Rencana Pemindahan Kedutaan AS ke Yerusalem, Dasar Pertimbangannya adalah Teologis

Loading

Oleh : Herman Hakim Galut

IndependensI.com – Dalam ulasan ini, penulis tak mengulangi berbagai polemik dan berita seputar rencana pemindahan kantor Kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem seperti yang diumumkan Presiden AS, Donald Trump, baru-baru ini.

Yang muncul ke permukaan adalah hal yang itu-itu saja: ketidaksetujuan sejumlah negara – terutama negara-negara Islam dan/atau negara sekular dengan jumlah penduduk mayoritas Muslim, terhadap rencana itu. Alasannya, Yerusalem adalah kota suci untuk tiga agama monoteis: Yudaisme, Kristianitas, dan Islam.

Sudah menjadi pengetahuan khalayak bahwa ketiga agama monoteistik itu bersumber pada kitab suci yang sama, yakni Taurat. Secara teologis, percekcokan yang terjadi sekarang ini, lebih berakar pada kesamaan dan ketidaksamaan iman tentang kedatangan Mesias atau Juru Selamat atau Mahdi.

Taurat mengimani bahwa sosok Mesias yang masih dinanti-nantikan itu adalah seorang raja (kingly). Kristianitas mengimani bahwa Mesias yang dinanti-nantikan itu adalah Yesus Kristus sendiri dalam kapasitasnya sebagai imam (priestly). Islam dalam Hadis Sahih Muslim 287 menyebutkan “Prophet Isa (Yesus Kristus) will have an important role in the end of times. He (Yesus) akan membunuh Dajjal (Evil One), seorang tokoh anti-Kris pada akhir zaman.

Jessica Stern dan J.M. Berger dalam ISIS, The State of Terror menulis hari kiamat sudah datang atau sebentar lagi akan datang. Dalam sebuah jajak pendapat PEW tahun 2012 disebutkan kebanyakan negara-negara di Timur Tengah, Afrika Utara dan Asia Selatan, percaya bahwa mereka akan menyaksikan kedatangan Mahdi.

Sejumlah ustat di Indonesia dengan penuh semangat menjelaskan tentang Dajjal. Tanda-tanda akhir zaman itu, terlihat pada gejala alam seperti mengeringnya Sungai Tigris dan Sungai Eufrat serta Danau Tiberias di Israel. Dari pantauan penulis, ustat-ustat tadi tidak menyebut sedikitpun tentang kedatangan Isa (Yesus Kristus).

Hadis Sahih tadi merupakan penafsiran dari Al-Maidah 5:110 yang mengatakan: “(Remember) When Allah will say (on the day of Resurrection): “O Jesus, son of Mary! Remember my (Allah’s) favor to you and to your mother when I (Allah) strengthened you with spirit of the holy (Gabriel), you spoke to the people in the cradle and in maturity, and when I (Allah) taught you the book and the wisdom, and the Torah and the Gospel, and when you made from clay like the figure of the bird by my (Allah’s) permission, and you breathed into it became a bird by my (Allah’s) permission you healed the born-blind and lepers by my (Allah’s) permission when you raised the dead by my (Allah’s) permission, when I (Allah) restrained children of Israel from you when you come to them with clear proofs, and those who disbelieved among them said: this is nothing but he clear magic.”

Kesinambungan teologis antara Yudaisme dan Kristianitas tidak tergambar dalam Islam. Mark Durie, dalam The Myth of Islamic Tolerance mengatakan “Islam regards itself, not as a subsequent faith of Judaism and Christianity, “but as the primordial religion, the faith from which Judaism and Christianity are subsequent developments.”
Al-Quran menyebut bahwa Abraham (Ibrahim) was not a Jew nor a Christian, but he was a monotheist, a Muslim (Al-Imran 3:66). So, it is Muslim, and not Christian or Jews, who are the true representatives of faith of Abraham to the world today (Al-Baqarah) 2:135).

Pandangan teologis Islam ini mendapat kecaman dari teolog Yahudi karena menurut mereka, Abraham tidak pergi jauh hingga ke Mekah atau tempat lain di Gurun Arab karena jaraknya terlalu jauh. Menurut mereka, kedatangan wahyu Islam yang disampaikan Malaikat Gabriel kepada nabi Muhamad SAW berlangsung ketika usia Taurat sudah memasuki tahun ke-3000 , terhitung sejak 1088 SM dan ketika Kristen memasuki tahun ke-600. Atas dasar itu, Mark Durie mengatakan “Islam appropriates the history of Judaism and Christiniaity to itself.”

