Denis Fela al Isra (Toto Prawoto)

Denis Fela al Isra: Kembali ke “Habitat” Lama

JAKARTA (IndependensI.com) – Lingkungan yang telah membentuk dan sekaligus membangun karakter seseorang memang sering kali mengusik “ketenangan” dan “kedamaian”-nya terutama saat seseorang tersebut berada jauh dari “habitat” yang telah membesarkannya.

Itulah yang dialami Denis, demikian sapaan akrab Teaching Pro kelahiran Sawangan, Depok, Bogor Jawa Barat, 1 Maret 1990, saat berbincang-bincang dengan IndependensI.com di sela-sela kegiatannya mengajar pegolf junior di National Golf Institut yang berada di Driving Range Pondok Indah, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Alumni Fakultas Ekonomi Tri Sakti 2008-2012 Grogol, Jakarta Barat, ini – setelah lulus – pun pernah bekerja di bank asing ternama yang membuka cabangnya di Indonesia yang berkedudukan di Jakarta.

Denis bekerja di bagian marketing, karena dia memiliki keahlian di bidang golf – di samping didukung latar-belakangnya sebagai Sarjana Ekonomi.

Melalui golf, Denis mendapat tugas untuk mencari calon nasabah dan sekaligus me-”maintenance” client yang secara resmi telah menjadi nasabah di bank asing tempat dia bekerja.

Akan tetapi, dalam perbincangan santai dengan IndependensI.com, anak kedua dari empat bersaudara yang semuanya laki-laki, itu secara jujur mengaku bahwa “passion” dia bukan menjadi orang kantoran.

“Saya lahir, besar dan tumbuh menjadi seperti sekarang ini, dari keluarga golf. Di dalam keluarga kami, hanya Ibu yang tidak bermain golf,” katanya.

Denis Fela al Isra memberi petunjuk cara melakukan backswing yang benar kepada pegolf junior di NGI Pondok Indah Golf Club.

Anam, sang ayah, adalah teaching pro yang pernah dikontrak oleh perusahaan Amerika yang bergerak di sektor minyak dan gas yang berkedudukan di Pekanbaru, Riau, untuk mengajar golf di lingkungan keluarga yang orangtuanya bekerja di perusahaan asing tersebut.

Alga, sang kakak, selain menekuni profesi sebagai teaching pro, juga dikenal sebagai pelatih golf nasional yang menghantarkan pegolf pelajar Indonesia menjadi juara umu cabor golf di Asean School Games yang berlangsung di Brunei Darussalam beberapa tahun lalu, dan menghantarkan tim golf Sea Games Indonesia di arena SEA Games 2017 Malaysia yang berhasil merebut satu medali perak dan satu perunggu dari nomor individual putri dan beregu putra.

Sedangkan kedua adiknya, masing-masing Fahmi dan Abi, saat ini pun masih aktif menggeluti golf.

Fahmi, alumni Universitas Bina Nusantara (BINUS) jurusan Marketing Kunikasi adalah profesional golfer yang sangat aktif mengikuti Indonesian Golf Tour (IGT) dan Asian Development Tour (ADT).

Sementara si bungsu Abi, selain dikenal sebagai salah satu pegolf amatir andalan Pengprov PGI Banten, namanya juga tercatat sebagai mahasiswa Universitas Indonesia Fakultas MIPA jurusan Geografi semester 5.

Abi adalah pegolf yang berhasil membukukan skor Best Gross Overall di ajang kejuaraan golf Menpora Cup I di Emeralda Golf Club, Cimanggis, Depok, Bogor tahun lalu.

Denis, yang menjadi salah satu anggota dari “Family Golf”, lebih dari dua tahun meninggalkan “habitat” lamanya.

Kenapa? Karena, ternyata, seperti yang kemudian diungkapkannya saat berbincang-bincang dengan IndependensI.com, Denis merasa tidak nyaman menjadi orang kantoran.

“Ketidaknyamanan yang saya rasakan… terus terang saja… tidak ada hubungannya dengan gaji yang saya terima tiap akhir bulan.Sama sekali tidak!” katanya menegaskan tanpa menyebut berapa gaji yang diterimanya.

”Yang jelas, sebagai orang yang baru pertama kalinya bekerja di lingkungan perbankan, gaji yang saya terima lumayan-lah jumlahnya,” tambahnya.

Tapi, katanya lebih lanjut, yang membuat dia tidak nyaman dikarenakan dia selalu “mendua” pikirannya. Apalagi kalau dia melihat ayah, kakak dan kedua adiknya berada di golf course sedang melatih dan berlatih, dia gelisah memikirkan apakah harus tetap menjadi orang kantoran atau kembali ke “habitat” lamanya menjadi bagian dari “Family Golf”.

Dia paham betul bahwa bersikap “mendua” tidak akan menghasilkan karya yang optimal.Hidup memang sebuah pilihan – apalagi kalau didasari oleh suatu keyakinan bahwa satu dari dua pilihan tersebut (antara menjadi orang kantoran dan kembali ke “habitat” lamanya sebagai bagian dari “Family Golf”) dipilih dengan penuh kesadaran, niscaya akan membuahkan hasil yang positif. “Akhirnya, setelah anak pertama lahir, saya memutuskan mundur dari tempat saya bekerja,” kata Denis.

