasa 28 Agustus 2018 mengaku bahwa Siswi Kristen belum lepas jilbab. “Lagi proses belum lepas jilbab, sebab tamu saya banyak” ujarnya

Nurman juga menjelaskan, bahwa Siswi beragama Kristen pakai jilbab adalah mengikuti kebiasaan budaya disekolah. “Siswi Kristen kan memakai jilbab Karena mengikuti kebiasaan budaya sekolah Selama ini, makanya mereka ikut-ikutan pada teman mereka,”kata Nurman.

Siswi Kristen Wajib Pakai Jilbab di Riau

Ditanya apakah jilbab itu budaya dari negara mana atau Indonesia, Kepala Sekolah ini menjelaskan bahwa jilbab adalah budaya nasional.

“Menurut saya ukuran dari sisi pendidikan itu adalah budaya nasional berasal dari banyak budaya, termasuk budaya daerah. Itu budaya nasional dalam konteks dunia pendidikan” ujarnya, Selasa (28/8/2018)

Sementara itu Wakil Ketua DPRD Riau, Kordias Pasaribu, menyangkal perkataan Kepala Sekolah Nurman, SPd. “Sejak kapan jilbab seragam sekolah itu jadi budaya nasional? Kapan disahkan jilbab budaya nasional?” ujarnya, Selasa (28/8/2018)

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Riau, Rudianto SH ketika dikonfirmasi IndependensI.com langsung ke kantornya tidak berhasil. Menurut stafnya, pimpinannya Pak Rudianto tidak ada dikantor.  “Bapak sudah keluar, tidak ada ditempat” kata salah seorang stafnya di bagian securiti. (Mangasa Situmorang)

21 comments

  1. saya juga merasakan hal seperti ini ketika saya sedang PPL di daerah tersebut dan hanya saya sendiri yang beragama non muslim di desa itu bahkan di tempat posko saya PPL

  2. Bibit radikalisasi sjk dini mmg sdh lama berlangsung di neferi ini.. Jgn kan di Riau..Sekolah2 negeri di Ibukota JKT pun demikian..

  3. Jangan Percaya Berita diatas isinya mengadu domba umat Islam & Kristen… 100% HOAX …

    1. Negara atau daerah/propinsi lamban dan cenderung korup karena banyak pejabatnya tdk kredibel/tdk pantas menduduki jabatan tsb…akhirnya kebijakan dan aturan dibuat sesukanya…

  4. Hoak atau bener sekolah Negri itu WAJIB menganut Bhinneka Tunggal Ika. Kalian lihat nggak berapa banyak TK, SD-SMA Negri jadi sekolah Yg mewajibkan budaya ARAB???? Bahkan Universitas Negri yg disusupi faham Radikal??? Mikir Coy….

  5. Kita harus membuat perbedaan, kerna kita memang bangsa indonesia yg memiliki beberapa agama sementara itu jilbab adalah lambang agama muslim bagi perempuan yg pungsinya untuk menutup aurat jadi mereka yg bukan beragama muslim tolong jangan dipaksakan itu namanya pemaksaan kehendak marilah kita menjunjung tinggi perbedaan itu kerna Tuhan Yang Maha Kuasa tidak membuat satu Agama di muka bumi ini.

  6. Budaya Nasional memang Salah satu dari bentuk Budaya. Tapi.. budaya diciptakan oleh Suku masing2 sejak awal sebelum Indonsia Merdeka. Dan brekrasi secara bertahap akibat Pengetahuan Manusia. Tapi.. cik ditiro Dari aceh sekalipun tidak pernah pakai jilbab walaupun aturan Islam sgt Ketat saat itu. JUGA Ra.Kartini bahkan sampai thn 90 Wanita Islam berjilbab masih sangat Jarang. Baru thn 2002 jilbab Dipaksakan utk dighunakan tiap waniita Muslim. Melalui kotbah bahkan dinyatakan tdk masuk surga. Yang menjadi Heran adalah Apakah Sudah di akui lembaga Ngara Bhw Jilbab adalah sbg Budaya Nasional Melalui dirjen Budaya. Atau hanya Pernyataan org 2 sudah Terpapar Ideologi Radikal.

  7. Dear Mangasa Situmorang,
    Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE, “Setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkena pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar”

  8. Yang “katanya” memperjuangkan keadilan dan kebenaran! Tapi berita nya ditaburi banyak bumbu!! 😅😅 lawak

  9. Benci banget ya sama SMA ini? Atau mugkin gak ada lagi bahan yang mau di posting? Kasihan demi uang anak sendiri di korbankan. Inget dosa om. Inget karma juga. Hoax kok di pelihara

  10. Biar banyak yang baca ya? Kasian amat keliatan banget gak punya duit nya sampai² berita hoax gini di sebar luaskan. Inget dosa dong! Pengen dapet duit anak yang jadi korban.
    Keluar aja lu dari sekolah itu.

  11. Sepertinya kepala sekolah ini tdk berada di negara berbineka yaitu indonesia. Tapi di negara lain.

  12. Kepala dinas dan kepala sekolah nya perlu di tatar lagi p4, biar otaknya tidak intoleransi, dan sdh sepantasnya di ganti, jangan ada lagi orang2 yg intoleransi yg menjabat di dunia pendidikan di Indonesia ini, harus di ingat Indonesia ini mengakui agama kristen

  13. Sebagai kepala sekolah harus sadar bahwa negara kita adalah negara Indonesia bukan Arab atau yahudi,dan saudara NURMAN bukan orang yg gak tahu kebudayaan ..pemerintah hrs bertindak adil dan setia dalam perkara yang kecil dan pasti persolan yg besat pasti bisa diselesaikan..hrs ditindak tegas

Comments are closed.