Pernyataan Durie bisa terlihat dalam silsilah dari Adam sampai Yesus Kristus. Tak ada nabi yang menghubungkan Abraham dengan Nabi Muhamad SAW. Jadi, Islam langsung datang dari Abraham kepada Nabi Muhamad SAW dengan meng-Islamisasi semua nabi dari Adam hingga ke Yesus Kristus. Dalam tradisi Kristen, silsilah keturunan dicatat dengan teliti. Misalnya, dari Raja David hingga Yesus Kristus, terdapat 14 generasi.

Kalifah Israel
Yudaisme memiliki iman tersendiri terhadap kedatangan Mesias. Terbentuknya Israel sebagai negara berdaulat di wilayah yang disebut Palestina merupakan proses menuju akhir zaman. Dalam prose s itu, Israel menghadapi tantangan luar biasa dari negara-negara Islam. Pembentukan Israel pada tahun 1948 itu merupakan ulangan dari kejadian serupa di masa silam seperti terlihat dalam pembuangan orang Yahudi ke Babel yang kemudian kembali ke Yerusalem untuk membangun Kanisah Salomon. (Buku Ezra dalam Perjanjian Lama).

Ribuan tahun kemudian, orang Yahudi diusir dari Palestina oleh Kekaiseran Roma pada 121 M. Istilah yang digunakan bukan lagi pembuangan tetapi diaspora. Dalam diaspora selama 2000 tahun itu, bangsa Yahudi yang tersebar ke seluruh pelosok bumi itu, tetap menjadikan Taurat sebagai panduan dan pusat pembelajaran. Ketika Eropa memasuki era Pencerahan di abad 16 dan 17, orang Yahudi di Jerman dan Inggris mulai memikirkan perlunya sebuah negara Israel di wilayah yang sudah tertulis dalam Taurat.

Pemikiran ini datang dari tiga filsuf terkemuka yakni John Locke (1632-1704-Inggris), Voltaire (1694-1778) dan Rousseau (1712-78). Kedua terakhir itu dari Prancis. Pemikiran ketiga filsuf itu barulah diwujudkan oleh Theodor Herzl pada pada abad 19 lewat gerakan Zionisme. (Sebagai catatan, pencerahan di Indonesia terlihat dalam gerakan Politik Etis). Jadi, pergulatan bangsa Yahudi terus berlangsung secara konstan mulai dari turunnya 10 perintah Allah kepada Moses di Gunung Sinai. Konsep Mesianisme Yahudi sangat terkait dengan kejadian biblis di masa Moses.

Pergolakan itu juga terlihat dalam peta keagamaan di Israel yang tidak solid seperti yang kita bayangkan. Wartawan New York Times, Thomas Friedman dalam From Beirut to Jerusalem mendapati beberapa kelompok sekte di Israel. Pertama adalah sekular. “For the secular Zionist, being back in the land of Israel, erecting a modern society and army, and observing Jewish holidays as national holidays, all become a substitute for religious observance and faith. In Israel, they said, the sky is Jewish, basketball is Jewish, the state is Jewish, and the airport is Jewish, so who needs to go to synagogue? Kelompok ini berjumlah 50% dari total penduduk Israel.

Kelompok kedua adalah Zionis yang mendukung negara Zionis namun menekankan bahwa negara bukanlah pengganti sinagoga. Mereka percaya negara dan sinagoga adalah kompatibel. Kelompok ini berjumlah 30% dari total penduduk.
Kelompok ketiga adalah adalah Zionis religious yang lebih condong kepada Mesianisme di Gunung Sinai.

Bagi mereka, kelahiran kembali Israel bukan semata peristiwa relijius tetapi merupakan titik awal yang berpuncak pada kepada kedatangan Mesias. Kelompok inilah yang paling bergairah dan bersemangat ketika Presiden Trump mengumumkan rencana pemindahan kedutaan AS ke Yerusalem. Menurut pandangan mereka negara adalah alat yang diperlukan untuk menyambut kedatangan Mesias.

Kelompok keempat adalah Haredim (15%). Meski sangat fanatic, Haredim tidak melihat kelahiran Israel sebagai peristiwa religi yang penting. Mereka percaya, negara Yahudi baru akan sangat agamis hanya setelah kedatangan Mesias dan hukum Taurat diterapkan secara total di seluruh dunia.

