Pemaparan materi edukasi kesehatan Stop Merokok Agar Remaja Tangguh (SMART).
Pemaparan materi edukasi kesehatan Stop Merokok Agar Remaja Tangguh (SMART).

SMART Mendorong Terbentuknya Generasi Tangguh Tanpa Rokok

Loading

JAKARTA (IndependensI.com) – Bahaya merokok masih menjadi momok besar bagi kesehatan masyarakat Indonesia, terutama pada kelompok usia remaja. Merokok bukan hanya kebiasaan yang sulit dihentikan, tetapi juga pintu masuk berbagai penyakit kronis, termasuk kanker paru, kanker tenggorokan, hingga kanker mulut. Menyadari hal ini, dalam rangka mendukung upaya pencegahan kanker sejak dini, Mahasiswa Program Studi Ners Spesialis Keperawatan Onkologi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (UI) bekerja sama dengan Puskesmas Kelurahan Kramat Jati menggelar kegiatan penyuluhan kesehatan yang bertajuk SMART (Stop Merokok Agar Remaja Tangguh) di SMK Teknik 10 Nopember, Jakarta Timur.

Kegiatan yang diikuti oleh 50 orang pelajar ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja tentang bahaya merokok, baik rokok konvensional, shisha, maupun rokok elektronik (vape). Materi disampaikan secara interaktif menggunakan media presentasi, gambar, serta diskusi bersama, sehingga para siswa dapat memahami secara langsung kandungan berbahaya dalam rokok, seperti nikotin, TAR, arsenik, hingga formalin, yang berkontribusi besar terhadap timbulnya penyakit kanker paru, kanker tenggorokan, serta berbagai gangguan kesehatan lainnya

“Remaja adalah generasi penerus bangsa, dan harus dibekali dengan pengetahuan agar mampu membuat keputusan bijak. Melalui program SMART, kami ingin mengajak siswa untuk berani berkata tidak pada rokok, hidup lebih sehat, dan menjadi remaja tangguh yang peduli masa depan,” ujar Prof Yati Afiyati, S.Kep., M.Kep selaku dosen pembimbing FIK UI.

Penyuluhan juga menekankan pentingnya dukungan teman sebaya dalam menghentikan kebiasaan merokok. Para siswa diajak membuat komitmen bersama dengan menandatangani deklarasi SMART: Saya Berjanji untuk Katakan Tidak pada Rokok, Saya Mau Sehat, Kuat, dan Menjadi Remaja Tangguh.

Menurut data Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021, prevalensi perokok di Indonesia masih sangat tinggi, termasuk pada kelompok usia remaja. Kondisi ini menjadi perhatian bagi tenaga kesehatan, mengingat rokok merupakan faktor risiko utama kanker paru dan berbagai penyakit kronis lain yang sebenarnya bisa dicegah. Puskesmas Kramat Jati yang diwakili oleh Ns Julita Sibarani, S.Kep menegaskan bahwa upaya pencegahan kanker harus dimulai sejak usia dini.

Edukasi kepada siswa sekolah menjadi kunci agar mereka tidak terjerat pada kebiasaan merokok yang sulit dihentikan di kemudian hari. Dengan memahami bahaya merokok sejak dini, diharapkan mereka dapat menghindari rokok, demi hidup lebih sehat untuk masa depan. Adapun program upaya berhenti merokok di Puskesmas Kramat Jati merupakan salah satu pencegahan serta penanggulangan bahaya merokok.

SMART merupakan bagian dari upaya promotif dan preventif kesehatan yang difokuskan pada kelompok remaja. Acara yang dihadiri oleh 50 siswa, guru, serta tenaga kesehatan dari Puskesmas Kramat Jati. Dengan mengusung tema “Cegah Kanker Sejak Dini”, penyuluhan ini tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga mengajak siswa untuk membuat komitmen bersama dalam untuk tidak merokok.

Dalam sesi pembukaan materi penyuluhan edukasi kesehatan, Ns. Dimas Utomo Hanggoro Putro, S,Kep, M.N.Sc. memaparkan fakta tentang kandungan rokok dan bahaya merokok. Dampak rokok bagi kesehatan menjadi penyebab utama berbagai penyakit tidak menular. Kandungan zat berbahaya di dalam rokok sangat beragam, mulai dari nikotin yang bersifat adiktif, TAR yang merusak paru-paru, karbon monoksida yang mengurangi kadar oksigen dalam darah, hingga arsenik dan formalin yang dikenal sebagai zat karsinogenik penyebab kanker.

Bahkan, rokok elektrik atau vape yang sering dianggap lebih aman ternyata juga tidak lepas dari bahaya. Cairan dalam vape umumnya mengandung nikotin, logam berat, serta bahan kimia lain seperti akrolein dan asetaldehida yang dapat menimbulkan iritasi paru, bronkitis kronis, hingga risiko kanker paru. Fakta-fakta ini mengejutkan sebagian besar siswa yang selama ini beranggapan bahwa vape hanyalah “uap air” biasa.