Tentu saja keputusan yang dia ambil menimbulkan konflik khususnya dengan Megayanti Permata Sari — istri yang sangat dicintainya. Tapi, setelah dijelaskan alasannya serta ilustrasi tentang kehidupan di masa yang akan datang yang didasari oleh fakta dan data yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan, Megayanti Permata Sari – sang istri – teman Denis semasa masih duduk di bangku SMP Negeri 1 Pamulang, akhirnya menerima keputusan yang telah diambil oleh suaminya dengan lapang dada.

“Padahal, selama saya menjadi orang bank, saya beberapa kali mengikuti internal training yang berhubungan erat dengan bidang pekerjaan saya di bank tersebut… Dan, kata orang-orang yang pernah bekerja di bank, kalau saya sudah diikutsertakan dalam internal training, itu adalah pertanda bahwa saya, cepat atau lambat, akan dipromosikan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi.”

“Itu kata orang yang pernah bekerja di bank… Lalu, promosi jabatan seperti apa yang nantinya akan diberikan kepada saya, saya juga tidak tahu… Karena saya sudah mengundurkan diri.”

Denis kemudian tersenyum sambil menambahkan bahwa betapa pun singkatnya dia bekerja di bank asing tersebut, dia tidak akan pernah bisa melupakan jasa orang yang pernah menolong dan sekaligus merekomendasikannya sampai akhirnya Denis bisa bekerja di bank asing yang, bagi para calon pencari kerja – bekerja di bank asing adalah sebuah impian yang sangat didambakan.

“Setelah secara resmi mengundurkan diri, apakah Denis tidak menyesal?”

Pertanyaan yang diajukan oleh IndependensI.com ini langsung dijawab: “Tidak!” Setelah sejenak menghela nafas, Denis melanjutkan kata-katanya, “Mungkin bagi sementara orang akan menilai bahwa keputusan yang saya ambil adalah keputusan yang terlalu berani… Apalagi kalau hal tersebut dikaitkan dengan kelahiran anak pertama saya…”

“Tapi, syukur alhamdullilah, sampai sekarang kehidupan rumah tangga kami aman-aman saja … Bahkan kami sekeluarga… bukan hanya keluarga kami saja… bisa mempunyai toko yang khusus menjual peralatan dan perlengkapan bermain golf yang diberi nama Family Golf, yang tempatnya menyatu dengan Driving Range Pondok Cabe, Ciputat, Tangerang Selatan.”

Sebagai Teaching Pro murid Denis kebanyakan orang kantoran. Selain perorangan, ada juga yang berasal dari korporasi.

Jika di antara mereka ada yang ingin lebih bersungguh-sungguh menekuni olahraga golf sebagai sarana untuk melakukan “lobby” khususnya bisnis, mereka mengambil privat dan mereka bisa menentukan di driving range mana mereka practice di bawah bimbingan Denis.

Orang-orang kantoran dan korporasi yang belajar bermain golf di bawah bimbingannya, tidak sedikit adalah orang-orang yang dikenalnya saat Denis masih menjadi bagian komunitas perbankan.

Dalam obrolan santai dengan IndependensI.com beberapa waktu lalu Denis mengaku bahwa “jam kerja” yang dilakoninya sebagai Teaching Pro tidak terlalu mengikat.

Tapi, saat obrolan menyinggung tentang income yang diperolehnya setiap bulan, Denis tidak bersedia mengungkapkan secara rinci.Dia hanya mengatakan bahwa penghasilan yang diperolehnya sejak dia kembali ke “habitat” lamanya “cukup untuk menunjang kehidupan sehari-hari bersama istri tercinta dan anak kesayangannya”.

Karena tidak terikat oleh jam kerja, Denis bisa lebih menikmati kehidupannya sebagai Teaching Pro.

Meskipun begitu bukan berarti anak kedua dari empat bersaudara yang berasal dari “Family Golf” ini lantas mengabaikan disiplin.

Justru disiplin itu berada di atas segalanya saat dia tengah membimbing para murid, yang sebagian besar di antara mereka usianya jauh lebih tua daripada usia Denis sendiri.

Denis, yang mencerap ilmu kepelatihan golf dari ayahnya, setiap saat bisa bertanya kepada sang ayah terutama bila dia menemukan kendala di lapangan, khususnya yang berhubungan dengan proses “belajar mengajar” golf di kalangan para beginner.

Hasilnya?

“Alhamdullilah semuanya berjalan lancar seperti yang diharapkan, dan sungguhpun usia saya jauh lebih muda dibandingakan dengan murid saya, mereka tetap memperhatikan setiap kali saya memberikan putunjuk atau pengarahan seperti layaknya seorang guru…”

“Misalnya, posisi berdiri dan ancang-ancang yang benar itu bagaimana saat akan back swing, sehingga bola yang dipukul bisa lurus dan jauh… dan lain-lain.”

Denis mengaku lebih banyak melatih pegolf pemula atau beginner sampai akhirnya mereka benar-benar bisa bermain golf.

Namun, sejak beberapa waktu lalu nama Denis tercatat sebagai pelatih junior di National Golf Institut (NGI) yang beralamat di Pondok Indah Golf Club, Jakarta Selatan.

Selain menjadi teaching Denis juga pegolf profesional yang berkompetisi di Indonesia Golf Tour (IGT).Tapi, karena kesibukannya sebagai Teaching Pro, dia jarang mengikuti tour lokal yang berada di bawah payung hukum IGT.

Meskipun begitu, sepanjang ada waktu luang di luar kesibukannya sebagai teaching, Denis tetap ikut berkompetisi di lokal tour IGT, untuk memperbaiki rankingnya. (Toto Prawoto)