Dari sudut ini, Yudaisme dan Islam memiliki kerinduan yang sama, yakni menerapkan hukum agama (Taurat dan Syariat) di bawah kalifah Israel dan Islam. Atas dasar itu, filsuf Jerman Georg Wilhem Friedrich Hegel menilai Kristianitas sudah jauh lebih modern dan cakupan pengaruhnya sampai ke pelosok dunia dalam tatanan hukum (positif) dan pemerintahan (demokratis) global. Hukum dan format bangsa-negara (nation-state) yang berlaku di seluruh dunia adalah warisan Roma dan Kristen. “Demokrasi,” kata Hegel,” adalah sisi sekular dari agama Kristen.” (Philosophy oleh Bryan Maggie)

Super Story
Kelahiran Israel menegaskan kembali kekuatan nubuat dari Taurat (Perjanjian Lama) dan Injil (Perjanjian Baru). Wartawan The New York Times, Thomas Friedman dalam buku yang sama mengungkapkan reflex masa lalu yang muncul pada masa kini dan kecanggihan teknologi masa kini yang tetap mengimani kisah suci masa lalu.

Ceriteranya seperti ini. Mobil Thomas berada di belakang sebuah Opel yang dikendarai oleh seorang pemuda Yahudi. Tiba-tiba seorang remaja Palestina muncul dari semak-semak dan menghadang Opel tadi. Ketika Opel itu berhenti, sejumlah remaja Palestina mengetapel Opel tadi sampai kacanya berantakan.

Pemuda Yahudi keluar dari mobil dan mengambil M-16. Dia mengejar remaja Palestina tadi ke semak-semak. Pada titik tertentu, pemuda tadi terhenyak ketika melihat sekelompok ibu Palestina memukul-mukul domba-domba mereka seraya berteriak dalam Bahasa Arab.

Keterhenyakan pemuda Yahudi tadi disebabkan oleh kesaksian bahwa aksi pemukulan domba-domba merupakan reinkarnasi dari persembahan anak Abraham kepada Tuhan. Islam percaya bahwa yang dikorbankan Abraham adalah Ismail, putera sulung Abraham dari isteri kedua Hagar, orang Etiopia.

Namun, Al-Quran tidak menyebut nama Ismail dalam ayatnya. Perjanjian Lama menyebut secara tegas bahwa yang dipersembahkan adalah Isak, anak kedua Abraham dari isteri pertama Abraham, Sarah.

Astronot Neil Armstrong adalah seorang Kristen yang taat. Dia menngunjungi Kota Tua Yerusalem. Dia didampingi arkeologis Israel, Meir Dov. Ketika keduanya tiba di Temple Mount, Armstrong bertanya kepada Dov apakah Yesus pernah menaiki tangga menuju Temple Mount. “Look, Jesus was a Jew. These are the steps that lead to the Temple. So, he must have walked here many times. “So Jesus stepped right here? Tanya Armstrong lagi. “I have to tell you, I am more excited stepping on these stones than I was stepping on the moon.”

Pemberitaan mengenai Israel pun mendapat perhatian besar dari media Barat, terutama Amerika karena Israel merupakan ujud dari evolusi peradaban yang terus berlangsung secara konstan dalam bentuk yang beranekaragam seperti Pembuangan Babilonia dan Diaspora serta kelahiran kembali Israel.

Menurut Thomas, di dunia Kristen, super story yang paling akrab adalah Injil. Ceritera-ceriteranya, tokoh-tokohnya, nilai-nilainya membentuk lensa utama lewat mana umat Kristen melihat dirinya sendiri dan pandangannya tentang dunia (world view). Ikhwal yang sama juga terjadi pada dunia Islam. Belakangan ini memang ada persoalan sehubungan dengan aksi terror yang sudah menelan ribuan nyawa.

Penulis tidak bermaksud mendukung atau menolak rencana Presiden Trump untuk memindahkan Kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Penulis lebih melihat bahwa dukungan AS terhadap pemindahan itu, merupakan reinkarnasi dari dukungan Nebuzadnezar, penguasa Babilonia ketika dia menyuruh orang Yahudi kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali ke kota itu. Nebuzadnezar memerintahkan rakyatnya untuk memberi sumbangan kepada orang Yahudi sebagai bekal dalam perjalanan pulang ke Yerusalem.

Jadi, apa yang terjadi di Yerusalem sekarang ini, termasuk rencana pemindahan Kedutaan AS ke Yerusalem, merupakan kaleidoskop yang membentang dalam sejarah peradaban bangsa Yahudi dalam 3000 tahun terakhir. Benar seperti kata pepatah Inggris: “There is nothing new under the sun.”

*Penulis adalah Wartawan, Pengamat Samawi tinggal di Washington DC, AS.