Agar pesan kesehatan lebih mudah diterima, penyuluhan SMART menggunakan pendekatan interaktif. Siswa diajak berdiskusi melalui pertanyaan sederhana seperti “Mana rokok yang pernah kamu hisap?” atau “Apakah pemicu seseorang merokok?”. Mereka juga diperlihatkan gambar peringatan bahaya rokok dari WHO yang menampilkan dampak nyata, mulai dari kanker mulut, tenggorokan, hingga kerusakan paru-paru. Siswa diajak menyelami dampak rokok secara nyata dengan pemuTARan video Robby seorang perokok yang menderita kanker nasofaring. Robby mengatakan “Awalnya me rokok karena coba-coba sejak kelas 6 SD” “Saya menderita kanker laring stadium 3, harga sebungkus rokok yang murah, tidak sebanding dengan biaya pengobatan yang mahal”

Metode ini terbukti membuat siswa lebih aktif terlibat. Banyak yang mengungkapkan pengalaman pribadi, misalnya mencoba rokok elektrik karena rasa penasaran atau karena pengaruh teman sebaya. Diskusi tersebut kemudian diarahkan untuk menunjukkan bahwa keputusan berhenti merokok adalah langkah berani dan bijak bagi seorang remaja tangguh.

Salah satu siswa kelas XI, Fasli, mengatakan, “Saya baru tahu kalau vape juga berbahaya, ternyata tidak lebih aman dari rokok biasa. Mulai sekarang saya mau berhenti, apalagi setelah lihat contoh penyakitnya tadi.”

Selain sesi edukasi, kegiatan ini juga dilengkapi pemeriksaan kadar CO (karbon monoksida), menggunakan alat Smokerlyzer/CO Analyzer/CO Detector, yang digunakan untuk mendeteksi dan menganalisa keberadaan CO dalam pernafasan manusia dalam satuan part per million (ppm). Pemeriksaan kadar karbon monoksida (CO) dilakukan melalui tiupan nafas dan diukur kandungan CO dalam hembusan napasnya. Tujuan pemeriksaan ini membantu penilaian dan kontrol dampak akibat asap pada perokok aktif ataupun pasif. hasil pemeriksaan, pada zona hijau nilai 01-06 CO ppm, di zona ini terdapat kurang dari 1 % CO di dalam darah. Zona Orange nilai 07-10 CO ppm, zona ini mengindikasikan Perokok ringan atau Perokok Pasif atau seorang nonperokok, yang terekspose asap karena kondisi lingkungan yang buruk. Zona Merah nilai 11-30 CO ppm, di zona ini mengindikasikan Perokok Aktif dengan tingkat CO yang sangat tinggi di dalam darah. Siswa yang memiliki kadar CO di atas normal akan mendapatkan pendampingan dari UKS dan Puskesmas Kecamata Kramat Jati. Tes ini memberikan bukti objektif agar para siswa lebih termotivasi untuk berhenti merokok. Karena mereka bisa menyadari bahwa asap rokok benar-benar masuk dan merusak paru-paru.

Pemeriksaan CO analyzer para siswa SMK Teknik 10 Nopember, Jakarta Timur.
Pemeriksaan CO analyzer para siswa SMK Teknik 10 Nopember, Jakarta Timur.

Puncak acara penyuluhan ditandai dengan deklarasi secara simbolis komitmen bersama siswa dan Guru SMK Teknik 10 Nopember untuk Tidak merokok dengan meletakan cap telapak tangan pada selembar kain putih. Para siswa dengan lantang menyatakan komitmen SMART:

“Saya berjanji untuk katakan tidak pada rokok. Saya mau sehat, kuat, dan menjadi remaja tangguh.” Simbolik ini diharapkan menjadi pengingat sekaligus motivasi bagi mereka untuk konsisten menjaga kesehatan. 

Foto bersama siswa dan kepala sekolah SMK Teknik 10 Nopember, serta dosen dan mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan Spesialis Onkologi Universitas Indonesia.
Foto bersama siswa dan kepala sekolah SMK Teknik 10 Nopember, serta dosen dan mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan Spesialis Onkologi Universitas Indonesia.

Kepala sekolah SMK Teknik 10 Nopember menyambut baik kegiatan ini dan berharap program edukasi semacam ini dapat rutin dilakukan di sekolah, mengingat prevalensi merokok pada remaja Indonesia masih tinggi dan menjadi tantangan besar dalam pencegahan kanker.

Dengan semangat “Katakan Tidak pada Rokok, Katakan Ya pada Hidup Sehat”, penyuluhan SMART diharapkan menjadi langkah awal menciptakan generasi muda yang lebih sadar kesehatan, bebas rokok, dan siap menghadapi masa depan dengan penuh energi positif. Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa Residensi Onkologi Fakultas Ilmu Keperawatan Universita Indonesia sebagai tim penyelenggara penyuluhan kesehatan. “Program seperti ini sangat penting karena menyentuh langsung persoalan yang nyata di kalangan remaja. Kami berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.”

(Penulis : Ns. Nita Anggraini, S.Kep, M.Kep)

About The Author